Sambil mendengarkan lagu Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu (yakin lagu ini sekarang jadi favorit banyak orang setelah dipakai menjadi backsound video nikahan Raisa dan Hamish), pikiran saya jadi melanglang buana ke sebuah perumpamaan; bahwa semua pasti ingin hubungan yang sedang dijalani saat ini awet, langgeng sampai duduk bersanding di pelaminan, hingga nanti sama-sama jadi debu.

Namun kenyataan kadang tak bisa dipaksakan untuk bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Dia yang dicinta, malah lebih dulu menyampaikan kata sudah. Tidak cocok, jadi alasan kuat saat ditanya mengapa. Kalau sudah begini, apa lagi yang mau dikata? Mempertahankan bukan jadi pilihan yang bijak. Tapi, benarkah putus cinta ‘hanya’ karena adanya ketidak cocokan semata? Siapa tahu sebenarnya 5 hal ini yang jadi alasan utama di balik semuanya.

1. Omongan teman kadang justru lebih dipercaya. Karena hasutan merekalah kata putus yang akhirnya jadi titik temu

Dengerin omongan teman via www.shutterstock.com

Namanya juga teman, banyak cara dari mereka untuk memberikan dukungan termasuk dengan cara memberi masukan —bahkan juga komentar. Tak jarang beberapa teman tersebut justru seakan menghasut untuk sesuatu yang mungkin kamu sendiri belum yakin. Sindiran bahkan cibiran yang mereka utarakan mengenai hubunganmu dan pasangan seringkali malah membuat muncul gejolak untuk membenarkan omongan mereka.

Alhasil, rasa bimbang yang ada ditambah omongan teman-teman jadi kombinasi yang pas untuk membuat keputusan bahwa hubungan yang sedang dijalani memang sebaiknya diakhiri saja. Padahal, kamu dan pasanganlah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hubungan kalian, bukan orang lain.

2. Saking lamanya pacaran, kadang kita lupa (atau bahkan malas) untuk memberikan pujian. Dari sinilah semua masalah bermula

Advertisement

Udah jarang kasih pujian via www.lovedignity.com

Pujian memang tidak harus dikatakan setiap waktu. Namun, hubungan yang sudah terjalin lama terkadang membuat pujian hanya sekadar ilusi. Entah karena malas atau memang sudah tidak ada feel-nya, pujian justru jadi hal yang enggan untuk diucapkan. Padahal jarang memuji bisa jadi awal mula sebuah pertengkaran dan juga konflik terjadi. Kalau sudah begini, hubungan berubah jadi membosankan dan perlahan rusak karenanya.

3. Abai dengan privasi pasangan. Dia memang pacarmu, tapi bukan berarti bebas membuka semua media sosial hingga isi HPnya, bukan?

Sukanya ngecek HP pacar via dcwkly.com

Waspada atas banyaknya kasus perselingkuhan memang tidak salah, namun bukan berarti kamu harus selalu cek HPnya, media sosialnya, bahkan sampai segala macam aktifitasnya setiap waktu. Alih-alih merasa diperhatikan, pasanganmu justru akan merasa risih dengan perlakuan ini. Perasaan sulit pecaya ini yang malah jadi pemicu rusaknya sebuah hubungan. Padahal hubungan yang baik adalah yang dilandasi rasa percaya satu sama lain.

4. Manja memang sesekali diperlukan. Tapi, jika keterusan, bisa jadi bumerang juga

Terlalu manja via www.lovepanky.com

Punya pacar bukan berarti harus bermanja-manja setiap saat. Justru yang mandiri, punya kesibukan dan menunjukkan potensi diri-lah yang lebih disukai. Dengan begitu, pasanganmu tidak akan terikat setiap waktu hanya dengan mengurusimu. Hal inilah yang mungkin membuatnya bosan dan ingin segera lepas darimu. Karena meski menjalin hubungan, pasangan tidak boleh jadi satu-satunya bagian hidupmu.

5. Berharap pasangan seperti tukang ramal yang tahu segalanya tanpa komunikasi

Pacar bukan peramal via elitedaily.com

Sering berantem hanya karena pasangan dianggap kurang peka dan tidak mengerti maumu juga jadi salah satu pemicu kandasnya sebuah hubungan. Jika tidak disampaikan baik-baik, jangan kira si dia akan selalu tau apa mau kita.  Jangan berharap dia bisa peka dan langsung tahu begitu saja. Karena bagi kebanyakan orang, mereka tidak akan pernah tahu kamu merasa disakiti kalau kamu tidak memberitahu mereka.

See, ada banyak akar yang jadi penyebab sebuah hubungan berakhir. Padahal, jika ditelaah lagi kesemuanya ini bisa saja diatasi asal ada komunikasi dan dibicarakan baik-baik. Namun jika akhirnya putus juga, jadikan pelajaran untuk tidak mengulanginya pada hubungan berikutnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya