Halo Nek, apa kabar?

“Sudah lama kita tidak bersua.

Sudah berapa tahun lamanya sejak engkau meninggalkan dunia?”

Apa nenek baik-baik saja di sana? Bagaimana rupa nenek sekarang? Apakah masih sama seperti ketika sedang bercengkerama denganku untuk yang terakhir kalinya? Yah, aku harap nenek sedang tersenyum menatapku sembari ditemani para malaikat surga.

Sejak kepergian nenek, ada banyak hal yang terjadi di dunia ini. Aku sekarang sudah menjadi wanita dewasa. Aku sudah tidak gemar merengek ataupun bermanja-manja. Aku juga sudah menyelesaikan studiku dan kini sedang berjuang menapaki karier sendiri. Sungguh, aku ingin nenek masih ada di sini. Menjadi saksi pertumbuhan serta perjalananku hingga aku menjadi wanita dewasa seperti sekarang ini.

Aku rindu usapan tangan nenek yang membelai lembut rambutku. Rindu juga dengan candaan ringan yang selalu nenek lontarkan. Bahkan, aku juga kangen saat nenek memberi nasihat yang itu-itu saja ataupun cerita masa muda nenek yang selalu diulang-ulang.

Advertisement

Ah, andai saja nenek masih ada di sini. Kita pasti masih bisa saling bertukar cerita. Nenek pasti akan mendongengkan kembali kisah ketika Indonesia masih dijajah, ataupun aku akan mengajarkan nenek bagaimana cara menggunakan gadget. Mungkin.

Nenek adalah bagian penting dari masa kecilku. Aku masih ingat bagaimana dulu kita sering menghabiskan waktu

Nek, masih ingatkah dulu nenek gemar membuatkan aku dan adik-adikku baju? Ya, baju yang nenek jahit sendiri. Bahkan, nenek rela terjaga hingga larut demi menyelesaikan satu stel baju. Nenek selalu memperbolehkan kami memilih sendiri corak kain hingga model baju yang kami sukai. Tidak hanya untuk mengasah keahlian menjahit yang nenek miliki, tapi sekaligus sebagai perwujudan rasa sayang nenek kepada kami.

Aku juga masih ingat ketika hari libur tiba, aku dan adik-adik selalu girang ketika menghabiskan waktu untuk menginap di rumah nenek dan berkumpul bersama dengan kerabat lainnya. Nenek tidak pernah alpa menyiapkan hidangan, dari camilan hingga makan malam. Camilan yang nenek buat selalu enak karena dibuat dengan takaran kasih sayang yang pas. Sama halnya dengan masakan yang nenek racik, membuat mulut ini tidak berhenti mengunyah.

Bahkan, tidak hanya sewaktu libur saja, rumah kakek dan nenek selalu yang menjadi tujuan utama ketika papa dan mama sedang repot bekerja dan harus menitipkan aku dan adik-adik untuk sementara. Aku tidak tahu bagaimana nasib kami tanpa adanya kakek dan nenek. Saat aku jatuh sakit nenek juga selalu mau merawatku, menggantikan mama yang memang sedang kelimpungan dengan pekerjaan.

Ah, betapa indahnya masa itu. Masa ketika aku masih bisa bermanja-manja dengan kakek dan nenek.

Namun, ketika aku beranjak remaja dan dewasa, aku mulai sibuk dengan duniaku sendiri. Aku pun mulai jarang mengunjungimu.

aku mulai jarang mengunjungi kakek dan nenek

aku mulai jarang mengunjungi kakek dan nenek via cahyomedia.wordpress.com

Semakin aku beranjak remaja, aku semakin disibukkan dengan berbagai kegiatan serta banyaknya kawan yang aku miliki. Aku makin jarang mengunjungi nenek. Aku lebih memilih berbincang mengenai gosip terbaru bersama teman daripada bercengkerama bersama nenek membicarakan nostalgia kisah hidup nenek atau kakek.

Kesibukanku pun makin menjadi. Atau lebih tepatnya kesibukan yang kubuat sendiri. Saat waktu berkumpul keluarga tiba aku enggan berpaling dari layar gadgetku. Aku terlalu tenggelam di dalam duniaku sendiri, aku tau nenek pasti kecewa. Nenek sedih karena posisi nenek dengan mudah tergantikan oleh dunia maya yang bahkan tidak nyata.

Ya, nenek semakin merasa ditinggalkan sendirian. Aku bahkan sering mengabaikan pesan mama dan papa bahwa nenek rindu dan ingin bertemu. Aku berpikir usia nenek pasti masih panjang sehingga tidak masalah jika aku menghabiskan waktu demi berkumpul bersama kawan sejenak. Toh, masih ada cucu nenek yang lainnya yang sering datang berkunjung. Namun, perkiraanku salah, usia nenek tidak sepanjang yang ku kira.

Ah, maafkan aku, nek. Dulu aku yang masih kecil masih belum mengerti betapa sakitnya diabaikan.

Hari itu akhirnya tiba. Hari dimana kesehatan nenek mulai menurun dan hanya bisa tergolek di atas pembaringan.

sedih

sedih via nrmnews.com

Aku selalu mengutuki hari itu. Aku tidak pernah mengharapkan hari itu akan ada di hidupku. Ya, hari dimana kesehatan nenek mulai menurun. Aku semakin bisa melihat dengan jelas jejak guratan menua di wajah nenek. Nenek tidak lagi nampak sehat dan bisa membuatkan kami camilan. Nenek lebih banyak tergolek lemah di atas pembaringan. Bahkan, aku dan saudara-saudaraku harus berada di samping kasur nenek demi bisa bercengkerama.

Saat nenek terbaring lemah, aku mulai menyadari bahwa aku tidak memanfaatkan waktu pertemuan kita di dunia dengan sebaik-baiknya. Aku membuang waktu yang berharga hanya demi bersenang-senang bersama kawan atau bahkan sibuk berkutat dengan dunia maya yang dirasa kurang perlu.

Maafkan aku nek, aku berharap diberi kesempatan sekali lagi untuk mengubah tabiatku. Jika bisa, aku ingin sekali lagi kembali ke masa lalu demi bisa mengulang waktu saat nenek masih ada.

Sekarang hanya tinggal rasa sedih dan menyesal yang masih tersisa

Sampai detik ini pun aku masih mengutuki diri sendiri. Aku masih menyesal kenapa aku tidak selalu berada di samping nenek. Kenapa aku memilih mengabaikan daripada menemani? Ya, mungkin rasa sesal lah yang kini menjadi alarm penanda bahwa aku tidak boleh mengabaikan lagi orang-orang kesayangan di dalam hidupku.

Ah, ya nek, taukah bahwa terkadang aku juga selalu cemburu jika ada satu dua kawan yang masih memiliki seorang nenek hingga detik ini? Ya, aku cemburu dengan kedekatan mereka, kenapa mereka masih memiliki nenek dan nenekku sudah dipanggil terlebih dahulu?

Melihat kedekatan kawanku dengan nenek mereka membuatku rindu terhadap kenangan yang pernah kita lalui bersama. Kenangan saat kita saling berbagi cerita, atau saat nenek selalu menuruti kemauanku dengan selalu membelikan mainan dan barang-barang yang kuinginkan. Ah, kenangan bersama nenek tidak akan pernah ada habisnya jika kutuangkan semua di suratku ini.

Tapi asal nenek tahu, kenangan manis bersama nenek akan selalu tersimpan rapi di lingkar kepala dan juga dalam hatiku. Bahkan mungkin, esok saat tiba waktuku berperan sebagai seorang nenek, aku akan mencontoh penuh sifat nenek. Ya, aku belajar banyak dari nenek, belajar artinya menerima dan mencintai dengan tulus.

Nek, aku belum pernah sekalipun mengatakan perasaanku pada nenek, bahwa aku mengagumi dan menyayangi nenek. Ya, rasa ini belum terlalu jelas kurasakan saat usiaku masih dini, namun sekarang aku tahu pasti bahwa nenek sudah berjasa memberikan masa kecil yang membahagiakan bagiku.

“Aku sungguh sayang nenek. Ku harap nantinya kita akan berkumpul bersama lagi di surga.”

Dariku,

cucumu yang sudah sangat merindu