Sungguh mengherankan betapa saat ini, kehadiran jadi satu-satunya hal penting yang aku inginkan lebih dari apapun. Hadirnya kamu yang berjalan tegap menyejajari langkahku yang buru-buru, rentetan tawaku di sela-sela kepadatan harimu yang ku anggap tidak seru. Rutin yang hadir cukup sekali lagi.

Kita pernah begitu satu. Lalu seketika, kita sudah jadi bagian dari hal-hal lain yang sebelumnya tidak kita pahami. Mana kita tahu bahwa ternyata sudah suratan takdir yang mengatakan kau dan aku tidak bisa berlama-lama di ruang dan waktu yang sama. Apa yang kita hendaki sepertinya berbeda.

“Hidup harus tetap berjalan,” katamu. “Oleh karenanya, kejarlah semua yang ingin kamu kejar, walau tanpa aku.”

Masih jelas ku ingat lagu di matamu malam itu, liriknya penuh dengan kata-kata penghiburan yang ku tahu palsu. Begitu juga dengan riangnya cara bicaraku, mengakui rententan dosa yang pernah ku lakukan di belakangmu, seperti tidak makan tepat waktu seperti yang kau mau. Lalu kita melambaikan tangan, mengakui jeda panjang dan absennya pertemuan. 

 

Andai kamu tahu. Saat itu, merelakanmu adalah hal terakhir yang ingin aku akui

Sudah berapa lama kita tidak saling melihat, mendengar, dan merasakan keberadaan satu sama lain? Sudah cukup lama, rasa-rasanya. Ah tapi tidak juga. Baru beberapa saat, namun rasanya sudah bertahun-tahun kau pergi.

Advertisement

Kebebasanku hanya terasa segar di awal. Percayakah kamu? Aku yang dulu bebal, sekarang mulai sentimental. Memandang setiap butiran hujan dengan iri, karena bisa jadi hujan dan kamu lebih dekat berbincang mencipta puisi. Merasakan hembusan angin sore dengan ngilu, bisa jadi angin ini pula yang kelak menyerbu dan meniupkan daun-daun jambu pulang ke pintu rumahmu.

“Bukan aku.”

Tanpa ku niatkan, aku cemburu pada setiap hal yang dekat denganmu, tanpaku.

 

Mungkin aku yang berlebihan. Semoga rindu ini masih bisa ku tahan

Apalah yang sedang ku pikirkan ini? Sungguh tidak pantas sebenarnya jika aku menyesal atas keputusan yang sudah dibuat. Juga masih berduka atas keadaan yang sudah terjadi. Kita kan sempat berjanji untuk tetap tersenyum walau harus menata kembali hidup yang sama-sama kita tinggalkan.

Tapi setiap kali aku menyusuri jalan-jalan kecil di sepanjang pertokoan yang sering kau bicarakan, aku hanya ingin bercerita kepadamu kabar penjual bunga di sana. Kabar tempat makan kesukaanmu yang entah mengapa seluruh menunya terasa hambar. Ingin juga memberitahumu kabar tim olahraga jagoanmu yang baru saja menang turnamen. Juga kabar teman-teman, yang fotonya masih tertata rapi di tembok kamar dan selipan buku catatan.

“Bukan kabarku. Karena sesungguhnya aku tidak ingin kau tahu sampai sekarang aku belum bisa memulai hidup baru.”

Ku doakan untukmu, hal-hal yang lebih baik lagi dari yang pernah kamu dapatkan

“Maafkan aku,” ucapmu karena tidak bisa lagi menemaniku.

Aku tahu kamu bersungguh-sungguh. Sebab itu kataku, tidak perlu. Jangan menghabiskan gulungan roll terakhir memoriku bersamamu dengan bermaaf-maafan seperti orang lebaran. Biar seperti ini saja, karena aku mendoakanmu segala hal terbaik yang pantas kamu dapatkan.

Bahwa selama ini kamu membuatku bahagia, lalu tiba-tiba tidak lagi. Apa pantas kamu dimaafkan?

Ku kira kamu akan segera kembali, menyapaku lagi setiap pagi. Meledek ekspresiku yang jengkel kala melihatmu memakai kaos yang itu-itu lagi. Menghampiri saat kepalaku sakit dan butuh aspirin dosis tinggi, lalu meletakkannya di dadamu, tepat di detak jantungmu yang menenangkan. Tapi ternyata tidak lagi. Semua sudah tinggal cerita yang semakin waktu semakin terasa lama.

Betapa kekanakannya, tapi sejujurnya aku tidak tahan lagi ingin menangis sesak. Karena di sana, sendiri pun kamu sepertinya bahagia.

Aku rela menukar waktu dengan kehadiranmu. Banyak hal yang belum ku lakukan bersamamu

Andai bisa. Ku minta Tuhanmu untuk mengambil waktuku dan menukarnya untukmu. Tapi kita sama-sama tahu bahwa banyak permintaan yang hanya berakhir di ruang tunggu.

Dan aku, kamu, kita tidak sedang menunggu.

Berbaliklah waktu.. Aku sedang mencoba terbiasa menoleh tanpa membiarkan bagian diriku tertoreh. Setidaknya aku senang kita sempat berjalan dalam satu keadaan yang sama. Ingin melakukan lebih, menomorsatukanmu, menjagamu, memberikan semua yang kau inginkan, tapi tidak ada lagi kesempatan yang memungkinkan.

Ketika menenun kecemburuan dengan seisi semesta yang jadi lebih dekat denganmu, aku titipkan sebuah pesan yang semoga tak kau lupakan.

Bahwa aku mencintaimu, tak terbatas ruang dan waktu.