07 Maret 2017 saya menyempatkan diri untuk nonton film Bukaan 8. Film ini bergenre drama komedi. Sebelum saya membahas hal yang saya rasakan setelah menonton film ini, saya akan menjelaskan terlebih dahulu maksud dari judul Bukaan 8 ini. Kata "bukaan" di sini maksudnya adalah fase atau tahap terbukanya leher rahim dalam proses melahirkan. Sedangkan fase tersebut pada umumnya memiliki 10 tahapan, maksudnya bukaan 1 sampai dengan bukaan 10. Dalam film ini, tokoh "Mia" yang diperankan oleh Lala Karmela adalah sosok seorang calon ibu yang sedang berjuang melahirkan secara normal, dan berhasil bertahan sampai dengan fase bukaan ke 8, itulah yang dijadikan judul film "Bukaan 8".

1. Saya asli nonton, bukan review dari hasil review!

Baiklah, langsung saja. Setelah saya nonton film Bukaan 8 ini, perasaan saya campur aduk. Saya sampai bingung harus berekspresi seperti apa. Film ini membuat saya tertawa, namun saya juga harus menangis haru, dan saya juga merasa tertampar. Jadi, meskipun ini termasuk film bergenre komedi, namun banyak pesan-pesan yang secara tidak langsung bisa kita ambil sebagai pelajaran atau pengalaman. Berikut 8 hal yang saya rasakan:

2. Rasa semangat untuk memperjuangkan cinta

Dalam film ini, dikisahkan Alam yang diperankan oleh Chicco Jerikho sebagai tokoh utama menggunakan cara yang tidak baik untuk bisa menikahi Mia kekasihnya. Mia hamil di luar nikah, sehingga mau tidak mau, Alam harus menikahi Mia. Meskipun begitu Alam berkata, "Restu itu harus diperjuangkan". Ya, nekat sekali caranya. Tapi, saya jadi sadar, saya harus semangat memperjuangkan cinta sampai mendapat restu, tentunya dengan cara yang baik. Jangan sampai saya menggunakan cara seperti yang digunakan Alam.

3. Rasa tanggung jawab

Advertisement

Terlepas dari segala keburukan pribadi Alam, dia adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Melihat acting yang luar biasa dari Chicco Jerikho sebagai Alam, yang rela melakukan apapun demi Mia istrinya, membuat hati saya berbisik "Saya juga harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab". Apalagi bagi kaum pria, ya kan?

4. Rasa khawatir dan was-was

Di awal kisah, Alam membawa Mia melahirkan di RS besar yang cukup terkenal dan berencana menggunakan fasilitas ruang VIP. Namun ternyata, dana yang dimiliki Alam tidak cukup untuk membayar fasilitas VIP. Pasti semua laki-laki ingin kekasihnya mendapatkan segala hal yang terbaik, begitu pula saya. Itulah yang mebuat saya khawatir. Saya takut nanti di kemudian hari, saya tidak mampu memberikan yang terbaik untuk pasangan saya.

5. Rasa yakin untuk tidak terburu-buru menikah

Melihat beberapa konflik yang dialami oleh Alam. Mulai dari tidak dipercaya oleh mertuanya sendiri lantaran pekerjaannya tidak jelas, terlilit hutang, masalah pribadi di dunia maya, masalah biaya persalinan, dan lain-lain. Membuat saya mantap berkata "Semua harus dipersiapkan dengan matang". Saya harus memiliki pekerjaan yang minimal cukup untuk hidup berkeluarga. Dan tidak hanya itu, semuanya harus benar-benar dipersiapkan, tidak bisa sembarangan.

6. Rasa pantang menyerah

Dari semua yang dialami oleh Mia dan Alam, mereka tidak pernah putus asa. Mia tetap yakin bahwa dirinya mampu melahirkan bayinya secara normal, meskipun tekanan terus diberikan oleh Ambu (ibu Mia) yang diperankan oleh Sarah Sechan. Begitu pula dengan Alam, dia tidak pernah berhenti berusaha untuk mengusahakan ruang VIP untuk persalinan Mia istrinya, biaya rumah sakit, dan Alam juga terus mengusahakan yang terbaik untuk Mia istrinya. Itu membuat saya menjadi ikut bersemangat untuk mengejar apa yang sudah saya targetkan.

7. Rasa optimis

Saat Alam mulai merasa frustasi dengan apa yang menimpanya, hampir saja Alam melakukan hal yang sangat bertentangan dengan dirinya demi mendapatkan uang untuk biaya melahirkan istrinya, namun dia bertemu dengan seorang mandor proyek bangunan. Mandor itu membutuhkan seseorang untuk menggantikan operator crane yang baru saja kecelakaan, dan akhirnya Alam mengambil kesempatan itu. Padahal Alam tidak pernah mengoperasikan crane sama sekali sebelumnya, namun dia yakin, dan dia harus melakukannya, demi istri dan calon anaknya.

Hanya berbekal video tutorial sederhana cara mengoperasikan crane, Alam mencoba melampaui batasannya. Dia optimis, dan dia berhasil. Itulah yang membuat saya merasa harus optimis. Karena saat kita yakin, maka kemungkinan berhasil itu akan bertambah. 

8. Rasa ingin memiliki cinta yang sama-sama menyayangi

Saya sangat senang melihat karakter Mia yang selalu membela Alam sebagai suaminya. Dalam keadaan sulit Mia tetap berjuang bersama Alam, meskipun Ambu selalu tidak percaya kepada Alam. Bahkan Abah (ayah Mia) yang diperankan oleh Tio Pakusadewo sampai sempat bermusuhan dengan Alam, namun Mia tetap membela Alam sebagai suaminya, dan kemesraan yang mereka tunjukkan membuat saya bermimpi mendapatkan wanita yang percaya dan menyayangi saya sepenuhnya dalam keadaan apapun.

9. Rasa rindu ayah ibu

Melihat Mia berjuang mati-matian untuk melahirkan, dan Alam mati-matian mencari uang untuk biaya melahirkan, memberikan gambaran bagi saya betapa beratnya ayah dan ibu saya dulu waktu melahirkan saya. Di akhir cerita, Alam dan Mia sangat bahagia atas kelahiran anak pertamanya. Saya yakin, hal itu dirasakan oleh ayah dan ibu saya dulu. Seketika mata saya berkaca-kaca teringat ayah dan ibu di rumah.

Ya, itulah 8 hal yang saya rasakan setelah saya nonton film Bukaan 8. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Mungkin kamu tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan, atau mungkin bahkan kamu merasakan lebih dari apa yang saya rasakan. Boleh tulis apa saja yang kamu rasakan setelah nonton Bukaan 8 di kolom komentar. Terimakasih sudah membaca tulisan saya.