Seperti apa rasanya ditinggalkan? Tak ada kata yang benar-benar bisa menggambarkannya, dan ini bukan kebetulan saja. Kita tak biasa membicarakan patah hati secara terbuka. Mungkin karena malu, mungkin karena takut kembali luka. Dan kamu tak akan bisa mengerti rasanya kecuali pernah mengalaminya.

Jadi tentu saja kamu tidak memahami kenapa aku meracau seperti ini, kenapa masih sulit buatku untuk menganggapmu “teman” sampai kini. Lagipula, mana ada “teman” yang membuat komradenya sendiri patah hati, eh? Teman ada untuk saling menjaga, bukan justru meninggalkan tiba-tiba.

Tidak apa-apa. Terserah saja. Memang sudah keputusanmu, dan jika begitu, aku bisa apa?

Tenanglah, suatu saat nanti toh kamu akan tahu. Kamu salah telah meninggalkanku.

Padamu aku sempat percaya. Bagaimanapun, dalam banyak hal kamu adalah yang pertama

Dalam banyak hal, kamu yang pertama via isabelafreitas.com.br

Advertisement

Siapa di antara kita yang pertama kali memulai pembicaraan? Siapa pula yang menawarkan waktu temu dengan berbagai alasan, dari yang menarik senyum hingga tak masuk di akal? Siapa yang pertama kali memberi keyakinan bahwa kita memang lebih baik bersama? Tak usah dijawab dengan suara, namun kuharap kamu tidak lupa apa jawabannya.

Padamu, aku sempat percaya. Bagaimanapun kita pernah membuat satu sama lain bahagia. Kamu adalah seseorang yang, dalam banyak hal, adalah yang pertama. Tak ada yang akan bisa mengambil posisi itu darimu mau bagaimanapun juga.

Orang sepertimu mungkin tipe manusia yang paling mudah lupa. Sedangkan aku, mana bisa? Hingga saat ini aku masih mengingat dengan jernih detil-detil kecil dari perjumpaan kita. Ke arah mana pandanganmu saat dirimu mengakui perasaan untuk pertama kalinya; bagaimana dirimu tertawa; nada bicaramu saat bercerita tentang masa lalu, dalam hati mengharapkan aku di masa depanmu.

Mungkin aku berharap terlalu banyak. Tapi mungkin juga kita memang bahagia, sampai kamu tiba-tiba mengakhirinya

Kita pernah bahagia via fashion.healthdailyheadlines.com

Apakah selama ini aku saja yang berharap terlalu banyak? Mungkin. Jika dibandingkan, kadar perasaan kita mungkin tidak akan sama dalamnya. Bisa saja aku memang memberimu lebih banyak cinta sedangkan kamu hanya pernah memiliki rasa suka. Bisa saja, tindakan-tindakan manis yang pernah kamu lakukan tanpa kuminta toh kamu lakukan dengan terpaksa. Bisa saja kamu memulai ini dengan keyakinan yang sama, dan entah apa yang kulakukan sepanjang perjalanan sementara kamu memutuskan untuk tak bisa lagi melanjutkannya. Bisa saja.

Tapi mungkin juga sebaliknya. Mungkin bukannya aku yang terlalu banyak menabung asa. Mungkin saja, sebenarnya kita memang bahagia — sebelum dirimu entah atas dasar apa menyudahinya.

Ah, kamu memang tak pernah benar-benar menjelaskan kenapa. Alasan yang disodorkan padaku adalah cerita normatif yang tak utuh sempurna. Pertama kali mendengarnya, aku terlalu kaget untuk mencoba bertanya dan mencari tahu yang sebenarnya. Dan sekarang? Entahlah. Mungkin aku sudah tak tertarik lagi mendengar cerita utuhnya.

Kamu telah kehilangan setulus-tulusnya pendampingan. Takkan kubuang waktu hanya untuk meneruskan harapan

Tak akan ada lagi ini. via assimpleasl0ve.tumblr.com

Sekarang, di antara kita, kamulah yang terlihat lebih kuat dan baik-baik saja. Wajar, karena bukan kamu di antara kita yang ditinggalkan tiba-tiba. Entah sudah berapa lama kamu mempersiapkan diri untuk pergi dari hubungan ini. Yang jelas di akhir hari, dirimu jauh lebih siap dibandingkan aku yang memang tak pernah menyangka ini.

Tapi asal tahu saja. Di antara kita, kamulah yang lebih banyak kehilangan dengan memutuskan menyudahi hubungan. Ini adalah keputusan sekali seumur hidup. Tak ada apapun yang bisa kamu lakukan untuk menghidupkan kembali bagian sukmaku yang meredup karenamu. Dan jika sekarang kamu masih terlalu naif untuk mengerti, akan ada saatnya kamu menyadari, akulah yang memberimu pendampingan tulus selama ini.

Bukan kini, tapi nanti. Dan ketika momen itu akhirnya mendatangi, jangan repot-repot berbalik arah dan mencari. Untukmu aku takkan ada lagi.

Kita berdua akan baik-baik saja. Namun hanya salah satu dari kita yang akan menyesali perpisahan yang ada.

Bukan aku. via wewonder.dk

Jangan cemas, aku bukan gadis penuh dendam yang mendoakanmu tertimpa kejadian mengerikan. Aku pun tak pernah mau kamu kembali padaku sembari memohon meminta belas kasihan. Satu detik setelah kamu menyatakan akan pergi, aku sudah mengambil posisi: padamu, aku akan berhenti peduli.

Karena aku masih punya orang-orang selain dirimu yang kucintai dengan tulus hati. Masih ada masa depanku yang ternyata jauh lebih penting untuk diberi dedikasi. Bagaimana rasanya ditinggalkan? Kau tak akan mengerti, dan aku tak akan repot-repot memintamu memahami. Terima kasih telah menunjukkan padaku betapa mudahnya dirimu mengakhiri sesuatu. Aku tidak butuh sosok seperti itu.

Akan ada saatnya nanti, kamu bertanya-tanya apa kabarku. Bijak dan bajikkah keputusanmu meninggalkan seseorang yang bersedia dengan tulus mendampingimu. Kamu akan melintasi tempat-tempat yang pernah berarti bagi kita, berandai kita masih bersama. Kau akan bernostalgia, mengejutkan diri sendiri dengan menyadari bahwa aku lebih banyak membuatmu bahagia.

Hanya salah satu dari kita yang akan menyesali terjadinya perpisahan ini. Dan aku berjanji, hari demi hari, yang akan kulakukan hanyalah menjadi lebih tidak peduli.

Suatu saat nanti kamu akan tahu, kamu salah telah meninggalkan aku.