Pernahkah kalian berpergian? Melancong, atau sekedar touring? Hampir semua orang sangat senang dengan kegiatan ini. Tapi pernahkah kalian ditodong oleh seorang teman, keluarga, atau preman untuk dimintai oleh-oleh? Sebenarnya apasih yang membuat mindset kita menyangka bahwa traveller sama seperti pebelanja? Kini kalian perlu tahu, perbedaan traveller dan shoppaholic agar lain kali kalian tidak salah todong pada teman kalian.

 

1. Traveller modal baju, tas, dan peta. Shoppaholic modal duit dan dompet.

wanita (tidak) selalu shoppaholic?

wanita (tidak) selalu shoppaholic? via http://gendies.com

Traveller yang passion-nya memang jalan-jalan, visit-visit, dan explore ternyata adalah manusia sederhana. Mereka hanya bermodal baju, tas, peta, dan beberapa uang saja. Tujuan mereka jelas, yaitu mengunjungi suatu tempat, menikmatinya, dan mensyukuri ciptaan Tuhan itu. Mereka hanya mendapat feedback berupa esensi dan kenikmatan jiwa. Maka tak jarang para traveller memiliki kebahagiaan lebih dan berumur panjang. Ada pula yang menyebut para traveller bisa awet muda.

Beda halnya dengan para shoppaholic, mereka bermodal dompet yang berisi duit atau kartu kredit yang dapat menjinakkan mata melihat dagangan khas mall. Jika dibandingkan, shoppaholic juga merupakan kepuasan batin. Namun, bedanya traveller mendapat pengalaman dan pengetahuan sedangkan shoppaholic mendapat barang yang diinginkannya.

2. Traveller jelajah berbagai tempat, Shoppaholic kunjungi banyak mall.

Sudahkah kamu ke sini?

Sudahkah kamu ke sini? via http://www.telegraph.co.uk

Traveller bukan sekedar manusia yang tidak memiliki kesibukan lantas pergi kemana saja. Justru kesibukan mereka adalah saat mereka menjelajahi suatu tempat bersama kelompok travellernya. Seorang yang benar-benar berjiwa traveller tidak akan pernah merasa membuang waktu, lelah, dan sia-sia saat mereka telah mencapai tujuan utamanya. Traveller selalu merasa bangga saat ia mampu menakhlukan dirinya sendiri dan menggapai cita-citanya.

Shoppaholic juga mempunyai tujuan utama. Bedanya tujuan ini adalah mall-mall besar yang menyediakan berbagai macam barang bermerk. Tentu para shoppaholic akan berkeliling hingga ke ujung dunia untuk mendapat barang yang diinginkan. Jadi tak hayal jika para shoppaholic rela keluar masuk mall satu ke mall lain untuk mencari barang tertentu, walaupun hasilnya nol.

3. Traveller mengoleksi cerita, Shoppaholic kolektor barang branded

Apa yang kamu punya?

Apa yang kamu punya? via http://www.amazon.co.uk

Bagi kalian para traveller, banyak cerita yang kalian bawa pulang dan pengalaman yang tiada duanya. Traveling memang menyenangkan, tapi kalian perlu tahu bahwa traveling tidak selalu membawa barang sepulangnya. Justru yang paling penting adalah cerita berharga dan pengalaman yang didapat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa shoppaholic adalah seorang kolektor andal. Kemampuan memilih dan memilah barang yang original dan KW menjadi titik penentu apakah orang tersebut memang seorang shoppaholic atau bukan. Shoppaholic yang berbelanja banyak barang membuat mereka menjadi seorang kolektor barang mahal dan branded yang belum tentu ia gunakan. Jadi kebayang dong yaa, punya pacar seorang shoppaholic pasti punya tempat pribadi buat barang-barangnya.

4. Traveller adalah seorang visioner, Shoppaholic adalah seorang voters

Kemana kita akan pergi?

Kemana kita akan pergi? via http://timesofindia.indiatimes.com

Bagi para traveller, perencanaan adalah hal penting. Akan kemana, kapan, dan bagaimana kita saat di sana adalah sebuah perencanaan yang harus benar-benar matang. Tapi bagi sebagian traveller yang sudah andal, perencanaan hanya mengenai transportasi dan perlengkapan survive agar selamat hingga pulang. Maka tak bisa disangkal bahwa seorang traveller memiliki pemikiran yang maju dan berwawasan luas atau visioner.

Sedangkan seorang shoppaholic adalah seorang pemilih. Para penikmat mall selalu pandai memilih barang yang hendak dibeli. Ini bukan sebuah kekurangan, tapi ini juga kelebihan dari seorang shoppaholic yang memang jarang tertipu dengan barang KW. Jadi ada untungnya dong punya temen shoppaholic, bisa jadi detector barang KW, kan? wkwkwk

5. Traveller bawa pulang baju kotor, Shoppaholic bawa pulang oleh-oleh

Minta oleh-olehnya woy!!

Minta oleh-olehnya woy!! via http://www.tnooz.com

Buat kalian yang punya teman, pacar, keluarga yang hobi traveling, jangan sekali-kali minta oleh-oleh. Nanti bukannya diberi makanan atau barang, kalian malah dikasih baju kotor. Hmm kenapa ya? Nah seorang traveller bukanlah pebelanja. Traveller hanya menikmati perjalanan untuk kepuasan batinya. Jika kalian memang menginginkan oleh-oleh dari seorang traveller, suruh saja ia bercerita, pasti seru!

Beda dengan shoppaholic yang selalu membawa kantong barang seusai berbelanja. Sekalipun barang itu tak diperlukan, tapi selalu membeli. Jadi, orang yang pantas kalian todong untuk memberi oleh-oleh adalah seorang shoppaholic, bukan traveller ya!!

 

Nah, udah tau kan kenapa seorang traveller kadang risih kalau ditodong kalian yang kadang maksa minta oleh-oleh. Jadi, kalau kalian mau tau gimana sih kehidupannya traveller, ikut aja sesekali traveling bareng sahabat atau keluarga kalian. Rasa-rasanya pasti beda sama pebelanja kan?