Hari ini aku terjebak dengan hujan. Lagi.

Payung yang selama ini menemaniku nyatanya tak mampu lagi menghadapi rintikan air yang datang dari langit. Dan ia patah begitu saja setelah berjuang melawan kencangnya angin dan serbuan air. Terlanjur basah, maka aku tak segera menepi untuk sekedar berteduh karena cepat atau lambat air akan segera membasahi tubuh.

Kemudian aku tersenyum, bahkan tertawa. Betapa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk kulewatkan begitu saja. Dan miris rasanya ketika pelukan yang paling kuharapkan saat ini bukanlah hujan, namun dirimu. Yang kini entah sedang apa di sana.

Maafkan aku untuk mengatakan semua ini. Tapi rasanya tak adil jika aku memendam perasaan ini begitu saja sementara kamu adalah bagian cerita yang paling berharga. Maka biarkan aku bercerita padamu tentang 19 hari sebelum hujan ini turun membasahi.

Hari 1; Aku pulang ke rumah dengan sebuah tangisan. Tangisan yang terlalu renta untuk kusembunyikan di hadapan keluarga.

Aku menangis seharian via www.mindthetrap.gr

Advertisement

Ibu dan ayah begitu kaget dan tak menyangka bahwa putrinya yang selama ini ceria bisa menjadi lemah gara-gara seorang pria.

Hari 2; Pergi bekerja rasanya menjadi siksaan yang tak tertahankan. Berulang kali aku harus masuk ke kamar mandi untuk menumpahkan air mata yang begitu berarti ini. Dan selama 8 jam aku berjuang untuk tetap memasang muka biasa meski hati ini begitu terluka. Berharap esok hari tak akan sama sakitnya.

Hari 3; Pagi ini kukira aku telah berhasil melupakanmu. Namun melihat layar HP yang kosong tanpa ucapan selamat pagimu kembali membuat pagiku pilu. Entah apa yang terjadi denganku.

Hari 4; Kuberanikan diri untuk menulis pesan singkat untukmu, kubilang padamu bahwa “Aku rindu.” dan kamu membalasnya dengan “Thank you.”

Hari 5; Fotomu yang tersenyum bahagia kembali membuat hati meradang, hingga tak sadar semua bunga-bunga kering pemberianmu dulu aku buang.

Aku melihatmu di Instagram via www.puckermob.com

Hari 6; Kuhabiskan malam dengan pria yang selama ini membuatmu cemburu. Dengan jelas tadi ia menyatakan perasaannya padaku namun tetap saja sosokmu yang masih lekat di kepalaku.

Hari 7; Insomnia kembali mengganggu karena aku tahu bahwa jika aku tertidur aku akan bermimpi tentangmu, yang tak akan pernah kembali padaku.

Hari 8; Aku datangi rumahmu dan mengembalikan semua pemberianmu dan kau berkata bahwa aku sungguh tegar, padahal kau tak tahu bahwa di rumah tatapanku selalu nanar.

Hari 9; Kupaksa diri untuk tertawa, entah apa yang terjadi padaku namun kehadiran teman bisa sejenak membuatku lupa padamu, pada kita, pada dunia yang kejamnya selalu membuatku terpana.

Hari 10; Selalu saja ada alasan untuk mengirim pesan padamu dan selalu saja ada alasan bagimu untuk mengabaikanku.

Hari 11; Tangisan ini selalu saja menjadi teman ketika kau tak lagi memberikan pendampingan.

Terpaksa aku berteman dengan kesendirian via www.pinterest.com

Hari 12; Sejak kapan patah hati menjadi begitu romantis? Mendadak aku begitu melankolis dan puitis. Banyak tulisan yang tercipta gara-gara hati ini teriris.

Hari 13; Aku tak pernah menyangka bahwa kamu akan begitu mampu untuk berdiri tanpaku. Kadang keraguan mulai melintas, apakah aku tak cukup pantas bagimu?

Hari 14; Dan keraguan yang semakin membengkak rasanya membuat raga ini tak mampu bergerak. Aku tak ingin apa-apa kecuali agar perasaan ini tak semakin sesak.

Hari 15; Sore itu aku melihatmu bergandengan tangan bersamanya. Dulu akulah tangan yang kau gandeng, raga yang kau peluk, dan sosok yang kau puja. Bukan dia.

Hari 16; Teman-teman mengira kaulah yang bodoh karena meninggalkanku, namun rasanya akulah yang bodoh karena masih mengharapkanmu meski kita tahu bahwa aku dan kau tak akan bersatu.

Hari 17; Aku tak sempat untuk memikirkanmu malam ini. Maafkan aku karena tanpamu, sempat ku merasa harus berhenti

Maafkan aku via www.pinterest.com

Hari 18; Kadang hati ini selalu mencoba untuk mengulang semua kembali, namun semesta berkata bahwa hati ini terlalu lemah untuk disakiti lagi.

Hari 19; Maafkan aku aku tak bisa mengabaikan hari ulang tahunmu begitu saja. Maafkan aku; maafkan aku; maafkan aku. Selamat ulang tahun, maafkan aku.

Hari 20; Ini jelas bukan sesuatu yang megah. Hanya narasi payah tentang seseorang yang juga payah.

Selamat ulang tahun via www.pinterest.com

Sekarang adalah hari ke-20. Aku akan mencoba untuk tak akan memikirkanmu kembali karena aku tahu semuanya akan membuatku semakin lelah.

Sekali lagi maafkan aku karena mengatakan hal ini, namun perempuan yang dulu menggenggam tanganmu ketika duniamu sedang berada di kegelapan, dan perempuan yang dulu membuatmu jatuh cinta, kini telah mampu menghadapi kenyataan meski beratnya tak tertahankan. Jika saja kamu datang dan memintaku mengulang kembali kisah ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku tak lagi ingin kau ada di sisi. Aku hanya ingin kamu mengetahui perasaanku saat ini, karena hal yang paling tak kuharapkan kedatangannya adalah patahnya hati.

Selamat ulang tahun, semoga dengan tidak hadirnya diriku kali ini akan membuatmu mengerti bahwa cinta ini tak harus dimiliki.