1. syarat mutlak dalam melakukannya adalah ikhlas

Ikhlas menjadi syarat mutlak dalam membagikan uang angpao. Kenapa? Biar uang yang kita berikan membawa berkah dan manfaat untuk orang-orang atau handai taulan yang kita beri. Ikhlas di sini juga bermakna tidak mengungkit-ungkit (nominal uang) yang telah kita berikan atau mengharapkan (anak) kita nantinya juga mendapatkan (balasan) yang sama. Intinya kalau udah ngasih ya udah, lupain aja!

2. Jangan memaksakan diri

Membagikan angpao lebaran memang bukan kewajiban tapi bagian dari budaya kita dengan tujuan mempererat tali silaturrahmi dan sebagai ungkapan syukur atas limpahan rejeki selama ini. Kita bisa mengukur seberapa besar kemampuan kita dalam berbagi dilihat dari income per-bulan dan pengeluaran utama kita.

Tidak masalah jika hanya mampu memberi sedikit asal ikhlas. Karena (menurut pengalaman saya ketika kecil dulu) yang diberi tidak melihat berapa nominal uang yang ia dapatkan. Dapet berapapun sudah sangat senang. Jangan sampai menjelang lebaran kalian pergi ke kantor Pegadaian untuk menggadaikan harta berupa perhiasan hingga kendaraan untuk ngasih angpau lebaran. Tidak salah memang tetapi terlalu memaksakan diri dan bingung pas mau nebusnya.

3. Bersikap adil

Advertisement

Bersikap adil via http://loop.co.id

Bersikap adil di sini bermakna memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhan atau porsinya. Hal ini sangat penting karena setiap orang pada tingkatan umur atau jenjang pendidikan yang berbeda akan memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Kita memiliki sepupu atau keponakan dengan beragam usia mulai dari balita, duduk di bangku TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah.

Tentu kebutuhan mereka berbeda-beda. Jangan samakan antara yang masih SD dengan yang kuliah. Contoh : saudara yang masih SD kita beri Rp10.000,00 ; SMP Rp25.000,00 ; SMA Rp50.000,00 ; dan yang kuliah Rp100.000,00 (ini hanya contoh). Kita juga bisa melihat pada tingkat ekonomi mereka. Anak yang kurang mampu boleh kita lebihkan dengan tujuan meringankan beban orang tuanya.

Apabila kalian memiliki saudara, sepupu, keponakan, atau tetangga yang non-muslim, jangan lupa untuk memberi angpao kepada mereka agar mereka turut merasakan berkahnya Idul Fitri.

4. Masukkan ke dalam amplop dan cantumkan nama-nama penerimanya

Angpao lebaran yang lucu dan cantik via http://doddolide.blogspot.co.id

Namanya juga angpao pasti dimasukkan ke dalam amplop. Dulu ketika penulis masih kecil, uang lebaran diterima secara langsung tanpa dimasukkan ke dalam amplop sehingga orang lain dapat melihat nominalnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak yang mengadopsi sistem angpao dari orang-orang Tionghoa dan munculnya beragam amplop-amplop angpao yang lucu nan menarik. Lebih lucu lagi anak-anak kecil tidak peduli berapa nominal uang di dalamnya tetapi perhatian mereka lebih kepada amplop yang mereka terima.

Memasukkan uang ke dalam amplop angpao kemudian membubuhkan nama penerima di atasnya itu sebenarnya lebih untuk menjaga "keikhlasan" dan kepraktisan. Kita pasti sudah memiliki list siapa saja yang akan menerima angpao tersebut dan nominal uang yang sesuai dengan tingkat kebutuhan mereka. So, biar gak ada yang terlewat bisa terapkan hal ini.

5. berikan nasihat yang baik tentang cara menggunakan uang tersebut

Memanfaatkan uang dengan baik via https://www.merdeka.com

Tips terakhir ini sepele tapi banyak dilewatkan oleh sebagian besar orang. Anak-anak kecil, terutama yang masih TK atau awal-awal masuk SD, pada umumnya belum tahu mengenai penggunaan uang yang tepat. Mereka tahunya uang untuk beli jajan, mainan, atau baju. Seperti ketika penulis masih kecil, nenek-nenek samping rumah ketika memberi uang menyisipkan saran

"Uangnya buat beli es lilin ya."

"Uangnya buat beli tembak-tembakan di tempat Pak Supri ya."

"Uangnya buat beli gado-gado di Mang Upi ya."

Walhasil uang tersebut benar-benar "amblas" dibelikan es dan berbagai macam jajajan karena yang terbesit dalam pikiran (anak-anak) saat itu : "Yang ngasih aja nyuruh buat beli es, ya udah aku beliin es yang banyak." Tapi berhubung sekarang sudah ganti posisi menjadi "pemberi angpao lebaran", coba berikan nasihat yang lebih bermanfaat, misalnya :

"Uangnya ditabung ya."

"Uangnya buat beli buku dan alat tulis ya."

Atau untuk yang sudah kuliah :

"Uangnya dipake buat beli kertas HVS lima rim ya, siapa tau skripsi kamu banyak coretannya."

"Uangnya buat beli paket internet ya. Trus internetnya buat browsing jurnal bahan skripsi kamu biar cepat kelar."

Setelah memberikan angpao kalian juga kalian bisa menitipkan "doa" agar mereka mendoakan kalian.

"Doain biar om banyak rejeki ya."

"Doain tante biar segera bisa nemuin om buat kamu ya."

Sederhana tapi anak-anak itu adalah pengingat yang baik dan secara tidak langsung kita mengajarkan tentang pengelolaan uang. So, menyisipkan nasihat memang ga ada salahnya dilakukan.