Selain cinta, keluarga adalah satu kata yang punya karakter universal. Bahkan bukan hanya manusia, binatang dan para iblis pun juga punya keluarga. Keluarga adalah karakter. Mereka yang pertama kali menciptakan siapa kita. Mereka yang menjadi latar dari setiap cerita yang kita punya. Dari cerita orang-orang tentang kita.

Di masyarakat kita yang Timur banget, keluarga seringkali diasosiasikan dengan suku atau ras. Tentu saja akan sangat tricky untuk mengulas tema ini di sini. Tentang bagaimana hubungan antara keluarga dan karakter dari sebuah suku.

Seperti banyak orang bijak bilang, sebaiknya kita membincangkan apa yang sudah kita ketahui, saya rasa cerita tentang bagaimana kehidupan Keluarga Betawi hidup di tengah modernitas saat ini lumayan cocok dengan apa yang saya ketahui. Paling tidak apa yang saya alami sepanjang 25 tahun ini.

 

1. Relijius, jago ngaji, dan udah pergi haji. Kalo yang ini mah kite amin-in aja deh ;)

Amin aje nyok, Ibu-ibu!

Amin aje nyok, Ibu-ibu! via http://i.ytimg.com

Entah dimulai dari mana, mungkin terilhami dari pagu pengantar sinteron Si Doel: ... Aduh! Sialan! Si Doel, Anak Betawi asli, kerjaannye sembahyang mengaji, tapi jangan bikin die sakit hati.

Kesan yang didapat dari seoarang anak Betawi adalah mereka yang sangat lekat dengan Islam. Mereka yang hidupnya dikelilingi oleh kegiatan-kegiatan relijius, pengajian, dan ritual tradisi bernapaskan Islam. Saya pribadi sih lebih senang menanggapi kesan itu sebagai doa.

Sepanjang pengetahuan saya, sampai saat ini (paling tidak di lingkungan terdekat saya), Alhamdulillah masih banyak yang sesuai dengan deskripsi itu. Pengajian mingguan dan bulanan, madrasah-madrasah, marawis, qasidah dan rebana, hadrah, dan kegiatan Agamis lainnya masih cukup kental ;)

2. Enggak semua anak Betawi itu juragan tanah, lho! Banyak juga yang jago dagang dan pinter-pinter.

Biasanya sih tulisannya: DIJUAL! TANAH 900 M. Hubungi HAJI KODIR 0215555555

Biasanya sih tulisannya: DIJUAL! TANAH 900 M. Hubungi HAJI KODIR 0215555555 via https://ghazyan.files.wordpress.com

Kalau yang satu ini, mungkin ada hubungannya dengan penetapan Jakarta sebagai ibukota negara kali ya. Sebagai penduduk asli lokal, leluhur kami (orang-orang Betawi) secara logika memang adalah pemilik sebagian besar lahan di Jakarta. Kemudian arus urbanisasi dan modernisasi menyapa Jakarta, dan membuat kenyataan ini semakin dipatok sebagai kesan orang-orang Betawi.

Berangkat dari situ, banyak orang Betawi yang melakukan transaksi properti. Mulai dari jual beli sampai sewa bangun. Hal ini kemudian punya dua pengaruh, baik dan buruk.

Yang baik adalah yang menjadi stereotipe ini, mereka yang masih punya tanah sendiri di Jakarta, mereka yang mengolah lahannya dengan membangun kontrakan dan sebagainya. Sisanya, meneguk kenyataan harus melipir ke pelosok-pelosok yang kian jauh dari ibukota.

Di luar kategori ini, saya juga menemukan banyak orang-orang Betawi yang sukses membangun bisnis. Biasanya tidak jauh dari usaha Konveksi (pakaian), Furnitur dan Kerajinan, Kuliner, dan Pengelolaan Yayasan.

3. Harus paham kalo ditanya "Betawi mane lu?"

Biar gampang ngenalin Buyut-buyut. Biasanye sih yang ini kudu apal!

Biar gampang ngenalin Buyut-buyut. Biasanye sih yang ini kudu apal! via https://i1.wp.com

Sebenarnya sih saya juga bingung kalau ditanya demikian. Apa yang harus saya refer? Apa tempat tinggal saya yang sekarang? Atau tempat dari mana leluhur saya berasal? Entahlah.

Tapi yang bisa saya jawab adalah beberapa lokasi tempat di mana orang Betawi banyak berkumpul. Sebut saja Betawi Condet, Betawi Cilandak, Betawi Rawa Belong, Betawi Cengkareng, Betawi Radio Dalam, dan lain-lain.

Biasanya juga, nama-nama lokasi ini mencirikan usaha atau karakter Betawi yang tinggal di sekitarnya, lho. Betawi Condet kan pupoler dengan sentra usaha Dodol, Betawi Rawa Belong yang identik dengan usaha tanaman dan lansekap, Cengkareng dan Pondok Pinang yang terkenal dengan produk furnitur.

4. Walaupun sudah banyak yang mafhum, kadang masih ada juga beberapa kosakata dalam bahasa Betawi yang asing.

pantun juga salah satu sastra budaya BEtawi ;)

pantun juga salah satu sastra budaya BEtawi ;) via http://2.bp.blogspot.com

"Mas, nanti hambal-nya tolong dipasang di ruangan ya"

Suatu kali saya meminta tolong kepada seorang office boy, ternyata dia tidak paham apa yang saya maksud. Saya baru sadar kalau saya menggunakan kata "hambal" alih-alih "karpet".

Diksi dalam bahasa Betawi banyak yang diserap dari bahasa Arab. Walau suduh puluhan atau bahkan ratusan tahun menjadi pengduduk asli Jakarta, buktinya masih ada saja tiga empat diksi bahasa Betawi yang hanya dipahami oleh orang-orang Betawi saja.

Yang saya ingat saat ini misalnya, mindo, mindon, kecagang-keciging, ajer, steleng, gancang, kleang, deprok, bares, tegongan, nyelab, nyapnyap, senep, semenggah, serengkedan, bererod, hamuk, tegere-gere, pating bleber, topo, gerobogan, amprog, ngadi-ngadi ... ... ... ... ...

5. Percaya, deh! Nggak semua orang Betawi itu anaknya banyak.

kayaknya salah gambar deh. biarin!

kayaknya salah gambar deh. biarin! via http://commondatastorage.googleapis.com

Betawi mungkin salah satu suku yang paling tidak paham dengan program Dua Anak Cukup dari pemerintah. Karena buktinya, masih banyak keturunan Betawi yang lebih condong dengan kutipan "banyak anak banyak rezeki".

Saya memang berasal dari keluarga besar. Cukup besar. Punya anak lebih dari delapan adalah hal biasa untuk kami. Bahkan ada yang sampai berbelas-belas dari satu ibu! Di keluarga saya, memang sih, anak-anak mereka paling sedikit tiga ;)

Poin ini juga seperti sama halnya dengan anggapan kalau semoa orang Betawi itu kalo ngomong treak-treak kali ya.

Tapi, kalian juga aperlu tahu, tidak semua orang Betawi mengusung paham yang sama. Walau minoritas, masih juga orang-orang Betawi yang hanya punya dua atau tiga anak ;)

6. Kami bangga setengah mati dengan Si Doel Anak Sekolahan, tapi nggak semua yang ada di sinetron itu realistis tauk.

bangga bener punya mereka. usut punye usut, sinetron Si Doel ini rating dan shre-nya belum ada yang ngalahin lho sampe sekarang!

bangga bener punya mereka. usut punye usut, sinetron Si Doel ini rating dan shre-nya belum ada yang ngalahin lho sampe sekarang! via http://1.bp.blogspot.com

Akhir tahun sembilan puluh adalah masa keemasan orang-orang Betawi. Paling tidak jika ditilik dari kacamata dunia hiburan Tanah Air. Rano Karno sukses besar membawa budaya dan keluarga Betawi kian populer.

Kami, anak Betawi, sangat bangga akan presetasi itu. Kami ingat betul setiap episode sinetron fenomenal itu. Semua adegan eksentrik yang begitu menyentuh dan membekas di ingatan.

Tapi tetap saja, yang namanya sinetron tetap saja mengandung hiperbolis, kan? Ingat saat adegan Babeh berdoa di lapangan golf? Tentu saja itu rekaan. Kemudian sosok Ibu Tiri Bang Mandra yang begitu culas? Hmmm, saya rasa yang itu juga rekaan. Ohh, sosok atau karakter Mandra yang kuno banget pun rasanya berlebihan jika dibicarakan pada masa ini ;)

7. Ribetnya proses pernikahan (dan bahkan kematian). Mulai dari lamaran, mulangin kulit pisang, akad, sampai tahlilan sampai seribu hari.

kebetulan ane kenal nih sama Kyai yang ada di tengah. Tetangga dan guru besar ane!

kebetulan ane kenal nih sama Kyai yang ada di tengah. Tetangga dan guru besar ane! via https://zanfadli.wordpress.com

Sebagaimana suku-suku lain, Betawi juga punya ciri khas dalam peringatan momen-momen besar dalam kehidupan orang-orangnya. Mulai dari kelahiran, pernikahan, sampai kematian.

Momen lahirnya seorang anak di lingkungan Betawi dimulai sejak masa kandungan. MUlai dari upacara empat bulanantujuh bulanan, sampai prosesi aqiqah. Tentang ritual pernikahan, orang Betawi juga mengenal istilah lamaran. Bedanya, proses lamaran akan berlangsung minimal dua kali.

Pertama saat keluarga mempelai pria meminta ke keluarga wanita (pada prosesi itu Si Mempelai Pria tidak boleh ikut, lho!), kemudian keluarga Mempelai Wanita akan melakukan kunjungan balasan yang disebut dengan istilah mulangin kulit pisang, dan begitu seterusnya. 

Untuk urusan kematian, orang Betawi juga mengenal upacara tahlilan tujuh hari (yang dimulai malam sejak hari kematian), empat belas hari, empat puluh hari, seratus hari, haul, sampai seribu hari. Keren, kan?

8. Bulan ini arisan Bani Rojali, bulan depan Bani Tabrani, minggu besok Bani Kosim. Setahun bisa enam belas kali arisan. Wajar?

undangan arisan keluarga ane

undangan arisan keluarga ane via https://zanfadli.wordpress.com

Tradisi silaturrahim dalam lingkungan Betawi sangat kental. Kami begitu senang saling berkunjung. Lazimnya tradisi ini diterjemahkan lewat budaya Arisan.

Arisan di keluarga Betawi biasanya berupa arisan keluarga besar. MIsalnya dari keturunan Rojali, yang kemudian disebut dengan Bani Rojali. Saat metode seperti ini dijalankan, satu keluarga kecil dalam lingkungan Betawi akan punya minimal empat kelompok Arisan. Orangtua dari pihak Ibu, serta Orangtua dari pihak Ayah.

Itu belum termasuk arisan dari keluarga besan. kakek-Nenek dari pihak Ibu dan Ayah, adik-kakak dari empat kakek dan nenek itu. Saudara-saudara besan, dan masih banyak lagi.

Banyak juga yaaa?

9. Ehh! Ini anaknya Ncing Jenab yang di Kebon Sirih? Udah lulus belom, Neng? (kalau kamu menanggapi pertanyaan itu sebagai basa-basi, artinya kamu belum paham benar bagaimana perasaan para Gadis Betawi)

kawinin dah Nyak, kawinin!

kawinin dah Nyak, kawinin! via https://zanfadli.wordpress.com

Seberapa pun panjang dan berlikunya kisah cinta anak Betawi. (biasanya) Jodohnya yaaaaaa kagak bakal jauh-jauh banget! Ini adalah drama yang harus dihadapi anak-anak Betawi.

Bukan hanya buat para gadis, tapi juga para jejaka Betawi.

Pokoknya nih ya kalau udeh ditanyain "Anak siape?" artinya itu adalah pembukaan menuju pertanyaan intim berikutnya. Walau dalam budaya Betawi, pendapat pribadi masih dihargai, tapi dalam kehidupan nyata, kebanyakan dari kami akan mengikuti titah orangtua.

Yang lucu adalah keluarga besar saya juga begitu. Dari dua belas anak Baba-Ibu, semuanya menikah dengan kerabat dekat yang juga keturunan Betawi. Baik dari pihak Ayah maupun Ibu. Bahkan, adik dari Ayah saya menikah dengan sepupu langsung dari Mama saya 

10. Malu kalo cuma kenal Gado-gado sama Kerak Telor doang.

kembang goyang, kerak telor, roti buaya, uli bakar

kembang goyang, kerak telor, roti buaya, uli bakar via https://zanfadli.wordpress.com

Kurang lebih ini sih yang saya rasakan, terlebih saat momen Lebaran. Banyak juga panganan dan kuliner khas Betawi yang saya belum tahu nama apalagi rasanya. Kerak Telor dan Gado-gado adalah dua menu yang bisa dibilang paling umum. Padahal masih banyak lagi panganan khas lain yang juga Betawi banget.

Mulai dari kue-kue, jajanan pasar, dan minuman. Belum termasuk masakan berat.

Apa aja ya? Sayur Masak Goreng Asem, Sambel Jengkol, Jengkol Bewe, Sayur Tangkar, Karedok, Sambel Barat, Kue Apem, Kue Cincin, Kembang Goyang, Wajik, Tapi Uli, Ketimus, kue Dongkal, Bir Pletok, Selendang Mayang ... ... ... ... ...

Ada yang tahu emplegan? ;)

11. Poligami???

hmmm, ogah komentar.

hmmm, ogah komentar. via https://zanfadli.wordpress.com

Aduh! Kalau poin yang satu ini sih saya nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi memang, kenyataan tidak bisa dipungkiri. Banyak lelaki Betawi yang menjalankan salah satu sunnah Nabi ini.

Punya isteri lebih dari satu banyak dialami oleh mereka keturunan Betawi yang adalah seorang ahli agama, atau saudagar kaya, atau keturunan orang kaya, atau jagoan-jagoan.

Udah yah, saya agak males dan kikuk membahas poin yang satu ini.

12. Siapa bilang kalau Lebaran itu cuma satu minggu? Bahkan sampai deket-deket Puasa lagi, kita masih ngerayain Lebaran, lho!

Lebaran nggak kelar-kelar

Lebaran nggak kelar-kelar via https://zanfadli.wordpress.com

Sebagai penutup, menyambut bulan Rajab (orang Betawi juga harus hapal nama-nama bulan Komariah) yang hari pertamanya jatuh pada hari ini, saya rasa pengalaman yang satu ini juga pantas masuk ke dalam hal-hal yang cuma orang Betawi yang paham rasanya.

Libur Lebaran yang ditetapkan pemerintah hanya dua hari adalah secuil dari panjangnya ritual silaturrahim Lebaran yang sesungguhnya untuk kami orang-orang Betawi. Bahkan sebelum  Hari Raya di tahun berikutnya datang lagi, urusan saling mengunjungi pun belum bisa dinyatakan usai.

Ada saja keluarga yang masih harus dikunjungi. Entah dari pihak mana lagi. Entahlah :(

Belum lagi perkara runutan orang-orang yang sebaiknya lebih dulu atu belakangan dikunjungi. Apa hantaran yang pantas untuk dibawa dan basa-basi lain.

Intinya, jika belum ketemu lagi bulan Syawal, artinya masih ada waktu Lebaran untuk orang-orang Betawi.

 

Kredit foto andalan: https://airfotonetwork.wordpress.com