Ketika menghadapi kegagalan maupun kesuksesan, seseorang bisa memaknai hal tersebut dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang internal dan eksternal (dalam istilah Psikologi : Locus of control internal and external). Orang dengan sudut pandang internal akan menganggap segala sesuatu yang terjadi baik kegagalan maupun kesuksesan banyak bergantung pada dirinya.

Sedangkan orang dengan sudut pandang eksternal akan menganggap segala sesuatu terjadi karena kondisi di luar dirinya (yang menurutnya tidak dapat ia kendalikan). Kedua jenis sudut pandang ini masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya. Yang ideal adalah ketika seseorang bisa menjalankan keduanya secara seimbang.

Pada artikel ini saya ingin menjabarkan kerugian yang akan diperoleh bila seseorang terlalu sering menyalahkan pihak luar atas kondisi yang terjadi pada dirinya. Dalam hal yang wajar mungkin tidak terlalu masalah bila memang kita gagal karena sesuatu yang tidak bisa dikontrol seperti musibah atau kecelakaan.

Namun bila terlalu sering memaknai segala kegagalan adalah karena pihak luar hasilnya tentu tidak baik. Contohnya :putus pacar menyalahkan si mantan, gagal kuliah menyalahkan dosen, gagal dalam pekerjaan menyalahkan atasan atau rekan kerja, dan lain-lainnya (pokoknya semua bukan salah saya!).

Bila kamu termasuk orang jenis ini, ada baiknya membaca kerugian-kerugian yang ditimbulkan karena sikap yang demikian::

 

1. Mendapat Cap Tidak Bertanggung Jawab

Bila segala sesuatu yang disalahkan adalah pihak luar, lama kelamaan orang di sekeliling kita akan menganggap bahwa kita tidak bisa diberi tanggungjawab tertentu. Akibatnya karir maupun kehidupan kita akan segitu-segitu saja, tidak ada peningkatan. Salah satu bentuk tanggungjawab adalah bersedia mengakui bila berbuat salah dan berusaha memperbaikinya.

Seseorang yang mengakui kegagalannya akan mendapatkan respek dari orang lain, dibandingkan orang yang menyalah-nyalahkan pihak lain karena kegagalan yang ia alami.

2. Menghambat Proses Kedewasaan

kekanak-kanakan!

kekanak-kanakan! via http://postimg.org

Ketika membuat kesalahan , anak-anak umumnya akan mencari alasan atau menghindar. Atau bahkan sekedar menangis untuk dikasihani. Hal ini bisa dimaklumi bila berhadapan dengan anak-anak. Karena perkembangan otak anak untuk mengenal hal yang sifatnya konseptual seperti tanggungjawab dan etika belum semaju orang dewasa.

Namun bila berhadapan dengan seseorang yang sudah berusia dewasa (bukan berarti sikapnya sudah dewasa), hal ini akan terasa aneh. Terus menerus menghindari tanggungjawab dan menyalahkan pihak lain, akan membuat otak terbiasa bekerja seperti itu.

Otomatis otak akan membuat jaringan "sikap kekanak-kanakkan". Semakin sering bersikap demikian jaringan ini akan semakin kuat terpancang di otak. Sebaliknya jaringan otak yang mengatur sikap dewasa akan melemah, karena tidak pernah dipakai.

3. Merusak Hubungan Dengan Orang Lain

Dimusuhi!

Dimusuhi! via http://postimg.org

Siapa yang suka bila dipersalahkan ? Tentu tidak ada , apalagi kalau hal tersebut tidak ada hubungan dengan dirinya. Saat kita menyalahkan orang lain atas kondisi kita, orang tersebut pasti merasa tidak enak. Lama kelamaan orang-orang di sekeliling kita akan malas untuk berurusan dengan kita.

Takut kalau-kalau jadi sasaran tembak bila kita mengalami kegagalan. Saat berada dalam posisi tertentu di dalam kelompok maupun pekerjaan, menyalahkan anak buah atau atasan akan membuat kita terlihat tidak kompeten. Kesannya semua beban kerja diserahkan ke orang lain, sehingga kalau ada kegagalan, itu merupakan kesalahan orang lain. Sering-sering bertindak seperti ini, maka tidak perlu waktu lama kita akan menjadi public enemy di lingkungan kerja.

4. Tidak Ada Peningkatan Kemampuan

kemampuannya segitu-segitu aja

kemampuannya segitu-segitu aja via http://postimg.org

Seseorang yang terlalu banyak menyalahkan kondisi di sekelilingnya, secara tidak langsung malas untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Karena menganggap, untuk apa berusaha, toh nanti karena suatu kondisi akan gagal juga. Ibarat pemain sepakbola, malas bertanding, karena menganggap toh nanti akan kalah karena wasit memihak lawan.

Sikap malas mengembangkan diri secara langsung tentunya akan semakin mengerdilkan kemampuan orang tersebut. Ia akan kalah dalam kompetisi dalam hal akademis, karir bahkan percintaan.

5. Tumbuh sebagai Seorang Pengecut

Penakut!

Penakut! via http://postimg.org

Orang yang suka menyalahkan pihak lain, umumnya tidak berani mengambil tanggungjawab. Atau bila mengambil beban kerja, ia akan mengambil pekerjaan yang mudah. Sedangkan pekerjaan sulit diserahkan kepada orang lain. Ia terkesan melempar tanggungjawab kepada orang-orang di sekitarnya, menjadikannya seperti seorang pengecut di medan pertempuran.

Seorang pengecut tidak berani mengakui kesalahannya, malah berbalik menyalahkan orang lain. Bila putus cinta, ia punya sejuta alasan bahwa hal tersebut terjadi karena orang lain. Orang dengan tipe seperti ini juga biasanya kurang memiliki perasaan untuk melindungi orang lain, karena justru ia yang menuntut perlindungan.