Dari sekian banyak teman yang kita miliki dalam kehidupan kita, tentu paling tidak kamu mempunyai sahabat. Minimal satu sahabat deh. Derajat sahabat tentu berbeda dengan teman biasa. Seiring berjalannya waktu, teman datang dan pergi silih berganti. Sahabat? Sama seperti pasangan hidup, sahabat itu tak lekang oleh waktu dan hal apapun. Persahabatan juga nggak mesti melakukan hal-hal yang mewah, tiap saat shopping, party. Bukankah yang sederhana namun dengan ketulusan itu lebih bermakna?

Berikut adalah hal-hal sederhana yang pasti kita temui dan alami bersama sahabat terkasih. 

 

1. Suka dan duka tetap bersama.

Sahabat itu nggak hadir pada saat lagi nongki-nongki cantik atau aktivitas have fun lainnya ajah, tetapi juga selalu ada disaat kamu lagi putus cinta, nilaimu anjlok, cekcok sama orangtua, lagi stress, dan hal-hal sedih ataupun terpuruk lainnya. Bahkan, dia bisa rela ninggalin kerjaannya supaya bisa bersamamu ketika dalam situasi terberatmu. Ia akan berusaha menjadi problem solvernya kamu.

2. Menerima dan menghargai lebih-kurangnya kamu.

Kamu suka ngupil terus coletin ke sahabatmu, suka kentut sembarangan, ceroboh, cuek, emosian, baperan, kalau lagi cerita ngocehnya kayak BAB 4, dan sahabat kamu nggak mempermasalahkan itu. Walau kadang kesel, but that's not a big deal. Kekesalan dia akhirnya mereda karena dia menyadari dan memahami bahwa seperti itulah kamu. Dia juga tidak akan memberi penilaian yang sembarangan cuma gara-gara kekuranganmu, karena dia tau bahwa dibalik kekuranganmu ada kelebihanmu. Kekuranganmu memang seperti itu, dibalik itu ternyata kamu tipe yang care abis, pendengar yang baik, punya talenta yang mengagumkan, dan lain sebagainya. 

3. Saling mengoreksi dan mengingatkan.

"Eh, alis kamu ketebalan tuh. Nih coba kayak aku, lebih natural."

"Baju kamu terlalu ketat tuh."

"Kemarin udah ke gereja, kan?"

"Kok nggak shollat? Lagi dapet?" 

Sahabat itu nggak akan ngebiarin kita terlihat not good. Jika ada something wrong dan nggak pantes buat kamu, kalian pasti akan saling mengoreksi untuk kearah yang lebih baik. Kedekatan kalian yang banget-banget itu membuat kalian terbiasa akan banyak hal yang dimiliki satu sama lain, sehingga jika ada yang salah atau kurang, kalian akan saling mengoreksi dan mengingatkan. Jangan heran pula kalau dalam persahabatan itu, ngoreksinya bisa pedesss, bisa pake ngomel-ngomel juga. Ya itu tanda sayang. Dan dari sini kalian akan menjadi sahabat yang saling melengkapi pula.

4. Tidak ada batasan apapun dalam persahabatan.

Jika masih ada batasan-batasan, maka bukan sahabat namanya. Apapun suku, agama, adat istiadat, dan budaya jangan sampai menghalangimu untuk membentuk suatu ikatan persahabatan. Situasi buruk apapun diluar sana, yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan tersebut, tidak akan mempengaruhi persahabatan kalian yang tulus. Jika karena hal-hal seperti ini atau hal-hal tidak penting lainnya bisa merobek hubungan persahabatan kalian, berarti kalian belum sepenuhnya bersahabat. Persahabatan hanya sebatas 'ucapan'.

Kemudian hobimu, passion-mu, jurusan pendidikanmu juga bukanlah alasan mutlak sebuah persahabatan. Apakah ketika kamu di jurusan A dan dia di jurusan A, karena sering bertemu jadinya sahabatan? Bisa iya, bisa juga tidak. Tidak mutlak.

5. Nggak bergantung tempat.

Sahabat itu bukan tempat persinggahan. Misalnya di tahun ini kamu tinggal di tempat A. Kamu menemukan seseorang dan akhirnya menjadi akrab banget. Ngapa-ngapain bareng terus, apalagi kalau kalian satu jurusan, beuh. nempel terus. Lalu 3 tahun kemudian, di tempat B, menemukan seseorang baru, satu jurusan, akrab banget, kemana-mana bareng, kemudian sepakat bersahabat. Yang sebelumnya dikemanain? Yah, kontak gitu-gitu ajah deh, biasa ajah. 

Mau dimanapun tempatmu berada, seberapa jauhpun jaraknya, kamu tetap bersamanya dalam situasi apapun, kamu tetap kontek-kontekan, tetap making gossip konyol, tetap shopping bareng, curhat-curhat sampe nangis, dan lain sebagainya. Jadi nggak sekedar nyomot nyesuaiin dimana kakimu berpijak.

6. Nggak perhitungan.

"Eh, tadi berapa harga nasi kucingnya?"

"Yaelah lu, pake nanya. Uda ah nggak usah." 

... 

"Aku nitip dong beliin cemilan makaroni sebungkus, di warung biasa. Berapa harganya? Aku lupa."

"Udah pake duitku aja. Gantinya entar kapan-kapan kamu beliin aku cemilan." 

... 

"Nonton yuk? Ada film bagus. Kan kamu suka tuh film-film action." 

"Aduh. Lagi bokek. Belum dapet kiriman nih." 

"Gampanglah itu. Pake duitku dulu." 

... 

"Beb, aku baru inget setaon lalu ngutang pulsa 20rebu ke kamu. Nih aku bayar. Maaf yah lama balikin."

"Udah lumutan lu baru inget? Dasar lu. Udah nggak papa, aku ikhlas kok. Kecuali kamu ngutang 2 juta, itu mesti bayar. Hahahaha."

Intinya kalau soal duit, selama masih wajar-wajar aja sebatas makan, jalan-jalan, yang sehari-hari deh, nggak bakal peritungan. Pinjem duit pun seandainya nggak yang dalam jumlah kecil, jumlah besar yang bener-bener butuh banget dan urgent, selama bisa membantu pasti akan berusaha membantu. 

Kalian juga nggak memperhitungkan nilai dan harga dari sesuatu yang diberikan. Kalian lebih megutamakan ketulusan dan kepedulian. Merknya apa kek, harganya berapa kek, belinya di emperan atau di butik mahal kek, kalian pasti seneng. Itu berarti kalian sama-sama mengerti kesukaan satu sama lain dan care akan hal tersebut. Malahan persahabatan itu lebih indah yang sederhana namun bermakna. Apalagi akan lebih bermakna jika sahabatmu ngomel-ngomel ke kamu kalau kamu beliin dia barang kesukaan dia tapi yang mahal banget, KW superior misalkan. Sekalipun kesukaannya, dia tetap memikirkanmu juga.

7. Nggak bakal ngebeberin problem-problem kamu.

Jangan pernah menganggap sahabat jika dia ngegosip dan ngebeberin problem kamu ke teman-temannya atau sahabat lainnya yang bahkan tidak tau-menau kehidupanmu. Sahabat itu yang nge-backup kamu. Seburuk apapun problem mu, entah di masa lalu maupun masa sekarang, nggak bakal pernah dia bocorin. Walaupun alasannya dia cerita problem mu ke sahabatnya juga. Memangnya sahabatnya itu tahu permasalahanmu yang sebenarnya? 

8. Peduli dalam hal-hal yang paling sederhana.

Kalian punya kesamaan juga perbedaan. Yang satu suka ngeband, yang satu suka baca buku. Tapi sama-sama seneng make up dan kulineran. Setiap ada event-event atau hal-ahal apa kek yang berkaitan dengan kesukaan kalian, pasti kalian excited buat ngasi tau, bahkan sampai ke detail-detailnya. 

Sengaja maupun tanpa sengaja, kebersamaan kalian membuat kalian lebih peka satu sama lain. Terbiasa peduli dari hal-hal yang kecil akan terbawa hingga ke hal yang besar, dan akan membuat kalian peka satu sama lain. Karena hal itu pula, kalian merasakan kebermaknaan persahabatan dari pedulinya satu sama lain dalam hal-hal yang paling sederhana di keseharian kalian. Peduli itu nggak hanya inget pas ulangtahun, ngasi suprise, ngasi hadiah, selesai. Pas wisuda, dateng, ngasi bunga, selesai. Kepedulian dalam persahabatan lebih dari itu, guys. Pekalah dalam hal-hal yang paling sederhana yang paling dekat dengan kalian. 

"Eh, eh. Lu tau nggakkk kemarin gue baru aja dapet eyeshadow murah gilak. Lagi diskon. Lu pasti demen deh. Mau kesono nggak? Gue temenin." 

"Kemarin gue ngeliat pamflet ada diskon sepatu gitu. Sampe rabu depan. Ayolahhh kita kesana. Kapan, kapan?" 

"Temen gue ngasi tau kalo lusa ada pameran lukisan. Lu pasti tertarik kan? Gue cariin infonya deh." 

 

9. Beda pendapat, marah-marahan, entar juga baikan lagi.

Hal yang lumrah suatu sharing-sharing biasa bisa merujuk ke debat. Bahkan, saling nggak mau kalah adu argumen. Bahkan lagi, bisa marah-marahan sampe berhari. Atau mungkin ada yang sampe gontok-gontokan? Jangan deh yah hahaha. Dalam hubungan persahabatan juga bakalan nemui fenomena begini. Yang satu keras sama pendapatnya, yang satu lagi keras sama pendapatnya juga. Satu-satunya cara adalah mending udahan dulu.

Redain dulu itu keras kepalanya. Diem-dieman dulu nggak papa deh, biar intropeksi diri. Kalau kalian satu sama lain peka dan bisa mikir, nggak bakal putus persahabatan kalian. Kalian pasti tidak anya memikirkan keras kepalanya kalian saat sharing berakhir debat dan marah-marahan, tapi ada hal lain yang lebih positif yang lebih pantas untuk dipertahanin. Ujung-ujungnya, baikan lagi. Yah kayak kakak adek kandung, mau semarah dan sebertengkar apapun, tetap baikan lagi. Dengan catatan, maafkan dan lupakan. Nggak usah diungkit-ungkit, apalagi dibeber-beberkan ke teman-teman lainnya. 

Perlu jadi catetan pula bahwa teman, teman dekat, dan sahabat jelas berbeda. Dalam serangkaian persitiwa di hidup kalian, pasti pernah deh mendapatkan ketiga hal tersebut. Jika kalian peka dan tipe seorang yang senang mempelajari dan mengamati, kalian pasti akan merasakannya. Nemuin sahabat itu layaknya pasangan hidup. Mau sejauh apapun jaraknya, dalam suka dan duka, dalam situasi dan kondisi apapun, apapun problem masing-masing, kurang-lebihnya kalian, siapapun teman yang datang dan pergi silih berganti dalam kehidupan kalian, persahabatan kalian tak kan pernah pudar, tak kan lekang oleh waktu. Rintangan yang datang dari sekitar kalian tak kan merobek persahabatan kalian, malah memperkuat hubungan tersebut. Hingga tua kelak, kalian tetap bersama dan berbagi kisah hidup dalam sisa-sisa waktu yang dimiliki. 

(Tulisan ini berangkat dari pengalaman hidup sang penulis, didedikasikan untuk kalian yang dianggap sahabat oleh penulis, inspirasi bagi kalian yang menjalin hubungan persahabatan, serta informasi tambahan bagi siapapun yang membacanya. Happy reading!)