Meski pernikahan masih dalam tahap rencana. Meski buah hati masih dalam tahap angan-angan. Meski gelar orangtua belum resmi untuk disandang, belajar ilmu parenting (pola asuh anak) sejak dini itu sah-sah saja, lho. Malahan, lebih baik jika kamu belajar ilmu perenting mulai sekarang. Jadi, ketika kamu nanti benar-benar sudah menikah, punya buah hati, dan menjadi orangtua, kamu akan lebih terlatih.

Nah, bagi kamu yang ingin belajar ilmu parenting sejak dini, novel “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya bisa menjadi salah satu alternatif. Ada lima quote manis di novel ini yang bisa jadi ajang belajar ilmu parenting tipis-tipis. Penasaran? Yuk dibaca satu persatu dan resapi maknanya sama-sama!

1. Kisah tentang kegagalan di masa muda bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan. Malahan, cerita semacam ini lebih berkesan di hati karena menuai begitu banyak inspirasi.

Kisah tentang kegagalan di masa muda bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan via https://www.carlsen.de

"Orangtua, selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalannya sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya terperangkap di kesalahan yang sama."

Ketika sedang mengobrol dengan anak-anaknya, kebanyakan orangtua hanya bicara tentang deretan kesuksesan yang telah dicapai. Sayangnya, jarang dari mereka yang mau bicara tentang kegagalan di masa muda. Padahal, cerita-cerita semacam ini lebih menginspirasi, lho. Mereka, akan terus belajar agar kegagalan orangtuanya di masa lalu tak lagi terulang.

2. Beri petuah bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.

Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya via http://kirbyandersen.com

Advertisement

"Ada orang yang merugikan diri sendiri. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir, adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain."

Ajari anak-anak untuk peka. Ajari anak-anak untuk peduli. Mulailah dari hal yang paling kecil, memasukkan uang ke kotak amal tempat ibadah, misalnya. Beri mereka pengertian bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Beri mereka pengertian bahwa saling tolong menolong adalah sebuah keharusan. Beri mereka pengertian bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.

3. Sebagai orangtua yang baik, jangan memberi tanggung jawab berlebihan kepada anak sulung. Bisa-bisa, ia akan tertekan dan menyesal telah dilahirkan sebagai anak sulung.

Jangan memberi tanggung jawab berlebihan kepada anak sulung via http://www.womensweekly.co.nz

"Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua untuk semua anak-anaknya."

Jangan pojokkan anak dengan kalimat seperti ini, "Kamu kan udah anak sulung, kasih contoh dong, untuk adik-adik kamu." Ingat, seorang anak tak pernah diminta dilahirkan jadi anak sulung. Pemberian tanggung jawab yang berlebihan malah membuat si sulung membenci takdirnya. Menjadi baik dan pintar bukan kewajiban seorang anak sulung saja. Menjadi baik dan pintar adalah kewajiban setiap anak.

4. Stop memanjakan anak. Akan tiba masanya ketika mereka nanti harus berjuang sendirian. Jadi, mulai dari sekarang, ajari mereka cara untuk menjadi seorang pejuang tangguh.

Ajari mereka cara untuk menjadi seorang pejuang tangguh via http://www.polaristkd.com

"Ketika kalian udah gede, akan ada masanya ketika kalian harus melawan orang lain. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya kalian enggak punya pilihan selain melawan, dan menang. Akan datang juga masanya, ketika semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri."

Terlalu memanjakan anak malah bikin mereka lemah. Terlalu memanjakan anak malah bikin mereka tak mandiri. Terlalu memanjakan anak malah bikin mereka kikuk menghadapi persaingan dunia luar setelah mereka dewasa nanti. Beri mereka pengertian bahwa kelak mereka akan bertemu dengan masalah-masalah berat, orang-orang menyebalkan, dan keadaan yang serba sulit. Ajari mereka untuk menghadapi situasi itu sejak dini.

5. Semua orang berhak bermimpi setinggi-tingginya. Tapi, mimpi tanpa kerja keras dan tindakan nyata adalah omong kosong.

Ajari mereka bermimpi dan dampingi mereka meraih mimpi via http://famille-activ.fr

"Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik, rajin, dan tidak menyerah. Mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar. Kejar mimpi kalian, rencanakan, kerjakan, kasih deadline."

Tanamkan keyakinan ini pada mereka, "Nak, mimpilah setinggi-tingginya." Tak cukup dengan itu, ajari anak-anak cara untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Bantu dan dampingi mereka mengasah soft skill, bakat, serta minat yang mereka punya. Terus didik mereka agar punya sifat pantang menyerah.

Nah, itulah 5 quote manis dalam Novel "Sabtu Bersama Bapak" yang bisa jadi referensi kamu dalam belajar ilmu parenting. Semoga kamu bisa belajar banyak ya, Guys.