Selalu memandang screen handphone dan berharap setiap dentingan nada notification adalah darinya. Mengecap nada kecewa setiap melihat kenyataan bahwa itu bukan darinya dan riang ceria jika salah satu notif itu adalah darinya. Lucu memang. Seperti remaja labil yang sedang kasmaran saja rasanya. Toh, umur 22 tahun juga masih bisa disebut remaja mungkin saja. Tapi sebenarnya ada beberapa alasan mengapa kerinduan membuat kisah percintaan di umur 20-an menjadi ababil seperti ini.

1. Komunikasi yang tidak harus intensif di usia ini ternyata dapat mengumpulkan rindu yang membuncah

Tentu saja, di usia 20-an setiap orang memiliki rutinitas pekerjaannya masing-masing, baik yang berstatus pekerja ataupun masih berstatus mahasiswa. Setiap kegiatan yang dilakukan diluar sana, terkadang membuat komunikasi antar pasangan tidak selalu harus intensif. Di tengah-tengah kesibukan saat terlintas pikiran tentang pujaan hati, maka dengan spontan melihat handphone berniat untuk mencari tahu sedang apakah dia disana. Namun, terkadang kesibukan pasangan membuat kita harus mengerti dan bersabar untuk menunggu balasannya bahkan disaat kita tak melihat lagi. Disaat seperti inilah kita mengumpulkan puing-puing rindu yang berserakan dan hanya mampu menggelorakannya di saat-saat yang tak terduga dan ketika mendapatkan waktu seperti ini, kita akan seperti remaja-remaja yang sedang kasmaran.