Untukmu, yang dulu sempat kusebut teman seperjuangan

Buat kamu yang sudah berjarak via www.abroadacrosstheglobe.com

Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menyapamu. Sampai musim hujan sudah datang lagi, kita masih saja tak saling bicara seperti dulu. Setelah sekian lama kita tidak berjumpa dalam suara yang biasa kita dengar, sekarang tiba-tiba aku datang menyuratimu bicara tentang apa yang sudah lewat. Tentang masa dimana kita berdua sama-sama merasa enggan. Bagiku, menngingatmu tak elak menciptakan sembilu. Mungkin kau juga sudah tahu apa penyebabnya.

Jarak yang membentang di antara kita justru membuatku lebih berani membicarakan lagi tentang hal-hal yang dulu. Tentang bahagia, kecewa, dan tentang apapun yang pernah kita rasa bersama. Meskipun ganjalan itu terkadang masih terasa. Tapi tenanglah, aku menyuratimu bukan untuk mengutukimu, tapi hanya ingin memperjelas semuanya agar kita sama-sama lega.  Semoga kau punya waktu untuk membaca suratku.

Karena sakitnya luka yang kau goreskan dulu, sudah tak sebanding dengan pelajaran berharga yang aku dapatkan sekarang. Mungkin beginilah pelajaran hidup bekerja, terkadang kita harus sakit dulu sebelum mendapatkan makna di baliknya.

Kadang hidup memberikan banyak kejutan yang tak terduga. Maka perkenalan denganmu saat jam makan siang adalah salah satunya.

Advertisement

Saat kita berkenalan via www.i-studentglobal.com

Ingatkah kamu siang itu? Setelah kuliah secara maraton seharian, kita sama-sama menuntaskan lapar di kantin kampus. Memesan beberapa makanan yang sudah familiar. Anehnya, tanpa pernah saling berkompromi, tetiba kita saling bertemu dalam meja makan yang sama.

Kita, dua orang manusia yang sama-sama sedang tidak punya teman untuk sekadar makan siang. Semeja denganmu waktu itu, membuatku tahu bahwa seorang teman bisa dipertemukan di mana saja. Kantin, lapangan, kampus, kosan, jalanan, semua punya kemungkinan yang sama. Dan kau adalah satu kemungkinan yang akhirnya jadi kenyataan.

Hey, namamu siapa?

Sama seperti mahasiswa lainnya, kita berkenalan dengan pertanyaan sederhana, nama, asal, fakultas dan lain sebagainya. Entah kenapa, kita cepat merasa akrab.

Tanpa perlu banyak mengira-ngira, kita berdua saling bertanya tentang banyak hal. Alasannya hanya untuk saling tahu bagaimana sebenarnya kita.

Mulai saat itu, teman adalah sebutan yang pas untuk kita camkan. Meskipun tidak terlalu dekat, namun kau tetap menjadi teman baru yang asyik untuk diajak bergurau.

Kamu sempat jadi teman terbaik untuk berbagi pikiran. Keluh kesah dan kesusahan pun sudah tamat kita ceritakan. Semua sikap baikmu membuatku percaya: kamu bisa diandalkan keberadaannya

Kita seperti tetangga rumah via galleryhip.com

Berteman denganmu membuatku bersyukur, karena kau adalah seorang teman yang baik. Tak jarang kita saling bertukar tawa di antara lorong ruang kuliah. Membicarakan tentang film-film baru saat tak sengaja duduk sebelahan. Atau sesekali bernostalgia untuk makan siang bersama di kantin sekolah. Dengan rela, aku juga suka mendengarkan cerita-ceritamu yang lucu saat kamu menirukan lawakan.

Bagiku, kau seperti tetangga baru yang membuatku merasa terhibur. Tawa riang menjadi pemanis dalam pertemanan. Ucapan selama dan dukungan menjadi energi yang menghidupkan. Yang jelas, kebaikan dirimu yang kau tunjukan didepanku seolah membuatku merasa beruntung sebagai temanmu.

Tanpa ragu kau datang membagi cerita banyak hal. Tanpa sungkan kau datang meminta sedikit pertolongan. Pintu rumah yang selalu siap kita buka kapan saja saat kita sama-sama ingin datang untuk sekedar tanya apa kabar. Keterbukaan membuat kita semakin dekat. Saling percaya menjadikan hubungan kita jadi erat.

 Apapun itu, sikap baikmu di hadapanku membuatku percaya bahwa kamu adalah teman yang tak punya cela.

Hingga bencana itu tiba. Entah atas dalih apa, kau bongkar semua rahasia kita. Lebih hebatnya, kau tambahkan cerita versimu yang belum tentu nyata adanya

Kamu sedang ngomongin aku via emotivestorytelling.com

Terkadang, kebenaran memang hanya kau temukan dalam kenyataan. Dan sisanya yang ada dipikiran hanyalah sebuah khayalan.

Sekian lama menjadi temanmu, aku tidak pernah berfikiran buruk tentang bagaimana kau. Tak sampai hati untuk menilaimu lebih dari apa yang aku lihat dari dulu. Hingga hari itu, saat musim hujan tiba, aku tak sengaja lewat depan kelasmu, dan mendapati perbincanganmu dengan teman-temanmu tentang aku.

Hey, benarkah itu suaramu? Benarkah itu kamu? Suara teman yang begitu baik denganku?

Berita yang tidak benar kau sebarkan dengan nada tanpa sesal. Semua tentang aku juga kau ceritakan panjang lebar. Semua kejelekanku kau umbar tanpa rasa salah. Rahasia yang harusnya kau jaga malah dibuka dengan sembarangan. Aku tidak tahu lagi kenapa kau sangat terlihat berbeda dari yang selama ini kukenal. Seketika rasanya tenggorokanku seperti tersedak. Aku lupa bagaimana caranya menelan makanan. Aku alpa untuk mengambil nafas. Aku lupa untuk mengingat banyak hal. Karena yang harus aku lakukan hanyalah meyakinkan diri, apakah itu benar kau? Sungguh itu kau? Yang selama ini begitu baik didepanku?

Ceritamu yang kau dendangkan dengan merdu seperti lagu-lagu duka yang membuatku tak tahan menahan lara. Entah kenapa seketika keyakinanku selama ini tentangmu menjadi berubah berantakan.

Salahkah jika aku merasa kesal dengan caramu mengumbar semua cerita? Berdosakah jika aku marah saat tahu kau mengarang cerita yang tak jelas kebenarannya?

Kalau boleh jujur, aku marah! via hdw.eweb4.com

Menghadapi kenyataan terkadang memaksa kita memandang segalanya dengan mata terbelalak. Sama halnya dengan menghadapi kamu yang ternyata berbeda jauh dari sangkaanku. Keyakinan yang dijungkirbalikan seringkali membuatku merasa limbung seketika. Dilukai tanpa aba-aba juga terkadang membuatku merasa tak siap. Tapi pil pahit kadang memang perlu kita telan agar kita tahu nikmatnya rasanya manis.

Hey teman, bukankah kita sama-sama manusia yang punya rasa? Jika aku tanya padamu, apa yang kau rasakan saat kamu berada di posisiku : mendapati dirimu dibicarakan dengan nada yang tidak menyenangkan oleh temanmu sendiri?

Jika kau berhasil untuk tidak merasa kesal, tolong ajarilah aku bagaimana caranya.

Hati ada bukan untuk dicaci, tapi untuk dicintai. Maka kalau aku boleh jujur, aku merasa kesal, kecewa, marah dan sejenisnya. Semua rasa ada dalam satu wadah yang tidak bisa kuterjemahkan dalam kata yang bisa kau baca. Aku tidak menuntutmu untuk meminta maaf, tapi aku hanya ingin kamu coba menempatkan dirimu sebagai aku. Tak lebih dari itu.

Kalau boleh aku menawar, aku hanya ingin tidak mendengar apa-apa. Aku tidak ingin tahu apa-apa. Bukankah itu membuatku menjadi lebih legawa?

Kadang aku tak habis pikir dengan perbuatanmu. Apa susahnya bertanya atau bercerita langsung padaku? Bukankah dulu kita pernah sedekat itu?

Jangan memunggungiku via transitionvoice.com

Setelah sekian lama saling kenal, mungkin kau alpa bagaimana awal kita saling berkenalan. Dulu, tanpa rasa canggung, di meja yang sama kita saling mengajukan tanya untuk mematahkan rasa penasaran. Bukankah dengan cara yang sama kau juga bisa mengutarakan semuanya?

Kita mungkin memang bukan sepasang teman yang akan terus bersama sampai akhir haya tiba. Tapi setidaknya kau gunakan cara yang lebih elegan jika ingin membuat jarak diantara kita.

Tanpa perlu bersusah payah, kau bisa mengetuk pintu rumahku untuk mencari tahu apa yang kau perlu. Kau tak perlu mengarang cerita jika ingin membuat berita. Kau juga tak perlu mengumbar rahasiaku jika ingin terlihat serba tahu.

Kau memunggungiku, mendiamkanku — sembari berkoar-koar tentangku tanpa sepengetahuan si empu. Kini kutanya lagi: layakkah perbuatanmu itu?

Surat ini bukan untuk membalas dendam. Walaupun ada kecewa dan kesal, hal yang telah berlalu sudah kulupakan. Kehadiranmu mengajariku untuk tetap tegar dan terus berjalan

Aku belajar memilah via commons.wikimedia.org

Menjadi bahan perbincangan di belakang seringkali membuatku merasa berat hati. Dikhianati, karena janjinya telah diingkari. Dibohongi, karena tenyata selama ini yang dilihat hanyalah imajinasi. Ah sudahlah. Yang lalu bukannya harusnya dibiarkan berlalu? Disini, aku bukan untuk memberi balasan atas lakumu. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak ambil pusing lagi tentang itu.

Pahit terkadang perlu di rasa agar kita tahu bagaimana mensyukuri rasa manis yang sudah ada. Maka, menjadi bahan obrolanmu justru membuatku tahu. Siapa yang perlu kupercaya dan siapa yang tidak perlu kudengarkan sarannya.

Ah, sudahlah. Mengungkit luka terkadang justru membuat hati semakin lara. Surat ini kutulis bukan untuk membalaskan dendam, tapi hanya agar kau tahu rasanya jadi aku. Aku yang dulu jadi temanmu, sekarang sudah tak mau lagi tahu apa yang kau bicarakan di balik punggungku.

Walau sampai hari ini tanda tanya itu masih ada, kamu tak pernah kusesali hadirnya. Darimu aku belajar beragam tabiat manusia. Darimu, aku belajar bahwa tak ada keikhlasan yang sia-sia

Aku adalah aku via wallippo.com

Dalam hidup, wajar jika terkadang kita dikejutkan oleh hal yang tidak kita duga. Salah satunya kehadiranmu dihidupku. Tanpa pernah direncanakan, kita berkenalan, menjadi teman, dan kemudian berjarak. Dan kau membuatku belajar banyak hal.

Selama ini aku selalu berharap orang-orang terdekat paham bagaimana aku sebenarnya. Tanpa perlu berprasangka yang tidak-tidak, semua berjalan lancar dengan keterbukaan. Namun, sekarang aku tahu bagaimana seharusnya berekspetasi. Ternyata tak semua orang bisa paham sepenuhnya tentang aku. Ternyata tak semua orang sama seperti yang kita pikirkan sebelumnya. Dan peduli tentang itu semua adalah hal yang sia-sia.

Teman, meskipun aku sudah berusaha melupakan semuanya. Tapi terkadang aku masih suka bertanya-tanya kenapa kau melakukan itu semua?

Dari,

Temanmu yang dulu pernah jadi bahan pembicaraanmu