“Kita dua manusia yang sama-sama keras kepala. Meski sembahyang di tempat berbeda, kita nekat bersama atas nama cinta.

Tapi bukankah perasaan tak pantas dipersalahkan? Bukankah Tuhan tak pernah memberi kita kesempatan – memilih jatuh cinta pada siapa?

Tanpa mengingkari keyakinan, tanpa mengkhianati perasaan, mungkinkah berdua kita bisa mendamaikan keadaan?”

Hei kamu, yang juga sedang meremang menatap sebuah jurang di antara aku dan kamu

hei, kamu! via services.flikie.com

“Apa kabarmu, Kesayanganku?”

Aku tahu. Kamu pasti mengerutkan dahi saat menemukan surat ini dalam tas kerjamu. Aku mengaku. Sengaja kuselipkan surat ini diam-diam agar tak ketahuan olehmu.

Hari ini memang bukan hari ulang tahunmu, atau peringatan hari jadi kita. Aku menulis surat pun bukan lantaran iseng semata. Selembar surat ini sekadar perantara, tentang ihwal yang selama ini tak bisa terurai ketika kita bertemu mata.

Advertisement

Jika bisa, ingin rasanya kutawarkan tempat duduk di depanku. Akan kugenggam tanganmu erat, kutatap wajahmu lekat-lekat sambil kucurahkan sekian pertanyaan yang selama ini membuat leherku tercekat,

“Apakah bersamaku, kamu merasa keliru? Apa kamu mulai setuju, bahwa perbedaan tak akan pernah mengijinkan kita bersatu? Atau kah keyakinanmu justru masih sebesar dulu, saat kita baru bertemu?”

Sayang, aku memang tak cukup perwira jika harus bicara secara langsung berdua. Entah kenapa, perempuan sepertinya terlalu ringan meneteskan air mata. Aku terlalu rapuh. Begitu mudah diombang-ambingkan perasaan, tak bisa dengan tangguh mengandalkan logika. Tapi, meski tak se-melankolis aku, kamu pun pasti merasakan kegalauan yang sama – ketika cinta yang kita punya nyatanya tak berdamai dengan realita.

Menyadari perbedaan kita itu seperti mencerap neraka. Seandainya berhak meminta, aku ingin sejenak bicara dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia

perbedaan kita = neraka via ardnas20.wordpress.com

Kita adalah dua manusia biasa yang minim kuasa. Apalagi, jika urusannya soal perasaan dan cinta. Setelah sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka, aku pun tak pernah dengan sengaja mengijinkan diriku jatuh cinta. Ah, jatuh cinta itu seperti mendapat keberuntungan – kamu menang hadiah tanpa harus repot-repot mengirim undian.

Sayangnya, mereka yang melihat kita seringkali lebih suka menghakimi. Alih-alih ikut bahagia, mereka justru bisa dengan kerasnya berkata,

“Kok bisa sih pacaran sama yang beda keyakinan? Apa hubungan kalian punya masa depan? Mungkin, akan lebih baik jika segera dituntaskan daripada harus berakhir menyakitkan.”

Hatiku kadang bergetar mendengar komentar semacam ini. Tak bisa dipungkiri, nyatanya kita memang belum punya bayangan tentang masa depan sama sekali. Jangankan soal rencana menikah, setiap hari kita masih disibukkan perkara kompromi.

Ya, kompromi itu ketika kamu tak akan ngotot minta ditemani makan sate babi. Tak sembarangan menyantap makanan di depanku yang sedang puasa Ramadan. Aku pun tak sekali-kali merengek mengajakmu jogging bersama di Minggu pagi.

Di antara kerasnya komentar orang-orang dan bagaimana hebatnya kita berjuang, kadang aku hanya bisa terdiam dalam tenang. Di akhir sujud atau dipenghujung doa yang kurapal tiap malam sering kusisipkan percakapanku dengan Tuhan,

“Ah Tuhan, kenapa Kau pertemukan aku dengan dia? Kenapa tak Kau kenalkan aku pada selainnya, yang bisa diajak ibadah bersama? Bukan kah Kau Maha Berkuasa atas diriku seutuhnya?” 

Tapi Sayang, salahkah aku? Jika di balik semua perbedaan, padamulah kutemukan ruang lapang penuh kebahagiaan?

dunia kita itu surga kecilku via www.hipwee.com

Aku dan kamu datang dari dua dunia yang berbeda. Aku dengan keyakinan yang sudah kuanut hampir setengah abad lamanya. Kamu pun dengan kepercayaanmu dan segala remeh temehnya. Tapi meski berbeda, dunia kita tetap beririsan; sekalipun irisan itu mungkin terlalu kecil.

“Irisan kecil itu seperti surga bagi kita. Suatu tempat yang terasa nyaman jika hanya kita tinggali berdua. Sebuah dunia dimana kata ‘kompromi’ dan ‘toleransi’ tak akan terdengar absurd di telinga.”

Ingatkah kamu, dulu kita pernah janjian bertemu di gerbang gereja dekat rumahmu? Di sela-sela hobimu begadang main game, kamu pun masih sempat membangunkanku makan sahur. Aku juga ingat, saat kamu menitipkan salam dan bingkisan lebaran untuk ibuku.

Ah, bisa jadi aku lah yang terlalu perasa, atau kamu akan menganggapku sekadar keras kepala. Mungkin pikirmu, dunia kita belum bisa dibilang sempurna ketika bahagia hanya kita berdua yang merasa. Sementara keluarga, teman-teman, dan mereka yang di sekitar kita tak merasakan yang sama.

“Sayang, di saat inilah aku mulai menyangsikan tentang kita. Apakah kadar perasaan kita memang sama besarnya? Apa aku dan kamu melihat gambaran masa depan yang sama indahnya? Mungkin kah kita punya kesempatan bersama lebih lama?”

Kadang otakku tak berhenti memutar berbagai kemungkinan. Aku bertanya sejauh mana kita sanggup bertahan, kubayangkan betapa indah jika kita memang bisa saling menggenapkan

bertahan hingga saatnya memutuskan via www.sinema.sg

Hubungan beda keyakinan memang tak pernah menjanjikan kepastian. Berhasil atau tidak itu perkara seberapa kuat kita bertahan. Toh mereka yang seiman pun merasakan hal yang sama. Bahwa setiap hubungan akan selalu dihadapkan pada dua kemungkinan; antara berhasil atau justru nihil.

Bukan semata-mata soal keyakinan kita yang beda, perkara cinta itu sendiri pun masih terlalu abstrak untuk diterima. Cinta bisa menawarkan dua hal yang berlawanan secara bersamaan; memanjakan kita dengan harapan, tapi menyiksa kita dengan kecemasan. Iya, cinta itu memang berengsek, Sayang!

Aku seperti pasien kanker yang berburu dengan waktu. Sadar diri atas keadaan, sungguh –kapanpun aku siap kehilangan

Kapan pun aku siap kehilangan via galleryhip.com

Sadar betapa peliknya urusan cinta, ditambah rumitnya hubungan beda agama, aku pun kini kian siap menata hati. Aku cukup tabah duduk berhadapan denganmu. Mengusap rambutmu yang berminyak lantaran jarang dijamah sampo. Menyentuh garis rahangmu yang tegas sambil menatapmu lekat. Aku bisa lihat,

“Ada gurat keraguan di wajahmu. Ada kemungkinan yang hilang di matamu. Ada kegamangan di setiap hembus nafas dan gerak tubuhmu.”

Tapi Sayang, aku yang sekarang masih mencoba tegar dalam perjuangan. Siap jadi pribadi yang tangguh ketika kita harus melanjutkan lembar demi lembar perjalanan. Mungkin, kelak kita akan berpisah, tapi bukan mustahil kita bisa lanjut dan semakin mantap melangkah.

Jujur saja, aku berharap kamulah pasangan yang tertakdirkan, pun tak seberapa keberatan jika ternyata kamu hanyalah sebuah persinggahan. Kelak setelah selesai dengan “kita”, aku dan kamu pun pasti bisa melanjutkan kehidupan yang berikutnya. Kita akan berada pada irisan-irisan lain dan bertemu kemungkinan-kemungkinan yang baru. Tapi setidaknya, saat ini kamu masih ada di sampingku.

“Kita berdua sedang menikmati perjalanan yang tak biasa. Petualangan dalam sebuah lorong gelap; yang entah kemana arahnya dan entah kapan akan menemukan cahaya.”

Pertemuan denganmu tetap tak kusesali. Darimu aku belajar tentang menjalani. Ketidakpastian ini tak perlu ditangisi. Bagaimana yang terjadi nanti, kita akan hadapi dengan gagah berani

Tuhan pernah menulis cerita cinta via www.sinema.sg

Pertemuan kita tak harus disesali. Hubungan yang dijalani tak perlu membuat kita terbebani. Masa depan yang penuh ketidakpastian juga tak pantas ditangisi. Bagaimana pun masa depan adalah teka-teki yang baru bisa terjawab ketika kita tuntas menjalani. Maka saat ini, adakah yang bisa dilakukan selain mensyukuri apa yang kita miliki?

Kali ini ijinkan aku yang duduk di sisimu, Sayang. Ijinkan aku mengucap terima kasih atas kehadiranmu dalam hidupku. Dan mari berterima kasih pada Tuhan yang kita sembah dengan cara yang berbeda. Kita pantas berbangga karena dari miliaran pasangan di luar sana, kita terpilih melakoni sebuah cerita cinta yang tak biasa.

Bahagia lah karena hangatnya hubungan yang kita jalani berhasil melampaui perbedaan. Tersenyum lah karena apa yang kita yakini memberi warna tersendiri bagi kehidupan.

Dari aku,

Pasangan beda agama yang jadi kesayanganmu