Untukmu yang terlanjur aku tumpukan cinta dan rindu. Yang aku usahakan kebahagiaanmu, tapi tak berbekas pada kebahagiaanku sendiri. Tak mengapa. Tuhan selalu punya rencana di saat menyatukan dua makhluk. Meskipun kau nanti bukanlah nama yang tertulis di janjian-Nya padaku, setidaknya aku pernah mengusahakanmu. Mati-matian.

Kalau kamu mau tahu, sejak kepergianmu inilah yang kini aku rasakan. Tapi tenang, aku tetap baik-baik saja. Melanjutkan hari seperti biasa.

Kau tahu, harapanku yang terlalu besarlah yang menguatkanku untuk tetap berjalan di sisimu

Ada harapan yang terlalu besar via pixabay.com

Jika ada sebuah pertanyaan tertuju padaku, tentang bagaimana aku masih bisa melangkah di sisimu, jawabannya hanya satu. Harapanku. Ya, harapan yang tak bisa aku batasi. Yang semakin hari semakin tinggi. Harapan agar kamu bisa menyadari besarnya cintaku. Agar kamu, sewaktu-waktu bisa membalas cintaku.

Tenang saja, perasaanku bisa dinomorduakan dulu, yang penting dalam hubungan saat ini adalah kamu

Kamu yang terpenting via www.logancoleblog.com

Advertisement

Mungkin tak ada “aku” dalam hubungan ini. Karena yang paling penting untuk saat ini adalah kamu. Kebahagiaanmu yang entah kenapa selalu menjadi apa yang aku kedepankan. Mungkin karena posisiku sebagai orang yang mencintai lebih besar, maka aku menjadi orang yang paling bertanggung jawab. Tentunya agar hubungan kita masih terus bertahan. Tenang saja. Aku masih bisa menunggu. Menantimu melakukan hal yang sama untukku suatu saat nanti 🙂

Perasaan cinta yang aku beri dan sakit yang aku terima, selalu berbanding lurus. Sama-sama semakin tajam

Semakin besar cintaku, semakin pedih sakit yang kuterima via s-media-cache-ak0.pinimg.com

Kau tahu, apa yang aku rasakan sulit dipercaya. Bukankah perasaan cinta seharusnya berkebalikan dengan sakit yang diderita? Semakin besar cinta yang ada tentu akan membuat rasa sakit dan luka akan semakin pudar bahkan sirna. Tapi kenapa kepercayaan itu tak berlaku untukku? Mengapa cinta yang aku beri dengan bersungguh-sungguh nyatanya memberikanku rasa perih yang nyata? Oh ya, aku lupa. Karena aku mencintaimu lebih dari yang seharusnya. Dan kau, menjalani hubungan denganku secara apa adanya dan tanpa usaha.

Dan saat mereka di luar sana meremehkan hubungan ini, aku hanya bisa tersenyum dan berteriak dalam hati “Kalian tak tahu pengorbananku seperti apa”

Tak ada yang tahu pengorbananku seperti apa via dylandsara.com

Memang, hanya aku dan kau yang menjadi lakon dalam hubungan ini. Hanya aku dan kau yang menjalani dan tahu bagaimana hubungan ini berjalan. Dan mereka, hanya bisa menghakimi dari luar. Mereka dengan mudahnya akan berkata “Mengapa kamu masih menjalani hubungan itu? Mengapa kamu masih bertahan dengan dia yang mungkin menganggapmu sebagai tempat untuk istirahat, bukan untuk pulang?”

Tentu aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum. Karena sekuat apapun aku jelaskan, mereka tak akan pernah mengerti. Mereka tak akan pernah paham. Karena di sini, bukan mereka yang berkorban, melainkan aku. Aku yang paham betul bagaimana memperjuangkanmu di saat kamu tak begitu menginginkanku.

Aku tak ingin menjadi orang yang kalah ketika perang berakhir, meskipun dalam hubungan aku selalu menjadi orang yang berdarah-darah

Aku akan memperjuangkanmu via www.wallpaperup.com

Terkadang sebuah hubungan diibaratkan sebagai medan perang. Tempat dimana kamu bertarung untuk bertahan. Mempertahankan dirimu, atau mempertahankan dia agar tak pergi meninggalkan. Mmeperjuangkan cintamu atau memperjuangkan masa depan berdua. Tak ada yang mudah untuk itu.

Dan jika hubungan ini layaknya medan perang seperti orang bilang, aku tak mau menjadi yang kalah saat perang itu berakhir. Aku lebih memilih sebagai orang yang bertahan, meskipun harus berdarah-darah karenanya. Ya, agar nanti ketika semuanya berkesudahan, tak ada penyesalan yang tertinggal. Setidaknya aku pernah memperjuangkanmu mati-matian.

Akan ada pelangi sehabis hujan, begitu juga dengan percayaku dalam hubungan ini. Akhir indah selalu menjadi doa dalam semogaku

Ada doa yang selalu aku panjatkan via www.logancoleblog.com

Ketika kamu memberikan sesuatu tanpa syarat, bukankah nantinya dia akan kembali padamu? Keyakinan inilah yang membuatku begitu mencintaimu. Ya, mencintaimu tanpa syarat. Tak mengapa jika aku harus berusaha seperti ini. Bukankah sesuatu yang berharga tak bisa didapatkan dengan mudah begitu saja? Dan di sinilah aku. Yang sedang menunggu pelangi, meskipun aku tak tahu kapan hujan ini akan berhenti.

Dan ketika Tuhan bilang “Cukup sampai di sini”, maka tak ada lagi rasa penyesalan yang tertinggal. Setidaknya aku pernah berjuang mati-matian

Tidak ada rasa sesal yang tertinggal via www.logancoleblog.com

Sebagai makhluk-Nya, tugasku hanya berusaha. Bersungguh-sungguh kalau aku menginginkannya. Tapi semua keputusan ada di tangan Tuhan, bukan? Setelah usaha yang aku lakukan, setelah doa di setiap malam aku aminkan, maka aku hanya menunggu apa yang akan Dia katakan.

Dan sekarang Tuhan bilang “cukup sampai di sini”, maka di titik ini aku berhenti. Tanpa rasa penyeselan yang tertinggal, karena setidaknya aku pernah memperjuangkanmu. Mati-matian.

Ketika aku sudah memulai sesuatu, maka kewajibanku lah untuk menyelesaikannya hingga akhir. Begitu juga dengan perasaan yang terlanjur aku tanamkan di hatimu. Yang akan aku perjuangkan hingga akhir. Dan saat ini telah berakhir, aku masih bisa melanjutkan hidup. Tanpamu.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!