Usia pacaran kamu sudah tahunan, tetapi kok, setiap kali berantem, pacar kamu ngambek-nya berlebihan banget ya? Kalau kamu berdua lagi berantem, seolah-olah dunia runtuh dan nggak ada hal lain yang lebih penting dari itu. Sering kepikiran untuk  putus, tetapi masih sayang. Apalagi, dia baik banget kalau lagi nggak marah-marah. Kasih surprise ini-itu, ucapan-ucapan manis, dan dia selalu nemenin kamu setiap harinya. Tetapi ya itu, semuanya kalau dia lagi nggak marah-marah. 

Pernah nggak sih kamu ngerasain hal semacam ini ketika pacaran dengan seseorang?

Hati-hati, mungkin kamu nggak sadar sedang terjebak dalam emotionally abusive relationship. Yuk, kenali tanda-tandanya di artikel ini, ya!

 

1. Mood-nya mudah sekali berubah

mood yang berubah drastis

mood yang berubah drastis via http://33.media.tumblr.com

Baru aja kamu dan dia ketawa-ketawa bareng sambil makan malam di restoran. Baru aja kamu ngerasa bahagia karena punya pacar yang mau mendengarkan semua cerita kamu. Waktu lagi asyik lanjut ngobrol di mobil, tiba-tiba kamu salah memberikan petunjuk jalan untuk pulang. Kamu secara refleks bilang maaf dan gara-gara itu kalian harus cari jalan untuk putar balik. Sepele, sih. Tetapi, nampaknya ini bukan masalah kecil buat pacar kamu. Dia mendadak jadi kelihatan kesal banget dan mendiamkan kamu sepanjang perjalanan pulang. Nggak peduli seberapa keras usaha kamu untuk memperbaiki suasana, dia tetap kelihatan kesal. Suasana yang tadinya asyik, tiba-tiba langsung berubah drastis jadi menegangkan.

Contoh lainnya adalah ketika kalian bertengkar. Rasanya, kamu sudah nggak tahan lagi untuk melanjutkan hubungan ini sama dia. Akhirnya, kata putus terucap juga dari mulut kamu. Nggak lama setelah itu, dia menghubungi kamu kembali. Sikapnya berubah menjadi sangat baik dan seolah-olah melupakan masalah yang tadi kalian ributkan, dengan harapan kamu mau kembali bersamanya. 

2. Dia sering mengeluarkan ancaman-ancaman jika sesuatu yang dia tidak sukai terjadi

dia sering mengeluarkan ancaman

dia sering mengeluarkan ancaman via http://i3.chroniclelive.co.uk

Salah satu tanda dari kepribadian seseorang yang sudah dewasa adalah dia mampu bertanggungjawab atas hidup yang ia jalani. Jadi, nggak makes sense untuk orang yang sudah dewasa untuk sepenuhnya menyalahkan orang lain ketika dia merasa tidak puas atau tidak bahagia. Sumber kebahagiaan dan juga kekecewaan untuk dirinya bukan semata-mata berasal dari kamu seorang. Berhati-hatilah jika pacar kamu terbiasa mengeluarkan ancaman seperti,"Kalau kamu begitu, jangan salahin aku ya, kalau nanti aku bawa mobilnya asal-asalan." Versi lainnya yang mungkin muncul ketika kamu bertengkar adalah dia mengancam untuk menyakiti dirinya sendiri, merusak barang, atau bahkan, di titik yang paling ekstrem, mengancam untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

3. Dia tidak mau mendengarkan pendapat kamu

tidak mau mendengar

tidak mau mendengar via http://img.ksl.com

Biasanya ketika bertengkar, pembicaraan antara kamu berdua didominasi oleh pasangan kamu. Dia terus berbicara, berargumen, dan kadang, berteriak untuk mempertegas opini yang dia miliki. Kamu merasa seolah-olah tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang ada di pikiran kamu. Sampai akhirnya, kamu menjadi malas untuk berpendapat. Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu hubungan. Kalau hanya dia, dia, dan dia, yang selalu ingin didengarkan, namun tidak demikian halnya dengan kamu, coba deh, pertimbangkan lagi, apa ini yang namanya pacaran secara sehat?

4. Kamu selalu berhati-hati dengan ucapan dan tindakan kamu kalau sedang bersamanya

seperti berjalan di atas telur

seperti berjalan di atas telur via http://static1.squarespace.com

Kamu terbiasa menyaring terlebih dahulu kata demi kata yang ingin kamu ucapkan kepada dia karena salah sedikit saja, kamu tahu dia bisa menjadi sangat marah. Tanpa sadar, kamu juga selalu memastikan segala kegiatan yang bersifat sehari-hari berjalan dengan baik untuk menjaga mood dia dan situasi di antara kamu berdua untuk selalu harmonis. Padahal, nggak semua hal bisa kamu kendalikan. Misalnya, jalan yang macet, jadwal acara yang berubah, atau hujan yang tiba-tiba turun. Dan yang terpenting, sebetulnya bukan tanggungjawab kamu untuk menjaga perasaan pasangan kamu waktu demi waktu, karena hanya orang tersebut-lah yang sebenarnya bertanggungjawab atas emosi yang ia miliki. Lagipula, kalau kamu sibuk mikirin pasangan kamu terus, kapan giliran keinginan kamu yang diakomodir? Percaya deh, lama-lama capek banget rasanya tidak bisa menjadi diri kamu sendiri di depan orang yang seharusnya mampu menerima kamu apa adanya.

5. Dia selalu membuat kamu menjadi pihak yang salah

ujung-ujungnya, kamu merasa selalu salah

ujung-ujungnya, kamu merasa selalu salah via http://nobullying.com

Di dalam menjalin suatu hubungan, konflik merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Yang nggak wajar adalah ketika bertengkar hanya untuk mencari-cari pihak yang salah, di saat idealnya dua orang berkomunikasi dengan baik-baik untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Sebetulnya, nggak ada kok masalah yang nggak bisa dibicarakan secara baik-baik. Kalau masalah kecil saja harus menguras emosi selama berhari-hari, apa kabar dengan hubungan kalian jika menemui masalah yang lebih besar nantinya? Yang aneh juga adalah ketika setiap kali membahas suatu permasalahan, pacar kamu selalu bersikeras kalau kamu yang salah. Seringkali dia nggak berhenti marah sampai ada kata maaf dari kamu. Bahkan, untuk masalah yang awalnya bukan bermula dari kamu. Akibatnya, kamu selalu dihantui perasaan bersalah untuk segala hal yang terjadi.

Masalahnya, menjalani hubungan dengan seseorang yang memiliki ciri-ciri tersebut seringkali kelihatan normal dari luarnya. Apalagi, cinta sering membuat orang mudah terbawa perasaan dan menjadi kurang rasional. Biasanya, lama-lama kamu akan menjadi sangat lelah menjalani hubungan ini karena kamu merasa not good enough. Kamu juga bakalan sering ngalamin permainan emosi, di mana pacar kamu gampang banget men-treat kamu dengan buruk, tetapi di sisi yang lain dia juga gampang mendeklarasikan rasa sayangnya ke kamu. Seringnya lagi, kamu merasa nggak berdaya karena lewat kata-kata dan prilakunya, ia sering menyampaikan pesan kalau "hanya dia yang bisa mencintai kamu seperti ini". Itulah kenapa, banyak orang yang mengira kalau emotionally abusive relationship hanyalah sebuah fase di dalam masa pacaran. Banyak juga yang bertahan hingga bertahun-tahun dan diam-diam berharap "mungkin nanti dia bisa berubah". 

Cobalah berhenti untuk menganggap ini sebagai sesuatu yang normal, karena ini tidak normal. Mungkin saat ini kamu (masih) merasa sayang kepadanya, tetapi satu hal yang perlu kamu pikirkan, pasangan yang baik tentunya selalu berusaha untuk membahagiakan orang yang ia sayangi, dengan cara sekecil apa pun.