Putus cinta bukanlah akhir cerita. Ibarat sebuah buku, kisah sedih itu justru tertulis di bab terdahulu. Di bab selanjutnya, masih banyak hal yang akan dikisahkan; termasuk perjuanganmu kala berdamai dengan kesepian dan kegundahanmu saat berharap bisa balikan dengan mantan.

“Aku masih mendengar lagu yang sama dan makan di tempat biasanya. Mungkin, lantaran itu aku sulit melupakan kamu yang tak lagi jadi milikku. Tapi, diam-diam aku masih menunggu – berharap pada kesempatan yang bisa membuat kita kembali bersatu.”

Bayangan mantan dan segala kenangannya memang tak mudah dihilangkan dari pikiran. Tapi, apakah kamu bisa dengan ringan meminta balikan? Akankah memperbaiki hubungan yang sempat patah akan semudah membalikkan telapak tangan?

Memilih balikan dengan mantan bukan perkara mudah karena pasti ada alasan mengapa kalian pernah putus dan mantap berpisah

ada alasan dibalik kata “putus” via www.mirror.co.uk

Kata “putus” tak akan begitu saja meluncur dari mulut kalian. Keputusan untuk berpisah tak mungkin ringan diambil tanpa pertimbangan. Pastilah ada alasan yang kuat hingga kalian akhirnya menyerah dan tak mampu lagi bertahan. Entah masalah yang besar atau justru perkara sepele, yang jelas kalian sama-sama tak lagi bisa mengabaikannya. Mungkinkah kebiasaan buruknya yang tak bisa kamu terima, atau kalian memang punya prinsip hidup yang jauh berbeda?

Advertisement

Sebaiknya, dalam-dalam pikirkan dan renungkan kembali keputusanmu untuk balikan dengan mantan. Tanyakan pada dirimu sendiri – apakah masalah diantara kalian memang masih bisa diselesaikan, atau justru sudah final dan tak ada jalan keluar?

Tak salah jika kamu percaya bahwa setiap masalah pasti bisa diselesaikan asalkan punya kemauan. Tapi, yakinkah kamu bahwa dia punya niatan yang sama besarnya denganmu? Karena ketika hal-hal yang prinsip jadi pengganjal hubungan dan pasanganmu tak benar-benar mau berusaha, bukankah memilih rujuk dan kembali bersama ibarat membuang waktu saja?

Keputusanmu harus dipikirkan matang-matang. Renungkan lagi – apakah kamu benar-benar ingin kembali atau sekadar takut sendiri dan tak sanggup melihat dia yang sudah dapat pengganti?

balikan bukan karena takut kesepian via www.pencourage.com

“Hidup tanpa kamu rasanya seperti neraka. Kesepian menyiksaku dengan hebatnya. Aku tak sanggup sendiri, apalagi membayangkan kamu yang kelak akan menemukan pengganti.”

Putus cinta selalu datang sepaket dengan rasa sepi yang luar biasa menyiksa. Ketika biasanya ada seseorang yang mendampingi, kini kamu dipaksa siap melakukan segala sesuatunya sendiri. Betapa makan rendang di Warung Padang langganan tak lagi senikmat dulu. Film-film terbaru pun tak membuatmu bersemangat untuk buru-buru menyambangi bioskop layaknya masa-masa itu.

Ya, kesendirian memang menjadikanmu begitu rapuh dan hidupmu kian redup. Tapi, apakah pantas jika kesepian dijadikan alasan untuk balikan? Tidakkah keputusanmu akan terkesan tak rasional dan bahkan kekanakan? Selain tak mau sendiri, kamu mungkin sekadar takut patah hati. Tak sanggup jika harus melihat dia menemukan pendamping yang baru lagi. Tak mau menerima kenyataan bahwa dia sudah bisa melupakanmu dan membuka hati untuk cinta yang baru.

Di momen ini, hati dan seutuhnya dirimu memang sedang diuji. Apakah kamu cukup tangguh untuk “selesai’ dengan diri sendiri dan segala yang sudah terjadi? Karena untuk memulai hubungan kembali, kamu dan dia harus sama-sama tuntas berdamai dengan sepi dan masa-masa sendiri.

Keengganan memulai hubungan baru tak bisa dijadikan alasan untuk balikan, pun rasa sayang yang masih tertinggal tak seharusnya membekukan pikiran

perasaan tak boleh membutakan logika via www.louiseholgate.com

Keinginan untuk kembali dengan mantan semakin kuat ketika rasa nyamanlah yang jadi alasan. Ya, kalian memang sudah saling mengenal sekian lama sehingga tak perlu lagi menyesuaikan kebiasaan. Segala baik dan buruk dalam dirinya sudah baik-baik kamu tahu. Bersamanya, kamu pun leluasa tampil apa adanya dan tak perlu berpura-pura.

Sementara, membayangkan memulai hubungan yang baru dengan orang lain tampak sangat melelahkan. Kamu dan pasangan barumu harus mengulang segala sesuatunya dari awal – mulai dari perkenalan, proses pendekatan, hingga jadian. Bahkan, meski akhirnya bisa menjalin hubungan, kemungkinan terjadi perselisihan atau putus toh akan selalu ada.

Selain itu, kamu pun masih menyimpan perasaan yang dalam pada mantan kekasihmu. Kamu belum bisa sepenuhnya move on dan berdamai dengan kisah cintamu yang lalu. Tapi, bukankah perkara cinta atau jodoh akan selalu jadi teka-teki bagi manusia? Tidakkah satu-satunya yang bisa kamu lakukan hanyalah berusaha, termasuk menjajal cinta yang baru?

Jangan berharap pada keajaiban. Balikan tak akan serta merta menyelesaikan semua permasalahan

balikan = sama-sama berusaha untuk berubah via mikemanalac.com

Kalian pernah mantap berpisah lantaran banyak masalah yang terjadi dalam hubungan. Tak bisa dipungkiri, banyak perbedaan yang dimiliki meski selama ini kalian berusaha untuk berkompromi. Kalian pernah sama-sama gigih berjuang meskipun akhirnya gagal juga. Bagaimana pun, perkara gaya hidup, cara berpikir, hingga prinsip hidup memang tak bisa dengan mudah dibuat sejalan.

Meski punya cinta yang besar dan perasaan yang amat dalam, masalah tak bisa dengan sekejap dituntaskan. Kamu dan dia sepatutnya sama-sama tahu bahwa keputusan untuk balikan tak lantas bisa mengubah keadaan. Balikan bukanlah jalan keluar atau solusi instan. Masalah dan ketidakcocokan itu akan tetap ada selama kalian tak berusaha untuk menyelesaikannya.

Pikirkan tentang orang-orang terdekatmu, bukankah ringan balikan itu seperti mempermainkan perasaan teman-teman dan keluargamu?

pikirkan perasaan orang-orang terdekatmu via kentmsoc.wordpress.com

Benar jika kamu dan dialah yang menjalani hubungan. Tapi, tidakkah kamu sadari bahwa ada orang-orang terdekat yang nyatanya juga ikut terlibat? Sabahat dan teman-teman terdekat adalah yang mengiringi kisah perjalanan cinta kalian. Mereka jadi saksi betapa kalian pernah berusaha untuk bersama hingga akhirnya mantap berpisah. Sedikit banyak, mereka pun ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang kalian rasakan.

Sama halnya dengan keluarga, ayah dan ibumu bisa jadi sudah baik-baik mengenal mantan kekasihmu. Bagaimana tidak, hampir 3 kali dalam seminggu dia mampir ke rumahmu. Khusus saat malam Minggu, dia akan datang dengan dandanan yang lebih rapi dari biasanya dan aroma minyak wangi yang lebih kentara. Saat tahu kalian putus, mungkin ayah dan ibumu diam-diam ikut merasa kecewa. Mereka juga belajar untuk merelakan atau mengikhlaskan seseorang yang sebelumnya digadang-gadang jadi pendamping anaknya.

Ringan memilih untuk balikan justru bisa jadi dipandang negatif oleh mereka. Sikap impulsifmu menandakan bahwa kamu dan mantanmu belum bisa menjalani hubungan dengan dewasa.

Dulu, dia pernah selingkuh atau bersikap kasar padamu. Jika akhirnya balikan, adakah dirinya tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?

kesalahan tak boleh diulangi lagi via www.gopixpic.com

Masalah akan semakin rumit jika pasanganmu pernah menyakiti atau bersikap tidak setia. Mungkin, pilihan untuk putus kamu ambil lantaran dia pernah selingkuh dengan perempuan lain. Bisa juga karena dia sering bersikap kasar, baik secara fisik maupun verbal. Nyatanya, kamu pun menyadari bahwa bersamanya kamu jadi lebih sering menangis atau bersedih.

Setelah putus, tak ada jaminan dia sudah benar-benar berubah. Tak ada yang menjanjikan bahwa dia tak akan mengulangi kebiasaan-kebiasaan buruknya itu. Ketika pernah melanggar komitmen, justru besar kemungkinan dia bisa mengulanginya lagi. Bahkan jika sudah terbiasa berbuat kasar, dia tak akan mudah berubah kecuali setelah mendapat terapi untuk menyembuhkan kebiasaannya tersebut.

Apakah kamu memang berani mengambil risiko? Bukankah sakit hati untuk kedua kalinya akan terasa jauh lebih mengerikan daripada yang pertama?

Sikapmu tak bijaksana jika keputusan untuk kembali pacaran hanya didasarkan pada rasa kasihan semata

mencintai tak sama dengan kasihan via freewallsource.com

Ya, melihat mantan kekasih yang hidupnya berantakan setelah putus, kamu merasa tak tega. Ketika dia mati-matian berusaha demi bisa mendapatkan hatimu lagi, kamu pun luluh dan tak kuasa menolak dia. Namun, kamu sadar bahwa perasaan yang kali ini kamu punya bukanlah sayang atau cinta, melainkan sekadar rasa kasihan.

Sayangnya, hubungan yang semacam ini justru tak akan bertahan lama. Sama halnya kamu sedang membohongi dia, sekaligus tak jujur pada dirimu sendiri. Perlakuan semacam ini malah akan menyakiti mantan kekasihmu dan tentunya dirimu sendiri. Setiap orang berhak dicintai dan mencintai dengan perasaan yang tulus. Tak seorang pun layak dibohongi atau menjalani hubungan dalam kepura-puraan.

Kamu dan dia tak seharusnya memaksakan keadaan. Sesuatu yang tidak tertakdirkan akan lebih baik jika dilepaskan

jangan memaksakan keadaan via www.edmundphoto.com

“Jika dia memang jodohku, maka bantulah kami kembali bersatu. Tapi, jika dia bukan untukku, maka temukan aku dengan cinta yang baru.”

Kalimat doa seperti di atas mungkin sudah kamu rapal setiap harinya. Kamu sadar bahwa berserah adalah satu-satunya cara untuk membuat hatimu lebih tenang. Bagaimana pun, perkara jodoh memang akan selamanya jadi rahasia. Soal cinta ibarat teka-teki yang harus diselesaikan sendiri. Pasangan yang menggenapkan mungkin baru bisa kamu temukan setelah merasakan jatuh bangun dan melewati perjalanan yang panjang.

Hubungan dengan mantan kekasihmu mungkin memang harus diakhiri demi kebaikan bersama. Mantan kekasihmu bisa jadi hanyalah sebuah persinggahan, sedangkan jodoh yang sebenar-benarnya mungkin sedang menantimu di luar sana. Kamu akan sampai pada dia yang memang tertakdirkan untukmu ketika berhasil melewati ujian ini; merelakan dan melepaskan mantan kekasih yang mungkin masih sangat kamu cintai.

Kadang, cinta memang butuh diperjuangkan. Tapi, ada kalanya kamu tak perlu terlalu keras berusaha dan lebih baik menyerah saja. Dibalik keputusan untuk kembali pada mantan akan selalu ada dua kemungkinan; apakah berhasil atau justru gagal untuk kedua kalinya. Semoga setelah ini kamu bisa lebih bijaksana untuk memutuskan, ya! 🙂