Bertambah dewasanya usia, semakin komplek pula masalah yang sering dialami. Setuju bukan? Hal-hal yang dihadapi bukan lagi sekedar tertawa dengan teman, merengek ke orangtua ketika ingin mendapatkan sesuatu, ataupun cukup menangis ketika semua permintaannya tidak terpenuhi.

Hey, kita sudah harus siap dengan berbagai peliknya masalah kehidupan, seperti kisah percintaan yang mulai datang untuk membungakan hati tapi juga mudah pergi tanpa permisi. Tak hanya itu. Urusan kantong juga mulai menjadi pikiran. Sudah bukan saatnya untuk terus-terusan menyodorkan tangan ke orangtua bukan? 

Disamping semua hal-hal tersebut, seiring dengan berprosesnya diri kita menjadi layak disebut dewasa, kiranya ada beberapa pihak yang berpengaruh untuk diri. Selain orangtua, sadarkah kita bahwa sahabat adalah peran yang sempurna sepanjang jalan yang kita lalui menuju pos ‘dewasa’? Apalagi bagi kita yang dituntut untuk jauh dari orangtua. Inilah alasan mengapa kita butuh sahabat sebagai pengiring kita di masa-masa pencarian jati diri ini.

 

1. Bukan lagi sebatas teman untuk ketawa-ketiwi

Tak hanya dilihat dari berapa kali selfie bareng

Tak hanya dilihat dari berapa kali selfie bareng via http://www.merdeka.com

Saat bangku kuliah sudah menjadi agenda sisa untuk dinikmati, ataupun ritual mengumpulkan pundi bekal hidup menjadi lahapan pagi hingga sore, kala itulah kita butuh sokongan daya dari sahabat. Ia yang akan menyediakan bahu sandaran cuma-cuma saat kebingunganmu akibat dosen pembimbing skripsi yang susah untuk ditemui.

Sahabat masa dewasamu juga akan menjadi konsultan saat kau hendak berganti pekerjaan baru. Ya, sosok sahabat di usia yang masuk kepala 2 bukan lagi tentang orang yang sering diajak nongkrong bersama. Pun hanya sekadar berbagi kisah jatuh cintamu seperti saat SMA dulu.

2. Lebih banyak ‘meMARAHi’ daripada memuji

Diam dan berjauhan untuk saling introspeksi

Diam dan berjauhan untuk saling introspeksi via http://www.molto.co.id

Jangan bingung ketika saat ini sahabatmu sudah tak seasyik dulu ketika kau hendak mengajaknya sekadar nongkrong tiap minggu atau untuk sekadar berlama-lama shopping di mall. Lagi, jangan marah ketika saat ini dia sering berkata lantang bernada tinggi karena kamu menghabiskan uang kiriman orangtuamu untuk membeli handphone baru.

Yap, kita memang sudah perlu memiliki seseorang yang demikian. Jika kekasih tak mungkin tinggal dan tidur bersama kita, maka sahabatlah orang yang wajib kau pertimbangkan pendapatnya.

Sekarang teman terdekatmu itu tidak akan bersikap manis hanya untuk menghiburmu karena omelan orangtua atas perkara uang tadi. Ia justru tak akan segan ngomel mendukung argumen orangtuamu. Tapi yakinlah, tujuannya tak lain agar kamu semakin berpikir dewasa. 

3. Sahabat masa dewasa bukan yang juga sering memanggilmu ‘sayang’ atau ‘my bbf’.

ia yang mendukungmu dalam realita

ia yang mendukungmu dalam realita via http://zc-secret.blogspot.co.id

Justru sedikit aneh ketika kita memiliki sahabat yang saling panggil dengan kata-kata lembut seperti itu. Terlepas dari pikiran negatif (jangan-jangan penyuka sesama jenis), sadar atau tidak hal demikian terkesan bahwa kita masih kekanak-kanakan.

Memang penghargaan dan rasa terima kasih kepada sahabat tak salah untuk dipublikasi, misal status ‘terima kasih nasihatmu my besties’ di facebook tertanda nama sahabatmu, plus dilengkapi dengan foto berdua.

Sahabat masa dewasamu justru adalah orang yang bersedia campur tangan dibalik layar untuk semua usahamu. Ia yang akan memotivasimu benar-benar, ia yang akan peduli ketika kau terjatuh, sekalipun sarannya tak jarang dibumbui dengan kata tak enak.

4. Sekalipun terpercik masalah, antara kau dan sahabat tahu penyelesaian terbaik.

Sudah bukan jamannya

Sudah bukan jamannya via http://www.kaskus.co.id

Pasti kita dulu pernah main labrak-melabrak teman sekelas atau bahkan sahabat kita sendiri hanya karena perebutan sosok idola di sekolah, bukan? Tak perlu malu untuk mengakuinya karena itu wajar. Emosi labil dan pikiran kita bisa dikatakan masih cetek.

Namun, jangan pernah berniat untuk mengulangi hal tersebut ketika kita sudah di fase menuju tua ini. Sudah bukan jamannya. Come on, ingat usia. Permasalahan dengan sahabat baik kecil maupun besar tetap bisa diatasi dengan kepala dingin. Ya, semua jalinan hubungan pasti ada pasang surutnya.

Bukankah lebih bijak jika kita mengajak sahabat untuk berbicara empat mata mengenai masalah yang melanda saat hendak mengulum mimpi? Atau mungkin sediakan waktu berkualitas ditambah suasana yang enak sehingga bisa saling mengoreksi diri. 

5. Tak harus yang sepadan, berbeda lebih mengasyikkan.

Berproses hingga sukses bersama,

Berproses hingga sukses bersama, via http://smkpancasilamanonjaya.blogspot.co.id

Hanya demi bisa memahami kita maka tidak harus kita menyeleksi yang mana yang pantas untuk kita jadikan kawan seperjuangan. Kita butuh teman yang berbeda, baik dari pengalamannya, karakternya, potensinya dan lain sebagainya.

Bukan apa-apa, tak lain tak bukan karena banyak hal berharga dan sumber belajar dari perbedaan tersebut. Mungkin rutinitas di bidang yang berbeda akan memberikan space waktu yang minim untuk saling bertatap muka. Namun quality time biasanya justru terbentuk disitu.