-Aku masih berharap kamu sadar aku ada-

Kadang aku bertanya di mana dermaga perjumpaan kita. Agar setidaknya aku bisa memetakan kapan dan dimana kita bisa bersua. Bukan tengah jenuh dengan penantian yang aku ciptakan, tapi hanya sekadar mengingatkan bahwa aku di sini. Menunggumu. Genap menahun dan masih. Mungkin detik ini kamu tengah sibuk mewujudkan impian yang dulu tak pernah bosan kamu ceritakan. Aku pun sadar, ocehan ini hanya sayup angin dingin yang membuatmu menggigil. Sungguh mengusikmu. Tapi, kalau boleh meminjam menitmu sejenak, biarkan aku menceritakan perasaan ini…

Jangan sekalipun jatuh cinta pada seseorang setelah kamu khatam kekurangannya. Karena itu hanya membuatmu sulit melupakannya. Aku setuju dengan pepatah ini.

Aku jatuh cinta padamu setelah khatam kekuranganmu. via favim.com

Jatuh cinta padamu kadang kumaknai sebuah kutukan. Kamu dengan wajah sinismu yang menyebalkan, tak pernah kusangka akhirnya mampu membuat tawaku pecah. Aku tidak tahu kapan pastinya kamu dan aku bisa saling berbagi kisah, dekat seakan tak ada jarak. Hingga aku khatam segala kebiasaan dan kekuranganmu. Tapi tahukah kamu, justru itu yang membuat namamu masih bertahta di hati ini. Karena aku mencintaimu setelah paham segala kekuranganmu.

Aku tahu dia yang selama ini menggenapkan bahagiamu. Tapi tahukah kamu, di tengah jarak kening dan sajadah, selalu terselip doa agar kita akhirnya ditakdirkan bersama.

Kuselipkan doa agar aku dan kamu ditakdirkan bersama. via favim.com

Advertisement

-Semoga kamu akhirnya untukku-

Aku tahu dia yang ada di hatimu. Dia yang jauh lebih sempurna dibanding diriku. Mungkin kamu tak pernah tahu, di tengah jarak kening dan sajadah, selalu kuselipkan harap pada-Nya agar kita akhirnya ditakdirkan bersama. Tanpa bermaksud mengusik kebahagiaanmu dengannya. Aku memang mampu membuatmu tertawa dan siaga mendengar keluh kesahmu, tapi apa artinya itu jika pada akhirnya dia yang justru menggenapkan bahagiamu?

Cintaku padamu tak perlu kupupuk setiap waktu. Karena kutahu rasa ini selalu berdiam di tempatnya.

Cintaku padamu tak perlu kupupuk setiap waktu. Karena akan selalu tumbuh. via favim.com

Something always brings me back to you.
It never takes too long.
No matter what I say or do
I’ll still feel you here ’til the moment I’m gone (Gravity, Sara Bareilles)

Silih berganti penggantimu di hatiku hadir. Namun entah mengapa pada akhirnya namamu tak pernah bergeser dari posisinya. Kamu selalu menempati sudut spesial di hati ini. Tanya selalu menyeruak dalam pikiran, mengapa begitu sulit bagiku melupakan kenangan bersamamu. Meski kenangan itu mungkin hanya segenggam tanganmu, berbeda dengan dia yang mampu membahagiakan hatimu. Utuh.

Seperti ada gravitasi yang membuat namamu selalu kembali ke hati. Lagi, perasaanku padamu mengikat, meski kutahu tak pernah terbalas.

Ketika rindu singgah, selalu timbul tanya, Apa kabarnya kamu di sana? Sementara aku di sini tengah sibuk mengusahakan impian.

Ketika rindu singgah kusibukkan dengan mengusahakan impian. via favim.com

Apa kabarnya kamu di sana? Masihkah kamu sama seperti dulu? Jika mereka dapat dengan mudahnya menuntaskan rindu, aku hanya bisa mengalihkannya. Menyibukkan diri adalah cara terbaik untuk tidak terlalu memikirkanmu. Aku memilih untuk mengusahakan impian yang sudah lama kurencanakan. Ku yakin kamu pun demikian, tengah bergulat dengan rencana masa depan yang dulu selalu kamu ceritakan.

Menunggumu tidak pernah ada kata jenuh, walau sudah genap menahun. Mungkinkah memang aku ditakdirkan untuk mencintaimu?

Aku masih menanti saatnya aku dan kamu menjadi kita. via favim.com

Aku masih menunggu saatnya nanti aku dan kamu menjadi kita…

Menunggumu tak pernah menjemukan. Meski sudah merengkuh dua ribu hari. Bukan waktu yang singkat memang. Mungkinkah itu pertanda bahwa aku memang ditakdirkan untuk mencintaimu? Jika memang begitu, izinkan aku sejengkal lagi menunggumu. Karena aku percaya, semua pasti akan ada ujungnya. Pun mengharapkanmu pasti akan ada ujungnya. Bahwa aku dan kamu suatu saat bisa menjadi kita adalah bukan delusiku semata.

Kalau galau masih buat dirimu dilema, yuk curhatin aja keluh kesah kamu sama si penulis buku Kekasih Terbaik, Dwitasari!

Kredit featured image: favim.com