Jaman sekarang, cari duit itu susah.

Kamu yang sering menggunakan kendaraan umum tentunya familiar dengan kata-kata di atas. Kata-kata itu begitu merasuk ke pikiran sampai kamu lupa siapa orang yang mengucapkannya. Ialah musisi jalanan, sekumpulan orang yang sehari-harinya selalu mengisi keseharian, tapi dengan mudah kita lupakan begitu saja. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri kita pada mereka.

1. Maaf Mengganggu Perjalanan Anda

Bang, request lagu 3 album ya! via http://sidomi.com

Siapapun pengamennya, apapun latar belakangnya. Kalimat ini adalah kalimat pembuka yang umum digunakan para musisi jalanan. Baik itu yang ramah, maupun yang represif. Mungkin kalimat ini jadi materi ajar pertemuan pertama Pelatihan Musisi Jalanan.

Sebenernya ganggu atau nggak ganggunya mereka tergantung sikap mereka setelah ngucapin kalimat ini. Kalau dia justru bikin kamu terganggu karena pada saat yang bersamaan kamu lagi nelpon, atau kamu lagi asyik-asyiknya mendengarkan playlist sang supir, ya berarti musisi jalanan itu memang secara nggak sadar justru mengganggu kamu. Hanya saja kebanyakan dari kita memang nggak pernah punya kesempatan atau keberanian untuk ngungkapin langsung ke mereka.

Tapi kalau dia justru menghibur kamu, bikin kamu ikut goyang mengikuti irama musiknya atau mengingatkan kamu dengan kenangan masa lalu (yang mana bikin kamu jadi sedih-sedih nikmat), berarti dia memang beneran nggak punya niat buat ganggu kamu. Dan saking asyiknya, kita bahkan sampai lupa untuk menyelipkan kata pujian akan penampilannya yang begitu memukau.

2. Daripada Nodong Lebih Baik Kami Ngamen

Advertisement

Biar rambut kami gondrong, tapi kami bukan penodong~ via http://brilio.net

Kalimat ini seringkali diucapkan oleh tipe musisi jalanan represif. Yang mana kelakuannya nggak ada bedanya sama nodong, cuma sambil ngamen. Setelah menyanyikan lagu-lagu yang cuma dia sendiri yang suka tanpa sedikit usaha buat menghibur kita, mereka mengharapkan apresiasi dalam bentuk uang yang tidak sedikit.Kadang jika kita sudah menolak, mereka akan tetap meminta hingga lampu merah berubah menjadi hijau.

3. Seribu Dua Ribu Tidak Akan Mengurangi Kekayaan Anda

Kasih dah kasih! via http://notech4u.deviantart.com

Ini juga seringkali diucapin dengan musisi jalanan represif. Saran aja nih, kalau menghadapi pengamen jenis ini, pilihannya ada dua. Pertama, kasih duit di atas seribu (kalau emang kamu beneran suka sama performancenya). Kedua, nggak usah ngasih sekalian. Karena biasanya kelakuan mereka nggak terima terima receh.

4. Dikulum-kulum, Dikunyah-kunyah. Assalamualaikum, Tuan dan Nyonyah!

Ayo hargai usaha mereka via http://www.inijie.com

Bangsa Indonesia memang tidak bisa lepas dari yang namanya pantun. Lihat saja copy di berbagai iklan-iklan yang kita lihat dan dengar, pasti selalu rhyming (walau terkadang tak ada meaning). Walaupun suara sang musisi jalanan kurang pas di telinga ataupun musiknya tidak kita suka, tapi usahanya untuk berpantun terkadang menerbitkan senyum di bibir kita.

Nggak cuma berpantun, sang musisi kadang menyelipkan rima-rima uniknya dalam lirik lagu ajaib yang ia ciptakan sendiri seperti…

"Sesungguhnya…manusia…diciptakan dari setetes air koka-kola"

5. Yang Ngasih Semoga Masuk Surga…

Sampai bertemu di surga via https://lh3.googleusercontent.com

Tunggu dulu, ini masih ada lanjutannya

“Terima kasih semuanya, yang ngasih semoga masuk surga. Yang nggak ngasih masuk surga juga, cuma belakangan.”

Oke deh, diaminin saja. Yang penting kan niatnya baik.

Semoga setelah ini kita masih berkesempatan untuk dihibur oleh para musisi jalanan berhati tulus itu karena niat mereka sesungguhnya hanya mencari duit, bukan mencari masalah.