Usia di atas 40 tahun merupakan usia di mana sisi kematangan kamu boleh dikatakan stabil. Mulai dari kehidupan kamu yang mulai mapan. Anak yang sudah beranjak dewasa, sisi spiritual dan materimu pun sudah ada pada posisi puncak.

Lalu, akankah 20 tahun yang kita impikan bisa begiu saja terealisasi? Bisa iya, bisa tidak!

Membangun masa depan adalah project besar; seperti membangun piramid yang butuh bertahun-tahun persiapan hingga menghasilkan salah satu maha karya yang agung. Begitu juga dengan beberapa hal dibawah ini!

Project besar dalam hidupmu bisa kamu mulai dari sekarang dan tentu sudah layak kamu persiapkan. Sama seperti Ujian Nasional di sekolah; sudah dipersiapkan matang saja terkadang meleset apalagi yang tidak ada persiapan sama sekali?

Ayo, calon ayah dan bunda! Kita buat perencanaan 20 tahun lagi untuk menghadapi perjuangan hidup. Semuanya demi buah hati, keluarga atau impian yang penuh kemudahan.

 

1. Siap hadapi "pensiun dini" dengan mandiri dan uang simpanan yang sudah tersedia

"Pensiun dini" mungkin masih menjadi kosa kata yang baru dalam hidupmu. Bahkan kamu mungkin baru mendengarnya setelah beberapa tahun yang lalu orangtua atau saudaramu ada yang menjalani status sebagai pensiunan.

Tak mudah memang menghadapi masa itu. Bukan hanya secara finansial kita tak lagi bekerja, namun status atau peran sosial yang mungkin selama ini kita emban sudah berakhir.

Kamu mungkin bisa mengaca dari orangtua kamu yang sudah pensiun bahwa 20-30 tahun lagi kamu mengalami fase yang sama.

Mulailah merencanakan kegiatan yang bisa kamu jadikan aktivitas di luar pekerjaan utama. Entah itu hobi atau peran sosial di masyarakat. Selain itu, jangan lupa menyiapkan investasi atau tabungan pensiunan.


Tidak ada kata terlalu dini. Minimal kamu sudah mempunyai rencana yang matang. Tidak semua dari kita akan menjadi pensiunan negara yang mendapatkan tunjangan, bukan?

 

2. Apa-apa semakin mahal; bisa bayangkan berapa jumlah uang untuk biaya pendidikan anak kita kelak?

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pendidikan S1 dan S2.

Sebaris kalimat yang kamu ucapkan ketika orangtuamu telah mengantarkan hingga pintu gerbang wisuda. Bangga, otomatis tentunya. Orangtuamu pun pasti merasakan hal serupa.

Namun sebetulnya perjuanganmu baru saja dimulai. Tongkat estafet pertumbuhan generasi berpendidikan baru saja dipindah tangankan dari orangtuamu ke tangan dirimu. Siapkah kamu dan pasangan untuk memperjuangkan pendidikan buah hati 20 tahun ke depan?

Mulai play group hingga ke jenjang perguruan tinggi bukanlah hal yang tak mungkin dicapai! Jangan menutup mata, mulailah melihat tempat pendidikan terbaik sejak sekarang. Selain itu mulai sisihkan uang jajanmu untuk melatih berinvestasi pendidikan. Entah itu dengan memulai dari hal simple dengan membeli buku dibandingkan nongkrong seharian.

Bahkan lebih jauh kamu bisa mulai membuka tabungan atau investasi jangka panjang untuk pendidikan buah hati di masa depan.

3. Kamu mau lihat keceriaan dan kelucuan cucu-cucumu, bukan? Ayo, jaga kesehatan ya, cah!

Begadang, merokok dan pola makan yang awut-awutan adalah rutinitas harianmu? "Duh, masa muda hanya sekali ini, ayo dinikmati"? "Work hard, play Hard" adalah motomu?

Begini. Pengapuran, diabetes, kolesterol dan asam urat adalah beberapa penyakit yang sering dialami oleh generasi tua kita dengan usia di atas 40 tahun. Kalau kalian biasakan hidup ena-ena mulu, nggak takut kena penyakit itu?

Sadar atau tidak, kamu pasti mengalaminya apabila mulai sekarang kamu tidak menjaga pola kesehatan, olahraga dan konsumsi sehari-harimu. Semakin sehat pola hidupmu, investasi dan tabungan kesehatanmu di hari tua tentu akan lebih baik.

Sekarang, sembari menjaga kesehatan, jangan lupa men-support kesehatan orangtua kita juga!

4. Mimpiku; menginjakkan kaki ke Tanah Suci adalah wujud penghargaan dan pendekatan diri pada Sang Ilahi

"Harga tiket untuk pergi ke India berapa ya? Nyokap gue mau melakukan perjalanan suci ke Sungai Gangga."

Teman kamu ada yang pernah menanyakan hal serupa? Entah itu ke Betlehem atau ke Mekkah? Itu wajar.

Semakin seseorang tua, mereka semakin merasa membutuhkan pencerahan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kita sebagai anak tentu mengetahui biaya pulang-pergi ke India dan perjalanan di sana saja hampir puluhan juta. Tentu kita tak hanya diam saja dong? Membantu dengan donasi support dan tenaga adalah sebagai bentuk baktimu kepada mereka. Ini juga pasti kamu rasakan bagi mereka yang orang tuanya mungkin umroh, haji atau mengikuti jalan suci di Betlehem.

Perjalanan suci ini mungkin saja menjadi impianmu berikutnya setelah orangtuamu. Sekarang mungkin belum terpikirkan, namun menginjak usia kepala empat, impian ini otomatis atau tidak akan muncul dalam benakmu dan keluarga.

Ayo bersiap menginvestasikan 5-10% dari pendapatanmu untuk perjalanan sucimu 20 tahun lagi! Sadarkan antrian jamaah haji kalau kamu mendaftar tahun ini kemungkinan berangkat 7-8 tahun lagi.

Jadi, mari bersiap bila saat perjalanan suci itu tiba. Semangat kerja dan aktivitasmu tentu akan bernilai ibadah jika kamu niatkan untuk menuju kesana.

5. Pernikahan tidak hanya berhenti di kamu saja; anakmu kelak juga butuh resepsi, bukan?

Kamu mungkin sedang berbunga-bunga beberapa tahun ini. Merasakan fase bagi para pasangan muda. Noted check list-mu mungkin tak jauh-jauh dari urusan pelaminan, baju, catering, cincin, dll.

Kamu tentu sadar dong, saat pernikahanmu adalah saat orangtuamu melepasmu melalui berbagai fase. Dan itulah pintu gerbang di mana kamu sudah menjadi manusia mandiri seutuhnya. Kemudian, akan ada masanya di mana kamu akan melalui massa yang sama.

Pengalamanmu melalui fase berupa resepsi dan pernikahan, haruslah menjadi acuanmu untuk berinvestasi hingga kamu bisa mengantarkan putra-putrimu menuju jenjang yang sama!

6. "Rumah" bukan hanya tentang keindahan fisik, semuanya adalah tentang nilai yang kamu wariskan

Cicilan rumah 2.5 juta/bulan. Itupun selama 15 tahun.

Bagaimana bisa membelikan rumah untuk putra-putri, coba?!

Mewariskan, bukan hanya rumah dan warisan saja!

Mewariskan nilai keluarga yang sopan, bahagia dan harmonis tentu akan lebih abadi dibandingkan bangunan rumah. Maka, inilah investasi, tabungan dan simpanan yang gratis. Kok bisa? Serius, investasi dan tabungan ini tidak akan terkoreksi oleh indeks kenaikan harga dollar 20 tahun ke depan.

Mungkin saja kondisi rumah tangga orangtuamu tak seharmonis yang dibayangkan. Tapi nilai dan kebaikan yang mereka ajarkan itulah yang harus kamu teruskan pada generasi ke depan.

Rumah mungkin bisa ngontrak, ngekos atau di PIM (Pondok Mertua Indah). Tapi bangunan rumah tangga sesungguhnya adalah pasangan dan nilai serta visi mis yang mereka lakukan sehari-hari.

Keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah bukan sekadar impian belaka, bukan?