Halo, teman-teman sejawat yang dulu pernah berbagi kisah denganku di bangku kuliah,

Apa kabar kalian saat ini?

Sudahkah kalian berhasil meraih yang dicita-citakan?

Tahukah kalian, tabungan rindu ini sudah membengkak dan butuh saluran pelampiasan?

Hai, kawanku, bagaimana kabar kalian saat ini? Sudah berapa lama kita tidak bersua setelah akhirnya berhasil meraih gelar sarjana? Ah, rasanya sudah lama sekali. Tahukah kalian, tabungan rinduku ini sudah membengkak jumlahnya. Ya, aku ingin kita bertemu kembali dan bercengkerama mengenai masa dulu ketika kita masih sibuk menjadi mahasiswa. Menertawakan kebodohan kita serta kembali membuka cerita tentang cinta lama yang dulu sempat membuat kita kelimpungan.

Aku tahu kalian sudah memiliki kesibukan sendiri sehingga sangat sulit untuk meluangkan waktu. Mungkin suratku ini bisa sebagai obat rindu. Semoga juga rangkaian frasa yang tertuang di surat sederhana ini bisa menjadi jembatan kita kembali untuk bertemu suatu hari nanti.

Baru kemarin rasanya kita bertemu di hari pembekalan mahasiswa baru. Saat itu kita masih malu-malu dan terlihat amat lugu.

saat kita masih lugu via swaragamafm.com

Aku selalu tak bisa melupakan kenangan itu. Saat itu kita semua masih terlihat polos dan lugu. Ya, kita baru saja lulus dari seragam putih abu dan berkuliah di luar kota demi menimba ilmu. Hari itu adalah hari pertama kita berstatus sebagai mahasiswa baru. Kita bisa berkenalan karena kebetulan berada dalam satu kelompok OSPEK yang sama. Saat itu tugas dari senior yang dirasa tidak masuk akal memang membuat kita kelimpungan. Namun, tahukah kalian justru dari situ persahabatan kita berawal?

Advertisement

Kita mulai bahu membahu untuk menyelesaikan tugas yang seabrek banyaknya. Bahkan, kita menyusuri jalanan kota demi membeli barang yang rasanya mustahil didapat. Belum lagi ketika kita harus begadang demi menyelesaikan kerajinan tangan yang entah apa faedahnya.

Namun, justru hal itu yang membuat aku rindu. Saat di mana beban terberat kita hanyalah kerajinan tangan dari senior. Rantai kehidupan belum membelit kaki kita seperti sekarang ini. Dulu kita masih punya banyak waktu luang untuk bercengkerama dan berbagi cerita.

Waktu kosong sepulang kuliah pernah jadi kemewahan yang tak ada duanya. Kita akan berkumpul, sembari makan atau sekadar berbagi cerita

Ingatkah kamu bagaimana dulu kita bergosip selepas kelas? via batesnews.tumblr.com

Persahabatan kita bersama kian lekat saja, kita berenam memang sangat kompak. Berada dalam satu jurusan dan satu kelas yang sama membuat kita punya kesempatan untuk bertemu setiap waktu.

Kian dekatnya jalinan persahabatan membuat kita sering berbagi hal. Kita selalu menghabiskan waktu untuk bercengkerama dan berbagi cerita dimana saja. Di kantin hingga senja atau bahkan berbagi curahan hati sederhana di kelas sembari menunggu dosen yang tak kunjung tiba.

Bahkan, kita tak lagi memanggil nama dengan nama lahir masing-masing. Ya, kita punya julukan unik tersendiri berdasarkan watak serta kepribadian yang kita miliki. Melontarkan candaan yang bisa memerahkan telinga juga bukan masalah bagi kita. Kita sudah sangat paham dengan watak masing-masing. Bahkan, kita sudah sangat nyaman satu lain sehingga sering berbagi rahasia kecil masing-masing.

Dalam setiap sapaan “Nyet”, “Cuk”, “Ndut” di antara kita — aku tahu ada perhatian dan penerimaan yang dalam di sana.

Kita pernah bertengkar dan berubah jadi manusia keras kepala. Namun toh persahabatan kita justru kian lekat saja

Bertengkar itu pasti. Tapi pertemanan kita justru kian lekat dijalani via 31daysofawesome.com

Persahabatan kita memang tak selamanya lekat. Ada masa dimana kita tidak sejalan kemudian hubungan kita merenggang. Kita jarang berkumpul bersama karena terbelit berbagai kesibukan. Aku yang saat itu repot  dengan pekerjaan paruh waktu sangat sulit mendapatkan waktu luang. Kalian pun begitu, ada yang sedang sibuk mengulang mata kuliah, giat dengan organisasi kampus, atau bahkan sibuk menganyam cerita cinta.

Memang kesibukan kita sedikit banyak membuat jeda. Bahkan, tidak jarang kita akan berselisih pendapat karena masalah sederhana. Membuat kita enggan bertukar sapa dan bertatap muka. Namun, kemudian kita menyadari kebodohan kita. Kita akhirnya kembali rukun dan berusaha meluangkan waktu untuk berkumpul sejenak walaupun tidak selalu bisa dengan formasi yang sempurna. Pasti ada dua atau tiga orang di antara kita yang masih tidak bisa datang.

Di antara kesibukan dan sifat keras kepala kita, persahabatan ini tetap terjaga sampai kita meraih gelar sarjana.

Kini kita memang tak bisa bertemu sesering dulu. Kewajiban sebagai orang dewasa banyak tertumpuk di bahu. Satu yang perlu kau tahu, doa dan rindu untukmu akan tetap datang tanpa jemu

kalian adalah keluargaku via facebook.com

Kalian memang benar-benar keluarga baru yang kumiliki di tanah rantau. Ingatkah kalian saat harus merawatku karena aku terserang demam dan hanya bisa berbaring di kasur kamar kos? Atau bahkan saat salah satu dari kalian sedang patah hati dan membutuhkan bahu untuk bersandar dan telinga untuk berbagi cerita?

Aku juga akan selalu ingat bagaimana kita menghabiskan waktu bersama untuk menjelajah keelokan kota dengan modal seadanya. Ah, hei, dan ingatkah kalian saat di musim libur beberapa dari kita tidak bisa pulang ke tanah kelahiran karena harga tiket pesawat yang tidak terjangkau? Tapi toh itu bukan masalah besar karena kita memiliki satu sama lain.

Ya, menonton film dari layar laptop di kamar kos yang sederhana sudah bisa dianggap sebagai pengganti waktu bercengkerama bersama keluarga. Atau bahkan saat kita memasak bersama di dapur kos dan ketika kita bermain gitar bersama mengisi udara dengan suara-suara sumbang yang tidak tepat nadanya. Pertemuan kita juga selalu ditutup dengan cerita yang tak kunjung ada habis. Mengenai kehidupan, mimpi, serta masa depan. Satu hal yang selalu berdengung di kepalaku..

Bagaimana kabar kalian saat ini? Sudahkah mimpi kalian tergenapi?

Maukah kalian meluangkan waktu supaya kita semua bisa berkumpul dan bercengkerama?

Demi sejenak bernostalgia mengulang masa muda.

Dariku,

sahabat kalian yang sudah terbelit rindu