"Kamu orang pertama yang aku ceritain lho!"

"Cuma kamu yang tahu ini"

Apakah kamu tergolong salah satu dari spesies manusia yang sering jadi sasaran curhat? Atau sering menerima kalimat-kalimat diatas?

 

Tidak satu kali dua kali, kita mendengarkan curhatan dari orang yang sama dengan topik yang sama berulang-ulang. Disitu kita mulai merasa, Tuhan Maha Baik memprogram telinga kami dengan ketahanan lebih tebal terhadap kejenuhan. Sampai pada titik yang rasanya tuh bisa gemes sendiri. Dianya stuck disitu terus, kitanya yang gercep, akhirnya ikut campur segala sesuatunya deh. Gemesnya tuh udah kayak ibu-ibu yang ngomong sama TV pas nonton sinetron, maunya sih menyelamatkan aktris protagonisnya. Sebenarnya nggak perlu gitu juga. Nggak perlu bikin orang lain jadi ketergantungan sama kita.

Kemampuan menjadi pendengar yang baik itu akan menjadi bekal yang penting dalam berbagai hal. Mendengarkan orang lain dapat membuatmu mengerti dengan akurat apa yang menjadi kebutuhan orang lain, baik itu atasan, mitra kerja, kekasih, anak. Mendengarkan yang dimaksud tentu saja bukan sekedar mengolah gelombang suara yang merambat melalui medium udara, diterima dalam bentuk getaran dalam saluran telinga, dan diterjemahkan sebagai bahasa di otak.

 

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu selalu kamu ingat untuk menjadi seorang pendengar.

 

1. Kamu dan dia tidak memiliki kapasitas yang sama

Ibarat lomba lari dengan finish yang sama, ada yang tertinggal terus dibelakang, ada yang sudah sering juara, ada yang nyalipnya cepat.

Ibarat lomba lari dengan finish yang sama, ada yang tertinggal terus dibelakang, ada yang sudah sering juara, ada yang nyalipnya cepat. via http://womensrunning.competitor.com

 

Hayo siapa yang pas dicurhatin sering ngomong "Gue juga pernah kok kayak gitu, kalo gue sih"?

Kasus yang sering terjadi adalah ketika dicurhatin malah direfleksikan kembali ke diri sendiri. Ya nggak ada yang melarang untuk berkaca atau ambil hidayah dari cerita orang sih. Awas baper! Tadinya dicurhatin, 10 menit kemudian curhatanmu yang lebih banyak daripada dia. Lama-lama fokus utamanya jadi pindah haluan ke kamu, endingnya tidak dapat kesimpulan apa-apa. Tapi kalau kalian jadi menemukan rumus solusinya bersama sih nggak masalah. Tidak ada rambu-rambu baku yang mengatur kalau bertukar pikiran atau dua arah dalam curhat itu tidak boleh. Namun sebisa mungkin minimalisir unsur "keakuan". 

Jangan lupa untuk mengingat bahwa kapasitasmu dengannya itu berbeda. Bisa jadi kamu orang yang cepat bangkit dari masalah karena tidak ada hambatan di lingkungan, sedangkan kamu tidak tahu kondisi lingkungan dia. Mungkin kamu orang yang mudah memaafkan orang lain, sedangkan dia mempunyai nilai-nilai yang tidak boleh dilanggar siapapun. Mungkin juga kamu mudah melepaskan masalah sesederhana dengan beribadah, tidak seperti dia yang perlu banyak hal lain sebagai pengalihan perhatian. Ibarat lomba lari dengan finish yang sama, ada yang tertinggal terus dibelakang, ada yang sudah sering juara, ada yang nyalipnya cepat.

Itulah sebabnya mengapa kamu sudah berbusa-busa menyarankan sesuatu, tapi dianya masih kumat lagi dan kumat terus. Kemarin curhat, eh besoknya sudah gagal move on. Jadinya yang kemarin-kemarin berjam-jam itu rasanya persis buih-buih lautan. Surut seketika disapu ombak.

Tetap jangan cepat menyerah ya!

2. Posisikan diri sebagai dia

effective listening –Stephen R. Covey

effective listening –Stephen R. Covey via http://www.indulgy.com

 

“Ngapain sih mesti kayak gitu”

“Sekali-sekali topik yang digalauin naik tingkat kek, kayak nggak ada kehidupan yang lain aja”

“Masa gitu doang aja”

Apabila komentar seperti kata-kata diatas dan anggapan-anggapan remeh lainnya bukan teman akrabmu, maka kamu memang berbakat sebagai pendengar (lebih tepatnya lagi tempat curhat). Mana ada yang mau cerita lagi, kalau sudah disalahkan duluan. Entah katanya terlalu sensitif, terlalu moody, terlalu nggak logis, terlalu lama sendiri, terlalu manis, sungguh ter..la..lu, dan terlalu yang lainnya.

Lagi-lagi, tidak semua orang ingin mengklarifikasi lebih dalam apa yang sebenarnya menimpa orang lain. Boro-boro ngurusin orang lain, urusan sendiri aja belum selesai. Dan kamu hebat jika masih menyisakan ruang kepedulianmu untuk orang lain. Berempati itu persyaratannya tidak sesulit pindah kewarganegaraan kok. Cukup posisikan diri sebagai dia. Kalau mau kebablasan ikutan nangis bombay juga silahkan.

Mungkin benar bahwa hambatan terbesar untuk mengerti orang lain yakni kita tidak bisa merasakan apa yang tidak pernah kita alami sendiri. Tapi haruskah kita terluka dan berdarah langsung untuk mendapat pengetahuan bahwa pisau itu tajam?

3. Kenali cara pandang dan prinsipnya

 

“Heran banget, nggak habis pikir.”

“Nggak ngerti lagi sama jalan pikirannya”

Kalimat-kalimat diatas sudah tidak asing lagi di telinga, itu pertanda bahwa memahami cara pandang orang lain tidaklah mudah. Memang pandangan seseorang bukan untuk dinilai benar atau salah menurut standarmu. Seaneh apapun itu. Ternyata yang paling dibutuhkannya hanya penerimaan, bukan dikonfrontasi.  

Sekarang, kamu mulai paham mengapa tidak semua orang mau untuk cerita. Andai kamu menyaksikan proses panjang yang ia lalui hingga membentuk prinsipnya. Pengalaman mengerikan apa saja yang telah ia lewati. 

4. Dia berhak atas dirinya sendiri, kuasa penuh bukan pada kamu

Tapi syukur-syukur kalau dia terinspirasi olehmu, kayak lagu Raisa yang jatuh hati.

Tapi syukur-syukur kalau dia terinspirasi olehmu, kayak lagu Raisa yang jatuh hati. via http://twitter.com

Kamu bukan coach, bukan orang tuanya, bukan dosen pembimbing skripsi juga. Nggak perlu kok sok-sokan melarang-larang dengan embel-embel “demi kebaikan”. Apalagi terobsesi menjadi pahlawan yang mengubah kehidupannya. Kita hanya perantara baginya. Perantara untuk menggiringnya semakin yakin dengan kata hatinya, atau untuk mempertimbangkan banyak hal. Sisanya, itu urusan bagaimana dia memperlakukan dan merayu Maha Penulis Skenario.

Intinya, tidak perlu mengatur dia harus bagaimana. Syukur-syukur kalau dia terinspirasi olehmu. Hati-hati, dari curhat-curhatan jadi jatuh hati.

“Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia”

5. Pada akhirnya, biarkan dia memutuskan

Dia harus membuat keputusan

Dia harus membuat keputusan via http://www.culturetransition.com

Posisimu adalah sebagai pihak yang bisa berpikir jernih dan objektif. Oleh sebab itu, kamu bisa memaparkan resiko, dampak baik-buruk, keterbatasannya, kekuatannya, dan tambahan sudut pandang lain. Ketika dia melayangkan curhatnya kepadamu waktu itu, dia masih berada di tahap mencari-cari jawaban atas kebingungannya. Setelah menyampaikan itu semua, tugasmu selesai sampai dia membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Kewenanganmu cukup terus mengingatkannya terhadap komitmen yang dibuatnya sendiri.