A:        Eh bro, anak mana lo?

            B:         Pemalang.

            A:        Ooooh…

            B:         Emang tau lo?

            A:        Tau. Malang kan? Jawa Timur?

            B:         Bukaaaan…

            A:        Eh, kirain! Emang di mana tuh?

            B:         Jawa Tengah, Pantura.

            A:        Oooooh, Tegal? Pekalongan?

            B:         Bukaaan! Nah, itu di antara 2 kota itu.

            A:        Emang ada kota lagi ya di situ? Comal?

            B:         Aaaaaaaaarrrgh!

Woi, anak Pemalang pernah mengalami hal kayak gini kan? Iya, memang! Jika dibandingan dengan dua kota tetangganya yaitu Tegal yang terkenal dengan warung dan logat ngapaknya yang khas dan Pekalongan yang tenar dengan sentra produksi batiknya, nama Pemalang memang lebih jarang terdengar. Mungkin kebanyakan orang taunya Pemalang itu cuma Comal. Padahal Comal hanya merupakan salah satu dari 14 kecamatan yang ada di Pemalang.

Ya, begitulah nasib kota kecil yang “nyempil” di antara dua kota cukup besar. Walaupun demikian, Pemalang punya banyak makanan lezat yang selalu dirindu oleh para warganya yang tengah  merantau di penjuru Nusantara. Bahkan mungkin dunia. Apalagi di bulan Ramadhan gini, orang Pemalang yang mengadu nasib di berbagai kota besar pasti ingin segera pulang kampung untuk bernostalgia dengan masakan cita rasa khas Pemalang. Apa aja sih? Yuk, check it out!

1. Lotek

Lotek sayur plus mi useg~ via https://pbs.twimg.com

Ya, lotek! Makanan serupa pecel ini memang jadi idola masyarakat Pemalang untuk melengkapi camilan seusai shalat tarawih. Apa yang istimewa? Walaupun mirip pecel, tapi dari segi rasa agak beda. Lotek tidak ada campuran bawang putih, kencur, maupun daun jeruk yang biasanya dicampurkan pada bumbu pecel di daerah lain.

Selain lotek yang terdiri atas berbagai sayuran seperti kangkung, kacang panjang, daun ubi, kecipir, sawi, nangka muda, tauge, dan ketimun, ada juga lotek yang dicampur dengan mi useg. Bumbu kacang yang pedas, gurih, dan manis berbaur dengan renyah dan gurihnya mi useg. Bikin nagih deh! Soal harga jangan khawatir! Seporsi lotek bisa dibeli dengan harga Rp 2.000,00-Rp 5.000,00!

FYI, Mi useg adalah kerupuk mi yang digoreng dengan pasir yang memang banyak dijajakan di daerah pantai utara Jawa. Mi useg ini emang jadi camilan favorit masyarakat Pemalang.

2. Kraca

Advertisement

KRACA atau keong atau tutut via http://wwwsonofmountmalang.files.wordpress.com

Sebagian orang mungkin menganggap keong sawah ini sebagai hama. Tapi di tangan para ahli, hewan berprotein ini disulap menjadi makanan ekstra nikmat gak kalah dengan hidangan Escargot dari Perancis sana. Keong yang sudah dicuci bersih kemudian dimasak dengan berbagai bumbu seperti ketumbar, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan bumbu rahasia lainnya ditambah dengan parutan kelapa yang masih muda.

Hidangan ini selalu dirindu, terlebih lagi panganan ini memang lebih mudah dijumpai saat Bulan Ramadhan tiba. Tak ayal jika para perantau selalu ingin segera pulang untuk menikmati sensasi asyiknya mencongkel daging keong yang kenyal dari cangkangnya serta menyeruput gurih pedas kuahnya. Sluuurp! Dengan uang Rp 2.000,00 saja, udah bisa bawa pulang semangkuk kraca yang lezat.

3. Bongko Mento

gurihnya~ hmmm… via http://www.tribunnews.com

Bongko yang biasa dikenal masyarakat adalah yang berbahan dasar pisang dan rasanya manis. Beda dengan bongko yang satu ini! Terbuat dari adonan tepung terigu yang didadar dan diisi oleh tumisan buah pepaya muda yang sudah dibumbui sedemikian rupa dan ditambah suwiran ayam. Semua itu dibungkus dalam daun pisang, yang kemudian dikucuri kuah santan kental baru kemudian dikukus sampai matang.

Rasanya? Istimewa! Kenyal dan lembut adonan, gurih isian dan santannya, aroma daun pisangnya bikin kamu gak pernah lupa sama rasa khasnya! Soal harga, cukup Rp 3.000,00 kamu sudah dibuat ketagihan sama bongko yang satu ini.

4. Sate Loso

Empuk daging dan pedas sambalnya, nampol banget! via https://wisatapemalang.files.wordpress.com

Ah, paling juga kayak sate biasa! Eits, tunggu dulu! Sate yang terbuat dari daging kerbau yang konon minim kolesterol ini, begitu empuk dan nikmat dengan balutan sambal kacang berwarna merah nan pedas dan nampol di lidah. Belum lagi kalau ditemani dengan semangkuk sup loso yang berisi potongan daging has dalam dan urat, serta tauge diguyur kuah kaldu gurih dan panas.

Dengan merogoh kocek Rp 4000,00 untuk tiap tusuk satenya dan Rp 10.000,00 untuk semangkok supnya, sepertinya cocok dan tak terlalu mahal untuk hidangan buka puasa istimewa.

5. Lontong Dekem

Lengkapi “Ndekem” dengan sate srundeng via http://www.blognovemberday.blogspot.com

Potongan lontong dan daging ayam dilengkapi rajangan daun bawang dan bawang goreng serta klethuk yang terbuat dari tulang ayam yang digoreng, kemudian dijadikan bubuk membuat hidangan ini menjadi tak terelakan nikmatnya. Apalagi menyeruput kuah berbumbu gulai yang tak terlalu kental ini, membuat kalian betah berlama-lama ndekem di warungnya.

Tak lengkap rasanya jika makan lontong dekem tanpa sate khas dekem. Ada dua varian nih. Yang kuah, yaitu potongan daging ayam yang sudah dipipihkan kemudian ditusuk pada lidi dan diguyur kuah gurih. Atau sate goreng yang berisi ampela, hati, kulit, dan usus ayam yang dibumbui serundeng kelapa kemudian ditaburi klethuk dan kerupuk mi.

Pecah enaknya! Cukup bawa uang Rp 10.000,00 untuk lontong dekem dan Rp 2.000,00 – Rp 3.000,00 untuk per tusuk satenya. Kamu bisa datang ke kawasan alun-alun kota Pemalang atau di Jalan R.E. Martadinata pada sore hari. Daerah ini memang terkenal sebagi sentra kuliner Pemalang.

6. Grombyang

sang Jawara! via http://www.kompasiana.com

Dan inilah jawaranya! Hampir setiap orang Pemalang yang merantau, selalu menyempatkan waktu untuk menikmati kuliner khas Pemalang saat mudik ke kota IKHLAS ini. Jadi, bukan pemandangan langka jika setiap menjelang dan saat lebaran warung grombyang selalu dipadati pembeli. Hidangan sejenis rawon ini memang menjadi makanan primadona untuk bernostalgia dengan cita rasa khas Pemalang.

Setali tiga uang dengan temannya, si Lontong Dekem, Grombyang juga banyak dijajakan di Jalan R.E. Martadinata, depan Pasar Anyar Pemalang. Dengan harga per porsi Rp 15.000,00 dan Rp 5.000,00 untuk satenya, sudah bisa membuat penikmatnya melepas rindu dengan makanan satu ini.

Irisan daging kerbau nan empuk, dipadu kuah yang manis gurih ditaburi bawang goreng dan daun bawang membuat pecintanya tak cukup jika hanya menyantap semangkuk kecil saja. Pasti ingin nambah dan nambah lagi. Tak afdol jika makan grombyang tak dilengkapi dengan sate babat yang berlumur bumbu rempah istimewa. Asli, gak ada duanya!

Gimana? Makin rindu kan? Kangen? Pengen cepet pulang?

Njuh, wis aja kesuwen! Gagian balik maring Pemalang. Tak enteni kyeeeh!

*Ayo, gak pake lama! Cepetan pulang ke Pemalang. Aku tunggu nih!*

Untuk para pemudik yang kebetulan jalur mudiknya melewati Pemalang, bolehlah mampir sekalian icip-icip kuliner lezat di Pemalang.