Membahas persepsi tidak akan pernah ada habisnya. Namun bagi sebagian orang, dengan meyakini apa yang mereka lihat dan rasakan, menghasilkan sebuah slogan yang mampu menjadi pegangan mereka dalam menjalani hidup. Di bawah ini ada beberapa slogan-slogan nyleneh yang mungkin membuat sebagian dari kita akan mengkerutkan dahi dan tidak setuju dengan hal tersebut. Tapi tidak apa-apa, karena pandangan hidup bukan masalah Iya-Tidak, Betul-Salah, ataupun Baik-Buruk nya. Semua kembali lagi kepada pandangan kita masing-masing.

Ngomong-ngomong, penasaran dengan slogan kehidupan yang akan di bahas? Yuk, langsung aja dibaca!

 

1. Bisa Karena Terpaksa

Iya, kamu Bisa. Tapi….. via https://i.ytimg.com

Kita bisa melakukan sesuatu karena terbiasa

Oke, beberapa di antara kita pasti setuju dengan kalimat pernyataan di atas. Tapi kalau kita coba untuh memahami lebih dalam lagi, sebenarnya, seseorang bisa melakukan sesuatu karena orang tersebut dalam kondisi yang terpaksa. Mungkin kedengarannya sedikit aneh, dan pasti di pikiran kalian, sepertinya tidak masuk akal. Tapi pada kenyataannya, keterpaksaan memang bisa membuat seseorang jadi mampu melakukan sesuatu.

Contoh kecilnya seperti ini, kita sedang berada di rumah sendirian. Di dalam kulkas tersedia bahan-bahan makanan yang bisa di olah menjadi sebuah masakan. Namun sayangnya, kita tidak bisa memasak. Pada saat itu kita sedang merasa lapar dan ingin segera mengisi perut yang sedari tadi keroncongan. Kemudian, kalian memutuskan untuk pergi keluar rumah untuk membeli makanan siap saji, tapi sayangnya hujan tiba-tiba turun dengan deras dan kita tidak dapat keluar dari rumah. Daripada terus menahan lapar, dengan pengetahuan dan keahlian seadanya, kita pun mau tidak mau memanfaatkan bahan-bahan makanan yang terdapat di kulkas, kemudian memasaknya. Meskipun hasilnya kurang memuaskan, tapi pada akhirnya kita BISA memasak karena dalam keadaan TERPAKSA.

Advertisement

Selain contoh di atas, faktor keterpaksaan yang membuat seseorang menjadi bisa adalah dari dorongan luar (misalnya dari orang tua maupun guru) ataupun dari dalam diri sendiri (keinginan kuat untuk melakukan suatu hal karena menginginkan sebuah pembuktian, bahwa orang tersebut bisa).

Karena pada dasarnya, ketika kita dalam kondisi terdesak/terpaksa, otak kita akan bekerja secara maksimal untuk melakukan hal tersebut. Setelah kita telah bisa melakukannya dan memutuskan untuk tetap melanjutkannya, maka terciptalah sebuah KEBIASAAN yang membuat kita mahir dalam melakukan hal tersebut.

2. Belajar Untuk Memahami, Bukan Mengerti

Memahami dan Mengerti via http://www.google.com

Masih banyak di antara kita yang belum bisa membedakan antara memahami dan mengerti. Bahkan mungkin ada yang berpendapat, bahwa dua kata tersebut memiliki arti yang sama, namun bentuk katanya saja yang berbeda. Sebuah bentuk kata yang sederhana, namun mempunyai arti yang mendalam. Karena pada dasarnya, Memahami sesuatu jauh lebih sulit di bandingkan hanya sekedar mengetahui suatu hal.

Contohnya seperti ini,dalam sistem pembelajaran di Sekolah, seorang guru memberikan sebuah materi kepada murid-muridnya. Setelah memberikan pengajaran, si Guru akan bertanya "Mengerti anak-anak?" dan sontak para murid akan berseru "Mengerti Pak/Bu Guru!" Dan secara tidak langsung, guru tersebut hanya mengajarkan materi tersebut kepada murid supaya mereka MENGETAHUI, bukannya MEMAHAMI. Apalagi kalau guru meminta untuk menghafal materi yang sudah di ajarkan (dengan catatan, materi yang di ajarkan akan keluar saat Ujian). Para murid akan berlomba-lomba untuk menghafalkan materi tersebut, agar kalau ujian nanti, mereka mampu mengerjakan soal dengan baik dan mendapatkan nilai yang sempurna.

Dari contoh di atas kita dapat mengerti, kalau kita telah mengetahui dan menghafal suatu hal, entah itu pelajaran apapun, tidak akan menjamin kalau kita itu Paham. Tapi kalau kita MEMAHAMI, otomatis kita mengerti hal tersebut.

Bahwasannya ketika kita mengetahui, kita hanya tahu bagian luarnya saja. Sedangkan kalau kita memahami, maka kita mengetahui secara utuh dari luar dan dalam.

3. Hidup Tanpa Tujuan Dan Harapan

Tujuan dan Harapan? via http://www.google.com

Setiap orang memiliki tujuan dan harapan hidup masing-masing. Karena bagi kebanyakan dari kita, sebuah tujuan membuat hidup kita jauh lebih terarah, dan harapan membuat seseorang mempunyai tekad yang lebih kuat untuk menjalani hidup.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan orang-orang yang berasumsi demikian. Namun satu hal yang perlu kita sadari, atau mungkin telah kita rasakan sendiri, Bahwasannya, terkadang kita di kecewakan oleh Harapan yang kita ciptakan. Berandai-andai memimpikan segala hal yang indah, dan ketika ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, kita akan merasa kecewa dan sedih, mengutuk diri sendiri dengan segala hal yang telah terjadi. Kemudian menyalahkan Tuhan karena merasa tidak di perlakukan dengan adil. Sungguh miris dengan pemikiran seperti ini.

Dalam hidup, hanya ada satu hal yang perlu kita lakukan, yaitu jalani saja hidup ini. Syukuri segala hal yang telah kita miliki. Mungkin terlihat santai sekali menjalani hidup seperti pernyataan di atas, tapi ketahuilah, meskipun Impian kita seluas semesta dan harapan kita setinggi langit, namun kalau Tuhan berkata tidak, apakah kita sebagai Mahluk ciptaan-Nya berani menentang kehendak-Nya?

Masa depan, rezeki, jodoh, bahkan sampai kematian, Tuhan sudah mengurusnya untuk kita.

Buat apa kita repot menyusun segala harapan dan tujuan ini-itu?. Lakukan segala sesuatu yang kita bisa dengan sebaik mungkin. Tindakan sederhana yang mampu merubah segalanya. Tuhan tau apa yang terbaik untuk umatnya.

4. Berhenti Untuk Peduli

Berhentilah Untuk Peduli via http://www.google.com

Banyak orang berpendapat bahwa kebahagian bisa kita peroleh, ketika kita peduli terhadap sesama. Iya, bisa di bilang, pernyataan tersebut ada benarnya. Rasa peduli menunjukkan kalau seseorang masih mempunyai rasa simpati untuk mengerti keadaan orang lain. Tapi pada kenyataannya, kepedulian terkadang menjauhkan kita dari kebahagian, dan justru mengantarkan kita kepada kesedihan dan kesusahan.

Loh, kok begitu?!

Iya, terlihat aneh bukan dengan pernyataan di atas? Mana ada kepedulian mengantarkan kepada kesedihan?. Tapi realita menunjukkan kalau hal tersebut memang benar adanya. Contohnya seperti kita terlalu peduli tentang tanggapan orang lain tentang kita. Hey, kita terlahir di dunia bukan untuk memukau mereka. Kita tidak punya kewajiban untuk membahagiakan semua orang yang ada di sekitar kita. Tidak ada keuntungan bagi kita yang peduli dengan setiap celotehan mereka yang sibuk mengomentari tentang hidup kita. Itu hanya membuang-buang waktu dan merugikan diri sendiri. Kita merasa sedih karena kita tahu, ada orang-orang di luar sana yang tidak menyukai kita. Lalu kita mencoba untuk menjadi pribadi yang disukai oleh banyak orang. Tapi satu pertanyaan di sini adalah, untuk apa kita melakukan hal tersebut? Kita terlalu baik meluangkan waktu untuk peduli terhadap orang-orang yang tidak punya kerjaan mencela dan menilai kita.

Walaupun memang mengomentari hidup seseorang itu adalah kebebasan semua orang. Tapi kita juga punya hak untuk menutup telinga dan berhenti peduli dengan tanggapan orang lain tentang kita

Jadi, masih pengin peduli?

5. Tetaplah Merasa Bodoh

Tetaplah Merasa Bodoh via http://www.google.com

Pendidikan adalah hal yang di nomor satukan oleh banyak orang. Menuntut ilmu selama berbelas-belas tahun pun dijalani, bahkan sampai melintas antar benua pun ditempuh untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang terbaik. Berharap dari segala ilmu yang diperoleh, menjadikan seseorang menjadi pribadi yang cerdas dan terdidik.

Namun sayangnya, banyak orang yang merasa dirinya tau segalanya. Dia menganggap, bahwa kecerdasannya mampu membawa dirinya ke status yang lebih tinggi daripada orang-orang pada umumnya. Dengan gelar yang di dapat, membuat dirinya semakin merasa sombong karena hal tersebut dia dapatkan dengan usaha keras tanpa kenal ampun sehingga dirinya merasa puas dan tidak mau belajar lagi. Sungguh miris

Menjadi seseorang yang cerdas adalah hasil dari pembelajaran yang kita pelajari. Berbagai macam hal yang terserap di otak kita, menjadikan kita sedikit memahami ilmu-ilmu yang di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketahuilah, ketika kita merasa sudah cukup pintar dan cerdas, maka rasa keingintahuan kita akan berkurang, bahkan menghilang. Padahal, banyak hal yang dapat kita pelajari, dan hal tersebut tidak akan pernah habis untuk di kaji. Karena pada dasarnya, Ilmu bukan hanya di dapatkan dari bangku pendidikan, berkutat dengan buku-buku tebal dengan segala pengajaran yang lebih menekankan kepada Teori dan struktur-struktur. Ilmu merupakan sesuatu yang Kompleks dan Dinamis, dapat berubah dan tidak dapat di predikisi.

Contohnya seperti kita belajar untuk bersosialiasi. Kalau kita tidak terbiasa, pasti ada rasa canggung dan malu untuk berbicara dengan orang lain. Namun kalau kita mencoba untuk melakukannya, lama-lama kita akan mempelajari sebuah hal baru dalam bersosialisasi. Di samping itu pula, kita jadi paham tentang kepribadian seseorang yang terlihat dari tingkah lakunya sehari-hari. Sebuah makna pembelajaran yang sederhana, namun menambah ilmu kita.

Tetaplah merasa Bodoh. Bodoh di sini dalam artian, jangan pernah berhenti belajar.

Simpanlah rasa penasaran terhadap dunia. Karena kita akan membutuhkan hal itu kedepannya. Masih banyak hal yang harus kita pelajari. Tersimpan berjuta peristiwa yang belum terkuak dan masih tersimpan rapi untuk saat ini.