Adakah di antara kita yang ngga tau WPAP? Siapapun yang gak tahu, status kurang hitz pantas disematkan buat kamu.

Beberapa tahun belakangan ini, dunia seni, baik Indonesia maupun internasional, terjangkit sebuah gaya pop art bernama WPAP (Wedha's Pop Art Potrait). Kamu bisa cek sendiri berapa banyaknya konten video atau artikel yang isinya tutorial bikin WPAP. Rasaynya bakal butuh puluhan, bahkan ratusan teman kamu, buat ngitung pake jari jumlah konten yang ada di internet.

Jadi, WPAP adalah seni ilustrasi wajah yang terdiri dari kumpulan  bidang datar dengan setiap bidang yang warnanya saling berkontradiksi. Bahasa mudahnya, wajah kamu digambar, tapi setiap lekuk dan permukaan wajah kamu diubah jadi bidang datar, entah itu persegi, segitiga, atau bidang-bidang lain sesuai kebutuhan si pelukis, dengan setiap bidang punya warna yang berbeda-beda.

Tapi, kamu tahu gak soal fakta-fakta WPAP. Sila dibaca di bawah ini:

 

1. INDONESIA PUNYA

Wedha Abdul Rasyid

Wedha Abdul Rasyid via http://www.cintapekalongan.com

Sebagian dari kita, apalagi yang baru kenal dengan gaya WPAP, mungkin akan mengira bahwa gaya seni gambar ini berasa dari luar negeri. Tapi sayangnya, buat kamu yang mengira demikian, kamu salah besar.

Kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga. Pencipata gaya WPAP adalah asli orang Indonesia, tapatnya Pekalongan. Beliau bernama Wedha Abdul Rasyid.

2. Lahir Karena Masalah Mata! Bukti Jika Kekurangan Bisa Jadi Kelebihan

Orang ini brilian dalam mengatasi tantangan hingga tercipta sebuah gaya baru.

Orang ini brilian dalam mengatasi tantangan hingga tercipta sebuah gaya baru. via http://img00.deviantart.net

Gaya WPAP lahir disengaja. Tahun 1990, daya penglihatan Wedha mengalami penurunan karena factor usia. Saat itu usianya sudah mencapai 40 tahun. Akibatnya, menggambar potret wajah yang realistis dan detail adalah pekerjaan yang sulit.

Untuk mengatasinya, Wedha kemudian mencanangkan cara baru dalam membuat gambar ilustrasi wajah yang lebih mudah baginya. Titik, garis dan bidang menjadi imajinasinya, dan ia berpikir bahwa potret wajah manusia bisa diwakili oleh kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis imajiner.

3. Berkat WPAP, Pencetusnya Dijuluki Bapak Ilustrasi Indonesia

Komunitas WPAP berada di Perancis.

Komunitas WPAP berada di Perancis. via http://www.darahgaruda.com

Gak Cuma di dalam negeri, Wedha juga aktif mengikuti kegiatan seni di luar negeri, seperti Perancis dan Belanda. Tak jarang juga pria kelahiran 10 Maret 1951 ini diundang menjadi pemateri dan memamerkan karya-karyanya di luar negeri.

Atas prestasinya dalam menciptakan gaya baru dalam dunia seni gambar yang dikenal hingga dunia internasional. Wedha dijuluki Bapak Ilustrasi Indonesia.

4. Helatan Konferensi Asia Afrika 2015 Jadi Lebih Berwarna

Pemandangan KAA tahun 2015.

Pemandangan KAA tahun 2015. via http://www.darahgaruda.com

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, punya kekaguman terhadap WPAP. Pria yang akrab dipanggil Kang Emil itu lalu memutuskan menggunakan WPAP untuk mengwarnai Kota Bandung saat peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, tahun lalu.

Kang Emil kemudian mengajak kerjasama komunitas WPAP Bandung untuk mengurusi segala bentuk dekorasi visual dalam perhelatan akbar tersebut. “Ceritanya Kang Emil kepengen bikin nuansa yang berbeda untuk KAA. Mengingat selama ini KAA selalu bertemakan klasik dan kuno. Nah dari situlah, ia memutuskan untuk mencari komunitas WPAP,” ungkap Nada Ahmad, ketua komunitas WPAP Bandung.

5. Pak Wedha Adalah Lulusan SMA

Tak bisa dipungkiri. Ia salah satu tokoh inspiratif Indonesia.

Tak bisa dipungkiri. Ia salah satu tokoh inspiratif Indonesia. via http://blog.ub.ac.id

Gaya ilustrasi potret wajah yang kini tengah populer ini ternyata digagas oleh anak bangsa yang hanya lulusan SMA. Hal ini tentu sangat bisa jadi inspirasi bagi semua anak-anak bangsa untuk berprestasi di bidangnya yang digandrunginya masing-masing.

6. Pencetus WPAP Sudah Berkarya Sejak 1970-an

WPAP pada majalah Hai di era 90-an.

WPAP pada majalah Hai di era 90-an. via https://pbs.twimg.com

Sejak dekade 1970-an, Pak Wedha berprofesi sebagai ilustrator. Untuk karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman Hariwijaya, di majalah Hai, ilustrasinya digarap oleh Pak Wedha. Di majalah Hai jugalah Pak Wedha kerap mengerjakan ilustrasi potret para tokoh dunia yang menjadi liputan majalah.