Dalam sebuah hubungan cinta, jarak dianggap identik dengan cobaan atau kesedihan. Wajar saja, dua orang yang saling menyayangi pastilah ingin selalu bersama. Sepasang kekasih tentu akan lebih bahagia jika bisa kemana-mana berdua.

Sayangnya, setiap hubungan pastilah punya potensi mengalami masalah atau perselisihan. Menyatukan dua orang dengan karakter dan kepribadian berbeda tentu bukan perkara sederhana. Dan ketika dua orang yang saling mencintai tak lagi bisa bicara, jarak adalah satu-satunya yang bisa jadi mendamaikan keduanya.

“Hey kamu, Kesayanganku, apa kabarmu? Setelah berminggu-minggu kita tak bertemu, adakah kamu tengah menabung rindu?”

Kita adalah dua orang yang sama-sama keras kepala. Masalah membuat kita terlalu keras berusaha tanpa mau mengoreksi diri untuk menemukan solusinya

semakin keras berusaha, masalah justru kian memburuk via www.flickr.com

Aku akui. Masalah denganmu memang demikian menyita energi. Sehari-hari, kepalaku hanya dipenuhi pertanyaan perihal apa yang terjadi dalam hubungan kita. Aku merasa begitu stres dan putus asa. Merutuki kenapa yang terjadi di antara kita seperti tak ada akhirnya. Jujur aku pun merasa takut, karena tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa saling menyakiti seperti ini. Lantaran takut kehilangan, aku memaksa diriku sendiri supaya lebih keras berusaha demi bisa menyelesaikan masalah kita.

Advertisement

Tapi, lihat apa yang justru terjadi. Kita selalu sama-sama emosi. Berkali-kali kita bertemu dan membicarakan masalah yang terjadi, kita malah bertengkar hebat. Tak bisa mengendalikan diri dan tak mau bicara dengan kepala dingin. Masalah kita tak selesai, Sayang, tapi malah semakin parah dan runyam. Ya, karena kita tak pernah berusaha introspeksi sebelumnya. Ketika aku dan kamu sama-sama keras kepala, kita tak bisa berpikir terbuka dan menemukan solusi untuk masalah kita.

Aku dan kamu ibarat pendaki yang sudah kelelahan. Kita tak bisa melanjutkan perjalanan – kita butuh istirahat, menenangkan diri, dan merenungi keadaan

ada kalanya kamu harus sendirian via www.flickr.com

Jika kita sepakat untuk sejenak berpisah, bukan berarti kita sudah menyerah. Aku dan kamu bukannya tak mau berusaha, tapi usaha yang tak putus-putus justru membuat kita kelelahan luar biasa. Kamu yang sangat aku cintai, kini justru jadi orang yang paling ingin aku hindari. Aku tak mau jika kita kembali bertemu, berdebat, dan kembali saling menyakiti.

Tentu kamu setuju denganku, Sayang. Kamu pun merasakan bahwa hubungan kita memang perlu sejenak rehat daripada dilanjutkan tapi penuh pertengkaran. Aku tahu ini bukan perkara mudah. Kita yang sekian tahun bersama tak akan terbiasa hidup terpisah lama-lama. Tapi, sepertinya perpisahan sementara adalah jalan terbaik. Kita butuh jarak yang mungkin akan mendamaikan. Kita sama-sama menginginkan perpisahan demi bisa saling merindukan.

Sejenak berpisah bukan berarti ingin lari atau menyerah kalah. Kita hanya sejenak rehat demi bisa menguraikan masalah

fokus pada dirimu sendiri via www.flickr.com

Masalah memang berhasil membuat kita tertekan. Semakin keras berusaha dan semakin sering pula kita dihantui rasa putus asa. Jika keadaan sudah demikian mengerikan, bukankah lebih baik jika kita bisa bersikap lebih ‘lunak’ pada diri sendiri?

Aku dan kamu sama-sama butuh kebebasan. Menikmati kesendirian, merasakan kehilangan, hingga bisa kembali saling merindukan. Kita pun berhak merasakan kebahagiaan-kebahagiaan baru ketika hubungan antara aku dan kamu tak lagi bisa membuat kita tersenyum gembira.

Ya, masalah antara kita memang harus diselesaikan. Tapi, kita tak harus menetapkan batas waktu yang semakin membuat kita tertekan. Sejenak sendiri membuat kita menguraikan masalah dengan lebih baik lagi. Dan kita pun mulai berusaha memandang apa yang terjadi dari berbagai sisi.

Jarak yang terbentang akan membuat kita meremang. Dan tanpa pertemuan, kita justru akan belajar mengakui kesalahan

jujur mengakui kesalahan masing-masing via www.catholicchapterhouse.com

Kesendirian memang lekat dengan momen introspeksi. Saat kita tak lagi bertatap muka, perlahan segala ego dan rasa sakit hati itu akan luruh dengan sendirinya. Banyak hal yang akan berubah. Aku tak lagi sibuk mengkritisi kekuranganmu. Begitu pun kamu, yang tak jadi melimpahkan semua masalah di pundakku.

Ya, di titik ini kita sepakat untuk sama-sama melihat sisi baik dari sebuah pertengkaran yang menyakitkan. Bahwa aku dan kamu adalah sebenar-benarnya manusia yang punya banyak kekurangan dan cela. Jika di hari-hari kemarin kita bisa demikian ngotot merasa jadi pihak yang paling benar, kesendirian membuat kita berani mengaku salah.

Perpisahan yang sementara menjadikan kita mengingat kenangan indah saat bersama. Jika aku mulai menabung rindu, dan bukankah kamu pun begitu?

mensyukuri kebersamaan via www.flickr.com

“Sejenak berpisah akan membuat kita saling merindukan. Kita perlu merasakan kehilangan agar bisa mensyukuri sebuah kebersamaan.”

Setelah sepakat sejank berpisah dalam rangka “gencatan senjata”, aku dan kamu kembali bisa menetralkan suasana. Betapa ajaibnya sebuah perpisahan, karena setelahnya aku justru sibuk mengingat-ingat kebersamaan kita dulu. Merindu betapa senangnya jika kita bisa kembali menjalani hubungan yang sehangat dulu.

Bayangan pertengkaran yang pernah kita alami tak lagi mengganggu pikiranku. Aku hanya mengaku bahwa kesendirianku saat ini tak lebih baik daripada kebersamaan kita dulu. Aku setuju, jika manusia memang harus kehilangan terlebih dahulu sebelum mensyukuri apa yang sudah dia miliki.

Kita berpisah, tapi kita pun sama-sama tak merasa gelisah. Jauh darimu bukan berarti kehilangan, justru cara inilah yang akan membuat kita kembali bertemu dalam pelukan

jaraklah yang menyelamatkan hubungan kalian via www.flickr.com

Perpisahan sementara ini jelas tak perlu dirutuki. Toh aku dan kamu bisa sampai di titik ini lantaran sikap egois yang sama-sama kita miliki. Biarkan saja waktu berlalu tanpa ada kamu di sisiku. Aku hanya yakin bahwa cepat atau lambat kita akan kembali bersatu.

Mari berjanji untuk memanfaatkan perpisahan ini dengan sebaik-baiknya. Berjanjilah bahwa aku dan kamu akan sama-sama memperbaiki diri dan belajar jadi pendamping yang lebih baik lagi. Kelak saat aku dan kamu sepakat untuk kembali, kita bisa menjalani hubungan yang lebih baik lagi. Dan perpisahan ini pulalah yang menyadarkan kita, bahwa cinta dan kasih sayang yang kita punya sudah teruji kekuatannya.

“Kita sedang sama-sama menunggu, mencerap waktu dan bersiap untuk bertemu. Aku sudah rindu, tentang senyum dan pelukan hangatmu yang kini memenuhi isi kepalaku.”