“Sabar saja. Jodoh akan datang sendiri jika sudah waktunya.”

Ungkapan ini memang sanggup menentramkan hati. Meski belum juga menemukan seorang pendamping di sisi, merapal kalimat ini adalah cara paling ampuh untuk menenangkan diri.

Iya, kita patut percaya bahwa perkara jodoh memang sudah digariskan oleh-Nya. Tapi apakah lantas kita tak perlu berbuat apa-apa? Yakinkah diri kita sudah benar-benar siap jika Tuhan mengirimkan jodoh itu segera? Tak adakah yang harus diperjuangkan jika sudah menemukan dia yang ditakdirkan untuk kita?

Kesuksesan tak datang dalam semalam. Jodoh juga bukan makanan cepat saji yang bisa dipesan. Kita hanya harus percaya, karena Tuhan pasti sudah menggariskan semuanya.

Tuhan sudah menentukan via dylandsara.com

Bagi banyak orang yang mengakui keberadaan Tuhan dan berpegang pada agama tentu akan percaya. Segala urusan manusia di dunia sesungguhnya sudah diatur oleh Dia yang Maha Kuasa. Perkara rezeki, jodoh, hingga soal hidup dan mati sudah ada yang menentukannya.

Advertisement

Hanya saja, manusia seringkali keliru menterjemahkan. Mengira kesuksesan itu bisa didapat dalam semalam. Menganggap jodoh itu semacam makanan cepat saji yang dapat setiap saat dipesan. Bahkan, berpikir hidup dan mati manusia itu boleh ditawar-tawar.

Padahal, yang harus kita lakukan hanyalah percaya bahwa segala kebutuhan kita sudah dicukupkan oleh-Nya. Tak perlu merutuki sesuatu yang sampai saat ini belum juga dimiliki, sekalipun hal itu adalah yang paling diingini. Selama rasa percaya itu ada, kita tak akan mudah terpuruk hanya karena petanyaan-pertanyaan sederhana seperti,

“Kapan nikah? Mana calonnya? Masih single juga?”

Tapi jodoh juga tak lantas datang begitu saja. Tuhan hanya akan mengamini umatnya yang gigih berusaha dan mau berdoa.

Butuh usaha dan doa via dylandsara.com

Meski sudah ditakdirkan, jodoh tak akan datang dengan cuma-cuma. Tuhan itu Maha Tahu. Sebelum memberikan apa yang kita minta, perkara kegigihan dan usaha kita terlebih dahulu akan ditimbang oleh-Nya.

“Apakah kita sudah cukup keras berusaha, ataukah kita sudah tulus dan ikhlas memintanya?”

Namun, usaha itu banyak macamnya. Bukan berarti kita harus sibuk bertanya-tanya pada teman atau kenalan. Berusaha mencari ‘makcomblang’ atau ikut acara-acara perjodohan. Lebih berarti daripada itu, usaha seharusnya dimulai dari diri sendiri dulu.

“Sudah cukup baikkah diri kita? Pantaskah jika kita diberi jodoh yang sempurna?”

Rasa cinta bisa kadaluwarsa, jodoh pun ada masa berlakunya. Usahamu tak boleh putus, bahkan setelah menemukan dia yang mantap diajak hidup bersama.

tentang perjuangan via dylandsara.com

Siapa bilang perjuangan hanya milik kita yang belum menemukan jodohnya? Sekalipun kelak sudah menemukan pasangan, entah itu sebatas pacaran atau bahkan sudah disahkan dalam pernikahan, perjuangan dan usaha itu tak lantas selesai.

Bagaimana pun, rasa cinta itu bisa kadaluwarsa. Setelah bertahun-tahun hidup bersama, bukan tidak mungkin rasa cinta atau sayang itu berkurang dan bahkan surut. Sementara, jodoh juga ada masa berlakunya. Ketika dua orang sudah tak bisa melangkah sejalan dan hidup berdampingan, bisa jadi jodohnya memang harus berakhir sampai disitu saja.

“Dia yang akan atau sudah jadi jodohmu patut diperjuangkan.”

Ikatan dapat bertahan dengan berbekal rasa percaya. Bukan mustahil kalian terus bersama jika punya komitmen untuk saling setia.

berkomitmen untuk setia via dylandsara.com

Tak ada jaminan bahwa hubungan yang dijalani akan selamanya baik-baik saja. Terlebih ketika cinta dan perkara perasaan bukanlah sesuatu yang sifatnya stagnan. Ada kalanya hubungan akan terasa sedang hangat-hangatnya, namun tak jarang pula perselisihan dan masalah membuat hubungan itu runyam.

Salah satu yang terpenting adalah kemauan untuk memberikan kepercayaan pada pasangan. Sepatutnya pasangan bebas melakukan apa saja yang jadi inginnya, selama hal itu bersifat positif dan tak merugikan. Sebagai pasangan, saya atau kamu hanya perlu percaya, tanpa harus menaruh rasa curiga.

Hubungan juga baru akan berhasil jika dua orang sama-sama punya komitmen yang kuat untuk setia. Tanpa terlintas keinginan untuk mencari selainnya atau mengkhianati pasangannya. Di titik inilah, tekad dan niat masing-masing orang bisa ditimbang. Usaha dan kemauan untuk berjuang pun dapat dibandingkan.

Selama punya tujuan yang sama, kalian tak harus berpisah di persimpangan jalan demi menuruti ego yang berbeda.

kompromi dalam hubungan via dylandsara.com

Meski punya ikatan, sepasang kekasih sejatinya adalah dua individu berbeda. Wajar saja jika keduanya punya keinginan atau cita-cita yang tak sama. Tapi, bukankah jalinan cinta itulah yang menuntun kalian pada tujuan yang sama, atau setidaknya mengkompromikan dua cita-cita yang berbeda?

Tak berbeda dengan komitmen dan kemauan untuk setia, kompromi adalah salah satunya yang membuat hubungan sepasang kekasih bisa bertahan. Dan kompromi juga bukan perkara gampang, meredam ego pribadi demi bisa sejalan dengan pasangan juga merupakan bentuk usaha dan perjuangan.

Meski sudah digariskan, bukan berarti jodoh bisa dipesan. Dan sekalipun sudah ditakdirkan, dia tetap harus diperjuangkan.

pasanganmu layak diperjuangkan via dylandsara.com

Di titik ini kita akan meremang menyadari, bahwa segala yang kita dapatkan memang harus diawali dengan perjuangan. Bahkan, sekalipun itu jodoh yang kabarnya sudah ditakdirkan. Tak seharusnya kita menunggu dalam diam, tapi momen menunggu itu selayaknya bisa dimanfaatkan.

Bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik setiap harinya adalah kewajiban. Kelak ketika dipertemukan dengan jodoh itu pun kita masih harus melanjutkan perjuangan. Meski berat atau tidak mudah, seharusnya tak ada kata “menyerah” demi dia yang patut dijadikan teman hidup selamanya.