Aku harap ketika membaca ini, kamu tidak berpikir macam-macam. Ini bukan fase di mana aku ragu dengan dirimu dan mencari-cari alasan untuk menjauhkanmu. Tidak, kamu adalah hal terbaik dalam hidupku dan aku menikmati setiap waktu yang bergulir bersamamu. Kamu adalah angin sejuk di musim panas dan selimut hangat di musim penghujan. Entah keberuntungan macam apa yang ku dapatkan sehingga semesta mengirimkanmu untukku.

Tapi aku tidak ingin hanya jadi orang beruntung. Lihatlah, aku berusaha memantaskan diri untukmu setiap hari. Aku belajar melepaskan egoku dan bernegosiasi dengan hati nuraniku sendiri. Hanya saja, dalam perjalanannya, tanpa sadar aku sudah banyak mengubah diriku. Ada hal-hal yang jika dipaksakan terlalu jauh, aku akan hilang arah.

Kamu mungkin saja mendapatiku menjelma menjadi sosok ideal. Namun jika itu bukan diriku yang sesungguhnya, apa gunanya?

Kita sudah sangat dekat, bukan? Ini mungkin saat yang tepat untuk kamu tahu beberapa hal lain tentang diriku.

Walau bagi beberapa orang ini adalah kebiasaan, namun bangun pagi bagiku adalah siksaan.

Perjuanganku setiap pagi. via www.thrillist.com

Advertisement

Entah sudah berapa ayam yang kenyang mematuk rezekiku. Balapan dengan matahari pagi dan melakukan aktivitas saat embun pagi masih segar menghiasi dedaunan bukanlah hal yang dengan senang hati aku lakukan. Kamu mengerti, kan, bahwa aku lebih baik begadang semalam suntuk untuk mengerjakan kewajiban-kewajibanku ketimbang bangun pagi dan memulai segalanya lebih awal? Mungkin nanti kalau kau hidup bersamaku, kita perlu pikirkan cara agar sarapan pagi kita tidak melulu roti dan susu instan.

Hanya pencitraan, sebenarnya aku tidak telaten seperti ibumu. Kamarku tak selalu rapi yang seperti kamu kira.

kamarku bisa berantakan parah via favim.com

Aku kagum pada ibumu, sosok lembut yang selalu tangkas menjadi andalan yang membuat rumah jadi nyaman. Di bawah tangan cekatan ibumu, tidak ada barang-barang yang tertinggal tidak pada tempatnya, kaca yang berdebu, seprei yang berkerut, baju kotor yang menumpuk, serta lantai yang bernoda. Aku tahu anak laki-laki selalu mengidolakan ibunya.

Aku pun akan berusaha mencontoh seorang ibu sebagai teladan yang baik. Buktinya, jika kamu bertamu ke rumah, tentu saja aku sudah berbenah terlebih dahulu. Kamu rajin ya, pujimu pada suatu waktu. Ah, andai kau tahu bahwa sebenarnya aku ini sangat berantakan. Beres-beres rumah itu tidak masuk dalam prioritas utamaku. Setiap hari energiku ini sudah habis untuk hal-hal lain, misalnya memikirkan cara mengentaskan kemiskinan di dunia ini.

Aku tahu jika sudah tiba waktunya nanti, mengganti popok anak tidak bisa ditunda-tunda. Namun saat ini, tolong maklumi kalau aku tidak akan mengerjakan tugas sebelum tenggat waktunya tiba.

berteman dengan deadline via little-love-secrets.tumblr.com

Walaupun sepertinya aku sibuk mengerjakan banyak hal, sebenarnya aku tidak dapat bekerja maksimal jika belum dikejar deadline. Salut rasanya melihat teman-teman yang sangat teratur dan bisa mengerjakan pekerjaan di awal waktu. Tidak seperti mereka, aku ini lebih mirip mobil balap, butuh pemanasan lama dulu baru bisa melaju dengan kencang.

Aku mengerti bahwa dalam hubungan yang lebih serius, kebiasaan buruk ini akan jadi malapetaka untuk kita. Tidak mungkin urusan undangan, pelaminan, katering, dan baju pengantin itu baru mulai dikerjakan sebulan sebelum hari pernikahan. Tapi tenang saja, aku perencana dan eksekutor yang baik, kok. Hanya saja masih suka menunda-nunda pekerjaan karena jauh di lubuk hatiku aku percaya, semua pasti bisa kulakukan.

Di balik bacaan dan tontonan berat yang kau tahu itu, sebenarnya aku paling suka cerita ringan tentang asmara. Ringan, namun menyentuh hati.

Kenapa sih mereka mempesona sekali? via malesbanget.com

Berita politik, ekonomi, hukum serta diskusi tentang ketimpangan sosial dan pembangunan bangsa itu memang sering mengisi kepalaku. Namun tahukah kau, sebenarnya aku paling suka membaca novel tentang asmara yang tokoh laki-lakinya membuat hatiku berbunga-bunga. Juga menonton drama tentang percintaan yang membuat air mataku jatuh begitu saja. Selama ini aku cuma gengsi mengatakannya.

Aku tahu kamu tidak suka jika aku dan teman-temanku mulai ngerumpi. Tapi pahamilah, ini cara kami menjaga kedekatan satu sama lain.

Jangan bilang siapa-siapa plisss… via situshiburan.com

Kami tidak punya niat jahat, kok. Terkadang perempuan dan laki-laki punya definisi berbeda tentang ngomongin orang lain. Bagi kalian mungkin tidak ada gunanya ikut campur hubungan orang lain, atau tidak ada esensinya membahas masa lalu yang sudah lewat. Bagi kami, pembicaraan ringan seperti itu membuat kami tetap terkoneksi. Di dalam hidup yang semakin sibuk ini, semua orang punya hidup sendiri-sendiri dan menemukan kesamaan itu susah sekali. Makanya ketika sudah bertemu teman yang cocok untuk berbicara, kami tidak bisa berhenti.

Memang sih, ngerumpi itu sarat gossip yang sebaiknya dihindari. Tapi jika kamu benar-benar percaya padaku, kamu tidak akan khawatir karena aku bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Aku hanya sedang menikmati waktu berkualitas dengan teman-temanku. Oke?

Aku menjaga penampilanku jika keluar denganmu di acara penting. Namun sebenarnya, dandanan cantik itu persiapannya ribet dan tidak nyaman. Jangan paksa aku tampil seperti itu setiap waktu.

persiapannya ribet via www.aliexpress.com

Setiap berjalan sebagai pendampingmu di acara-acara penting, aku sangat menikmati perhatianmu atas penampilanku yang sudah kupoles sempurna. Aku juga tahu kamu diam-diam bangga bisa memamerkan kekasih yang menawan di depan orang-orang. Tapi ketahuilah, semakin kamu puji aku cantik, semakin gelisah rasanya perasaanku karena itu artinya, ada standar penampilan baru yang harus kupenuhi di kesempatan berikutnya. Standar tersebut harus meningkat, memikirkannya saja membuatku tertekan. Kamu memang tidak pernah menuntut dan aku juga tidak merasa terpaksa dalam menjaga penampilan. Hanya saja, karena sekarang aku sudah jujur, semoga kamu bisa mengerti bahwa aku lebih suka tampil biasa saja di hari-hari ketika kita cuma berdua saja.

Kata mereka, perempuan taat agama itu layak dijadikan panutan untuk anak-anaknya. Aku sedang berproses, tapi butuh waktu.

Berjalanlah bersamaku dalam proses ini. via www.idntimes.com

Tahukah kau jika mendengarkan nasihat Mama Dedeh, aku jadi merasa kecil dan rapuh? Betapa belum sempurnanya imanku ini. Tapi jika aku berpendapat bahwa iman itu adalah proses dan bukan paksaan, apakah kamu akan marah? Pengetahuan agamaku belum tinggi, itulah mengapa aku masih mencari-cari banyak pembenaran sehingga keyakinanku tidak lagi dapat disangkal bahkan oleh diriku sendiri. Tolong bimbing aku dengan sabar, karena mungkin aku akan bertanya tentang beberapa hal.

Percayalah, di balik sikap percaya diri yang kutunjukkan ini, banyak kecemasan yang kusimpan sendiri.

Semoga setelah kamu mengetahui ini semua, kamu bisa melihatku sebagai seorang manusia biasa. Janji ya, kamu tidak akan memaksaku berubah kecuali atas keinginanku sendiri?