Sebagai negara yang majemuk, tentu Indonesia sangat kaya akan perbedaan baik yang berbasis ras, suku, bahasa, agama, maupun yang lainnya. Tentu hal ini adalah kenyataan yang indah, dimana meskipun kita memiliki latar belakang beragam, tetapi masih bisa disatukan dalam satu payung kebangsaan. Tapi, tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan tersebut memiliki nilai-nilai dasar yang terkadang berseberangan satu sama lain. Setiap kelompok masyarakat tentu akan membawa nilainya masing-masing, bahkan seiring dengan perkembangan kebebasan kita dalam berfikir, perbedaan dapat dengan mudah dijumpai dalam pola pikir antar satu individu dengan individu lain. Dari hal ini, akan muncul perdebatan antar kelompok pro dan kontra yang belakangan sangat mudah diblow-up melalui media sosial. Sebagai negara demokratis, Indonesia pastinya menjamin kekebasan berpendapat dan tentu sangat familiar dengan adu argumen.

Namun, ada satu hal yang membuat perdebatan di ruang publik menjadi tidak berkualitas dan sangat subjektif. Persoalan yang dimaksud adalah logical fallacy atau kesalahan dalam berfikir. Nah, setidaknya ada beberapa tipe logical fallacy yang seringkali digunakan oleh orang Indonesia, berikut adalah 5 diantaranya ;

 

1. Appeal to Belief

Saling menghargai kepercayaan

Saling menghargai kepercayaan via http://i1.wp.com

Appeal to belief merupakan logical fallacy dimana argumen untuk mendukung atau menolak sesuatu didasarkan pada kepercayaan personalnya, yang mana tentu saja hal ini akan menjadi sangat subjektif. Kepercayaan di sini bisa berupa kepercayaan terhadap suatu hal tanpa syarat, maupun doktrin agama. Tipe logical fallacy ini adalah yang paling sensitif karena seringkali menyangkut-pautkan isu SARA. Sejatinya, apabila seseorang menggunakan kepercayaan sebagai basis argumennya, maka suatu perdebatan tidak akan bisa disebut perdebatan, melainkan pemaksaan ideologi. Misalkan :

A : "Bukankah LGBT juga memiliki hak untuk dilindungi oleh negara?"

B : "Negara tidak boleh melindungi LGBT karena menurut agamaku itu salah, pokoknya salah dan aku percaya itu salah, TITIK!".

2. Argument from Adverse Consequences

Keadilan bukanlah satu hal yang bisa digeneralisasikan ke hal lain

Keadilan bukanlah satu hal yang bisa digeneralisasikan ke hal lain via http://www.justiceinschools.org

Merupakan logical fallacy dimana seseorang merasa bahwa dirinya harus benar dalam perdebatan karena apabila ia tidak benar, maka hal-hal (yang ia percaya) tidak baik akan menjadi konsekwensinya. Oleh karena itu, lawan debat harus berada di posisi salah menurut standar yang dia pakai. Padahal, terkadang standar ini sangatlah relatif kebenarannya dan tidak dapat digeneralisasikan. Misalnya ;

A : "Apakah memang perlu untuk menghukum penganut aliran X sedemikian hingga padahal kebanyakan dari mereka tidak tahu apa-apa?".

B : "Apapun alasannya, penganut aliran sesat harus dihukum berat!".

3. Bandwagon Fallacy

Arus opini yang belum tentu benar

Arus opini yang belum tentu benar via http://s3.amazonaws.com

Bandwagon fallacy adalah ketika seseorang mendasarkan argumen pada arus mayoritas pendapat yang ada. Jenis ini seringkali dijumpai di masyarakat Indonesia karena terkadang suatu fenomena telah mendapatkan label kebenaran tersendiri yang diterima secara luas meskipun kebenaran tersebut belum dikonfirmasi validitasnya. Dalam hal ini, media juga seringkali berperan penting untuk membentuk opini publik sehingga masyarakat menggunakan logical fallacy untuk menganalisa peristiwa. Contohnya ;

A : "Mengapa kamu yakin bahwa si A adalah pembunuh si B?"

B : "Karena semua orang berkata sama dan bukti juga mengarah ke dia".

4. Genetic Fallacy

Pendukung kebebasan beragama

Pendukung kebebasan beragama via http://www.politicalresearch.org

Genetic Fallacy terjadi apabila seseorang mendasarkan argumen mereka pada asal usul dari hal yang diperdebatkan. Sekali lagi, titik kesalahan dari cara berfikir ini adalah mengambil generalisasi dari satu hal dan menggunakannya untuk menganalisa hal yang lain dimana seringkali tidak relevan atau berkorelasi. Masyarakat Indonesia masih sering menggunakan fallacy ini untuk memberi justifikasi terhadap suatu hal. Contoh ;

A : "Mengapa orang-orang asing patut dibenci?"

B : "Karena mereka adalah antek negara-negara Barat yang melakukan diskriminasi kepada kaum kita".

Padahal, apabila pun negara-negara Barat benar-benar melakukan diskriminasi yang dimaksud, dimensi politik-pemerintahan dan dimensi sosial adalah hal yang sangat berbeda. Belum tentu orang yang dimaksud juga setuju dengan kebijakan yang diinisiasi pemerintahnya.

5. Ad Hominem

Wanita bercadar yang masih sering menerima diskriminasi

Wanita bercadar yang masih sering menerima diskriminasi via http://www.covesia.com

Orang yang menggunakan logical fallacy Ad Hominem akan menyerang individu daripada argumen yang seharusnya diperdebatkan. Dalam masyarakat yang komunal seperti masyarakat Indonesia, judge, stereotype serta stigma terhadap seseorang masih sangat kuat, Pada keadaan yang seperti ini, seringkali poin dari suatu perdebatan tidak berakar pada argumen yang empiris melainkan lebih pada serangan terhadap individu tertentu. Misalkan :

A : "Mengapa anda tidak memperbolehkan wanita bercadar bekerja di kantor ini? bukankah mereka juga memiliki hak yang sama?"

B : "Karena wanita bercadar itu sangat konservatif dan saya tidak mau ada karyawan semacam itu".

Dapat dilihat bahwa alih-alih menggunakan alasan yang logis (misal karena alasan peraturan kejelasan identitas), seseorang masih menggunakan justifikasi berbasis stigma terhadap individu yang sangat diskriminatif.