Pak, hari ini kamu jadi orang paling spesial di dunia. Konon, tanggal 12 November adalah hari yang diperingati sebagai hari khusus untukmu. Anak-anak di berbagai belahan dunia memeluk dan mencium Ayahnya sebagai tanda cinta. Biarkan kali ini aku juga melakukan hal yang sama.

Sepanjang hidupku kamu adalah orang yang paling konsisten berkorban. Saat orang lain mudah pergi lalu meninggalkan, kamu satu-satunya orang yang memilih bertahan. Banyak sekali yang sudah Bapak berikan. Sementara aku belum punya apa-apa sebagai balasan.

Bapak orang pertama yang percaya kalau aku bisa. Bapak bilang aku boleh jadi apapun. Biar Bapak yang mencicil tagihan bertahun-tahun

Bapak selalu bilang aku boleh jadi apa saja. Untuk urusan cita-cita, Bapak adalah Yes Man tingkat dewa. Bahkan waktu aku bilang ingin jadi seseorang yang nampaknya jauh sekali dari kemampuan finansial keluarga. Sampai saat ini aku tidak ingat Bapak pernah menolak jika itu soal impian dan cita-cita.

Bapak bersikeras aku masuk ke sekolah favorit, meski itu berarti Bapak harus bekerja lebih keras dan hidup lebih irit. Kemudian Bapak mendorongku untuk mendaftar ke universitas lewat jalur mandiri. Ini jelas mahal. Tapi kemungkinannya lebih kecil terpental.

Hari ini aku mulai menjalani impian yang kamu usahakan mati-matian untukku, Pak. Sementara Bapak tetap ikhlas mencicil tagihan yang sampai hari ini belum tuntas, meski aku sudah lulus. Bantuanku menggantikan mencicil Bapak tolak. Kata Bapak, “Ini kewajiban Bapak sebagai orangtua. Kamu jalani hidup saja.”

Sebagai orang yang paling banyak berkorban, Bapak juga jadi orang yang paling sering kukecewakan. Namun Bapak selalu memaafkan

Advertisement

Kadang-kadang kalau kupikir ulang anakmu ini memang brengsek sekali, Pak. Sudah mati-matian dibahagiakan, malah membalas dengan sakit dan kekecewaan.

Bukan cuma sekali Bapak merengut melihatku membawa kawan dekat (ya, Bapak tidak pernah mau menyebut mereka pacar) yang menurutmu tidak pas. Tapi aku yang jatuh cinta bersikeras hubungan terus berjalan. Bapak cuma berpesan agar aku hati-hati, selalu menjaga diri dan perasaan.

Saat aku berbohong karena ingin main dengan teman, Bapak mendiamkanku beberapa hari. Kemudian mengajakku duduk dan menjelaskan kalau Bapak hanya ingin aku tidak mudah terbawa arus. Terlalu banyak hal yang lebih penting harus diurus.

Waktu nilaiku jelek, harus mengulang, malas menulis skripsi — Bapak memaksaku untuk tak berhenti. Demi masa depanku, Bapak rela pasang badan agar aku tak mudah menyerah pada keadaan. Kata Bapak, “Bapak tidak mendidikmu untuk jadi pecundang. Kamu harus berjuang.”

Entah sudah berapa kali Bapak harus patah hati karenaku. Tapi Bapak selalu mencintaiku.

Sampai anakmu ini bisa membalas jasamu, semoga Bapak sehat-sehat selalu. Jangan pergi dulu, Pak. Aku masih membutuhkanmu

Aku memang belum bisa memberi banyak, Pak. Gajiku masih tak seberapa. Untuk uang kost dan kebutuhan sehari-hari saja mepet sekali rasanya. Hadiah untuk Bapak hanya ada 1 tahun sekali. Aku tak bisa menraktir Bapak banyak hal yang sudah Bapak idamkan selama ini.

Selamat hari Ayah, Bapakku. Semoga kamu masih bersedia menunggu. Sampai tiba hari di mana aku bisa memberimu cucu, mewujudkan semua yang kau mau, menciptakan senyum di wajahmu.

Jangan sampai sakit, semoga Bapak sehat-sehat selalu. Tolong jangan pergi dulu Pak. Aku masih membutuhkanmu.

Dari aku,

Anak yang bangga sekali punya Bapak sepertimu