Calon mertua yang tak gemetar bulu kuduknya, sewaktu mendengar bahwa dia adalah seorang lulusan teknik sipil? Cari kerja gampang, gaji langsung tinggi, pembangunan nasional sedang gencar-gencarnya. Pokoknya, masalah finansial dijamin hampir 100% nggak ada.

Karenanya, makin banyak pula calon-calon sarjana yang mengincar teknik sipil sebagai tujuan utamanya. Tak heran, kalau tahun ini, teknik sipil jadi jurusan paling digandrungi nomor 4 di SBMPTN. Tapi, kamu wajib tahu mitos salah kaprah tentang jurusan teknik sipil.

Apa sajakah itu? Langsung simak aja yuk!

1. Adalah mutlak pintar hitung-hitungan, jikalau kamu ingin sukses di jurusan teknik sipil. Mitos atau fakta?

nggak usah diafalin kali via http://indonesiainfrastructureweek.com

Mitos! Di jurusan ini, kamu tak perlu muluk-muluk menghafal rumus ini-itu yang njelimet. Kamu, cukup tau aja. Nggak perlu dihafal seperti menghafal Al-Quran. Kamu cukup tau penggunaannya saja sudah cukup, dan yang jelas, jangan mudah bosan.

Kalau kamu bosan menghadapi rumus-rumus matematika, ya sudah, selesai. Tapi kalau kamu antusias, suka, dan nagih belajar, maka pintar tidak pintar bukanlah masalah. Toh, pintar itu tidak bisa ditarik kesimpulan hanya lewat angka, bukan?

2. Kadang kaum hawa enggan masuk jurusan ini, hanya karena melihat kerjaan di lapangan yang panas-panasan di siang hari

panas-panasan? Siapa takut! via http://windisaras.com

Ini juga mitos yang perlu diluruskan. Kalau ditotal, praktik di lapangan hanya 30% dari mata kuliah yang ada. Jadi, semua praktikum dilakukan di dalam ruangan, termasuk saat kamu menghadapi mata kuliah yang tak butuh banyak praktek.

Advertisement

Lagi pula, kalau memang terpaksa panas-panasan, sebagai mahasiswa cerdas harusnya sudah tau keberadaan payung dan sunblock, bukan? Intinya sih, kalau memang sudah tekad bulat mengejar mimpi, apapun rintangannya pasti dihadapi.

3. Lulusan fresh graduate di jurusan ini, terbilang kecil dan masih kalah sama jurusan-jurusan lain. Benarkah?

pantau dan perhitungkan terus deh via http://militer.id

Tak sepenuhnya benar. Mungkin kelihatan kecil, karena kerjaannya berat dan gajinya tak setimpal dengan pekerjaan yang dilakukan. Tapi itu hanya pekerjaan yang biasa terlihat saja, masih banyak profesi bergaji tinggi di bidang teknik sipil.

Sebut saja, bekerja di perusahaan pertambangan, proyek infrastruktur, eksplorasi minyak lepas di pantai, hingga perusahaan-perusahaan BUMN dan asing yang kalau dibandingkan dengan profesi lain, gajinya bisa bertengger di deretan atas.

4. Minimnya mahasiswi di jurusan ini, sering menjadikan cowok teknik sipil berkecil hati dan khawatir jadi mahasiswa jomblo abadi

nggak musti cari cewek di jurusan teknik juga kali! via http://www.kencanapanelindo.com

Khusus buat yang cowok, tenang aja. Kalian nggak harus cari cewek di fakultas teknik, kok. Justru, banyak cewek dari jurusan lain, memandang cowok-cowok teknik ialah cowok-cowok yang seksi dan punya masa depan yang cerah.

So, pede-pede aja buat kalian para cowok yang pengen masuk ke jurusan teknik sipil. Kabar baiknya, sekarang juga cukup banyak kok, mahasiswi teknik sipil. Emansipasi wanita sudah lama tergerus jaman, bukan?

5. Pandangan dosen killer di jurusan teknik sipil sering jadi batu sandingan sehingga banyak calon mahasiswa yang ragu memasuki jurusan ini

Bu dosen, saya salah apa? kok Anda selalu benar sih! via https://bloggerjakarta.or.id

Yaps, karena terkenal keras dan kaku, memang harus diakui kalau dosen teknik sipil tergolong killer. Tapi faktanya, dosen killer itu bukan hanya ada di jurusan teknik sipil lho. Informasi bias ini, tersebar luas karena teknik sipil keras dan kaku, makanya dosen killer di jurusan lain tidak tersorot.

Kabar baiknya, niat dosen-dosen bersikap seperti itu, semata-mata demi kebaikan kita juga kok. Karena kita adalah aset bangsa, yang menjadi tumpuan harapan dan calon generasi penerus bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

Yah, namanya juga mitos. Desas-desus seperti ini memang santer terdengar. Kita sebagai manusia terpelajar, layaknya menyaring informasi yang masuk, dan tidak sembarangan mengambil kesimpulan. So, semoga bermanfaat ya!