Ramadhan. Mendengar namanya saja, hati jadi bergetar. Ibadah kita akan dilipatgandakan oleh Allah. Belum lagi, bayangan nikmatnya berkumpul bersama keluarga, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan indahnya sahur serta berbuka tak pernah seindah dibandingkan pada bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan.

 

1. Bulan penuh berkah, ampunan, dan rahmat.

Shalat, amalan yang paling pertama dihitung

Shalat, amalan yang paling pertama dihitung via http://fnuswantoro.blogspot.com

Pada bulan ini, masyarakat Muslim berlomba-lomba melakukan ibadah dan kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Berpuasa sebulan penuh dengan sukacita dan empati, serta turut merasakan ketidakberuntungan masyarakat di berbagai belahan dunia yang masih menganggap mewahnya makan nasi setiap hari. Menahan hawa nafsu karena setan telah dibelenggu. Jika kita tetap melakukan maksiat, itu asalnya dari diri kita sendiri. Jangan salahkan setan! 

Tarawih setiap malam jadi agenda wajib selepas berbuka. Tahajud, meminta ampunan dari Allah, dan berkomunikasi dengan intim kepada Sang Pencipta sebelum bersantap sahur menjadi ringan. Tadarus Al-Qur'an selepas shalat lima waktu dengan target untuk khatam dalam Ramadhan kali ini. Bersedekah lebih sering dari bulan-bulan sebelumnya. Mengejar Lailatur Qadr pada sepuluh malam terakhir. Beri'tikaf di masjid untuk merenungi segala dosa dan khilaf yang telah dilakukan. Dalam hati ini pun, berjanji untuk terus melakukan semua ibadah dan kebaikan ini setelah Ramadhan telah usai.

2. TV dan media dihiasi dengan hal yang menyejukkan.

salah satu iklan mie instan

salah satu iklan mie instan via http://www.kaskus.co.id

Cerita pada iklan sirup, minuman, margarin, bumbu penyedap, provider telekomunikasi, dan masih banyak lagi, menjadi sarat makna dan moril demi menyongsong hari kemenangan. Postingan di berbagai media sosial pun menjadi penuh kebaikan. Presenter dan pembawa acara menutupi auratnya dan berbicara dengan santun ketika membawakan suatu program.

Pejabat dan petinggi berlomba-lomba mengucapkan selamat berbuka/ hari kemenangan demi mendapat simpati masyarakat? Semoga bukan. Sinetron-sinetron sarat dengan aroma Ramadhan. Apapun bentuknya, ini adalah langkah positif yang mestinya kita hargai dan syukuri.

3. Banyaknya undangan berbuka puasa.

buka bersamaaa

buka bersamaaa via https://www.facebook.com

Momen bulan Ramadhan membuat acara berbuka bersama menjadi agenda wajib yang tidak terlewatkan. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, bahkan keluarga sendiri. Mulai dari menentukan tanggal (agar tidak bentrok dengan jadwal buka bersama dengan komunitas lain) sampai menentukan tempat, jadi hal-hal yang tidak terpisahkan pada momen ini. 

Tak pelak, hal ini sekaligus menjadikan buka bersama sebagai ajang reuni kecil-kecilan. Selepas buka bersama, biasanya dilanjutkan dengan jalan-jalan, karaoke, atau lainnya. Tarawih dan agenda rutin tadarus selepas tarawih menjadi terlewatkan karena sudah lama tak bertemu dengan teman lama. Dalam hati ini pun, kembali berjanji akan mengganti ibadah yang terlewat setelah pulang buka bersama. Sampai rumah, zzzzzzzzzz... Lalu tidur terlelap. Ckckck!

4. Keluarga menjadi satu.

Nikmat mana lagi yang bisa diingkari selain berkumpulnya seluruh keluarga besar kita? Beribadah bersama, bersenda gurau, pergi ke tempat wisata, ngantri kamar mandi (ups), menyiapkan buka dan sahur bersama, menyiapkan hari kemenangan bersama-sama, bersilaturahmi ke keluarga besar lainnya, bermaaf-maafan, membagikan sangu kepada keponakan (glek), dan sejenak melupakan penatnya dunia dengan berbagi cerita tentang kehidupan.

Seberapa suksesnya seseorang, keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali. Merekalah yang mendampingi dari kita kecil, mengiringi perjalanan hidup, sampai masalah jodoh. Sesibuk apapun dan sejauh apapun tempat kita bekerja, semua hal diupayakan agar dapat mudik dan bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Antrian transportasi yang mengular sampai menginap di stasiun dilakukan demi terwujudnya cita-cita berkumpul bersama keluarga tercinta.

Welcome back sister, brother, uncle, aunt! We're here waiting for your coming.

5. Tradisi-tradisi saat Ramadhan.

tradisi padusan

tradisi padusan via http://www.timlo.net

Tak lengkap rasanya bila Idul Fitri tidak ada ketupat, santap sahur tanpa sahur keliling, dan hal lainnya yang membuat kita semakin rindu. Lain daerah, lain pula tradisinya. Misalnya, ada tradisi Nyorog khas Betawi untuk menyambut bulan Ramadhan. Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua. Ada juga Padusan di daerah Jawa Tengah yang mana masyarakat beramai-ramai untuk mandi atau berendam di mata air untuk membersihkan jiwa dan raga yang akan melakukan ibadah puasa, sehingga bersih secara lahir dan batin.

Berdirinya pasar takjil yang hanya ada selama Ramadhan sampai kios-kios yang menjual petasan dan kembang api yang juga hanya ada selama Ramadhan. Masih banyak lagi tradisi lain dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menunjukkan betapa kayanya tradisi kita dalam menyambut Ramadhan.

6. Dia yang tiba-tiba hadir.

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan via https://lazyflowerisme.wordpress.com

Dia yang dimaksud, bisa berarti sahabat yang sudah lama dirindukan. Misalnya kerabat jauh yang tidak pernah berkomunikasi, rekan kerja yang pernah terlibat kesalahpahaman, dan banyak lagi yang tidak pernah berkomunikasi (mantan juga boleh,). Ramadhan dan Idul Fitri menjadi ajang untuk bermaaf-maafan dengan semua pihak. Mendekatkan yang jauh, mengakrabkan yang canggung, dan memaafkan yang khilaf.

Bertubi-tubi ucapan "Selamat Idul Fitri" atau meminta maaf dari teman-teman yang bahkan tidak kontak setahun lamanya. Itulah uniknya dan berkahnya bulan ini: mendekatkan yang jauh!

 

 

Masih banyak lagi hal yang kita rindukan saat Ramadhan. Semoga di bulan ini, kita dapat menjadi sebaik-baiknya manusia dan tetap istiqamah dalam beribadah. Semoga pula, kita semua dapat bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya dan selanjutnya. Happy Ramadhan!