Terlepas dari gemparnya berita terkait kematian Chester Bennington akibat bunuh diri yang kian mengejutkan banyak penggemarnya di seluruh dunia. Kematian vokalis band Linkin Park ini menambah panjang daftar para bintang dunia yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tekanan dan beban hidup yang menyebabkan depresi.

Tidakkah kita sepakat, bahwa hampir semua orang pernah mengalami depresi, entah karena kesedihan, lelah (psikis), lesu, malas berbuat sesuatu, ataupun amarah yang meledak-ledak. Namun sebenarnya depresi normal dialami asalkan sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan seharusnya setiap penyebab depresi bisa berakhir sesuai titik dimana sebenarnya sebagian besar orang mulai pulih.

Namun, bukan hanya orang dewasa, depresi bisa menyasar anak-anak kita, adik-adik kita yang bahkan mereka tidak tahu apa-apa tentang depresi. Kita sebaiknya mulai memahami pentingnya masa kanak-kanak, di mana masa ini adalah awal resiko memiliki pengaruh kritis pada keberhasilan sekolah di masa berikutnya juga terkait kehidupannya.

Sebenarnya otak yang masih belum berkembang pada anak memudahkan untuk menerima intervensi. Sehingga orang tua perlu melakukan deteksi dini pada anak-anak untuk mencegah masalah sekunder, misalnya masalah pada harga diri & keyakinan diri, menurunkan tingkat permasalahan di lingkungan, serta memperjelas gambaran pengaruh lingkungan yang merugikan, misalnya pola asuh yang salah.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan tumbuh kembang anak sejak awal dan mengetahui faktor-faktor resiko terjadinya penyimpangan tumbuh kembang. Orangtua sangat perlu dan paham edukasi tentang deteksi dini pada anak yang seyogyanya mengikuti perkembangan zaman modern yang semakin maju dan bergerak cepat. 

Berikut Hipwee berikan tips sederhana untuk kamu calon orangtua dan mama-papa muda untuk lebih memahami pendekatan-pendekatan pada anak demi menghindari resiko penyebab depresi pada anak. 

1. Hindari kata "Jangan…" , agar anak kreatif dan tidak ragu dalam menghadapi setiap keputusan

Diskusi keluarga bersama buah hati via https://goo.gl

Mungkin kalian masih ingat masa kecil dimana orangtua sesekali atau sering mengatakan "jangan" kepada kita. Hal tersebut adalah wujud kecemasan dan instruksi kebaikan untuk kita. Namun sebenarnya kita bisa lho menyikapinya dengan lebih lembut. Coba deh kita mulai mengganti kata "jangan" dengan kata dan kalimat lain yang lebih menumbuhkan kesan positif, halus, tanpa paksaan, namun mengena disanubari anak-anak.


Kalimat ajakan, dorongan, ataupun kalimat sayang justru memberi stimulus positif yang nantinya juga berpengaruh positif pada anak-anak.


Jangan berebut! – Mainnya gantian, ya.

Advertisement

Jangan berteriak! – Ibu dapat mendengarmu, sayang. Coba kecilkan suaramu.

Jangan memukul teman! – Sayangi temanmu.

Jangan buang sampah sembarangan! – Kakak, sampahnya masukan ke tempatnya, ya.

Jangan berkelahi! – Ayo, main sama-sama!

Jangan berantakin mainan! – Usai main, kembalikan mainan ketempatnya, ya.

Jangan malas! – Coba lebih rajin lagi.

Jangan main jauh-jauh! – Main di dekat rumah saja, ya.

Jangan corat-coret dinding! – Menggambar di kertas saja, ya.

Jangan cemberut! – Ayo, senyum cantik.

Jangan lambat! – Ayo bergegas, nanti adik terlambat.

Jangan diinjak tanamannya! – Adik lewat sini saja, nanti tanamannya terinjak.

Bagaimana? Sebagai pribadi orang dewasa, jika melihat daftar perbandingan dua kalimat berbeda dengan tujuan yang sama diatas, masihkah kalian tidak ingin mencoba meminimalisir kata "jangan" pada anak-anak yang kalian sayangi?

Sebenarnya kata "jangan" tidak berarti tidak boleh untuk diucapkan. Hanya saja jangan sampai hidup anak kita bertabur dengan kata tersebut setiap hari. Jadi, bila memang tidak ada kata alternatif yang tepat, gunakanlah kata "jangan" dengan intonasi yang tepat dan jelaskan apa yang menjadi alasan orangtua melarang hal tersebut. 

2. PAUD adalah wahana anak bermain dan mengenal dunia fantasinya, bukan tempat pusing berkutat dengan angka saja

bermain adalah cara belajar terbaik anak via https://goo.gl

Adakah diantara kalian yang berkeinginan untuk menyekolahkan anak mereka di usia 2 tahun? Kendati banyak sekolah yang membuka kelas dengan berbagai kategori umur, alangkah baiknya apabila pendidikan anak dimulai dari rumah. Jika pun hendak mulai di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), sebaiknya jangan terlalu berharap anak-anak agar lebih pintar dan unggul dibanding anak-anak sepantaran lainnya. Biarkanlah PAUD menjadi wahana bermain anak dengan teman sebaya.

Anak balita (bawah umur lima tahun) sebaiknya lebih dikenalkan akan berbagai bentuk-bentuk benda, perbedaan benda, warna, menyanyi, dan hal-hal lain yang menyenangkan dan membuat mereka betah dilingkungan pendidikan. 


Mengenal bentuk misalnya, dimana anak diberikan 4 macam balok mainan yang berbeda ukuran. Selain anak bisa bermain dengan balok-balok tersebut, otot-otot motorik halus pada anak pun juga akan terlatih untuk membedakan benda dengan ukuran berbeda.


Sebagai orangtua, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan guru pengajar, terkait edukasi pada anak. Jangan berfokus pada keinginan anak untuk "tiba-tiba" pintar. Biarkan anak-anak tumbuh dan berkembang normal sesuai rentang usia perkembangannya. Untuk mengetahui perkembangan anak bisa dilakukan dengan deteksi dini perkembangan pada anak secara berkala, salah satunya dengan tes Denver.

3. Anak jaman sekarang memang menginginkan gadget canggih, namun anak lebih MEMBUTUHKAN kelekatan orangtua yang penuh belas kasih

minimalisir hal yang tidak perlu pada anak via https://goo.gl

Baiklah, kita paham bahwa teknologi berkembang pesat, termasuk gadget yang ada puluhan varian tersebar disekitar kita. Canggihnya gadget bukan lagi hal mewah yang sulit dinikmati, bahkan anak-anak usia dini pun dapat menggunakan dan menikmatinya walau sebatas untuk bermain games saja. Namun, sebagai orangtua ada baiknya mulai untuk meminimalisir sejak dini agar anak-anak tidak sering bermain dengan gadget.

Berikanlah alat peraga permainan edukasi yang sekiranya dapat melatih motorik halus dan kesan bermain melekat padanya. Memang alat peraga edukasi masih terbilang mahal, namun bukankah masa depan anakmu juga jauh lebih berharga bukan?


Anak begitu hobi meniru dan mencontoh apa yang dilakukan orangtuanya, maka sebaiknya sebagai orangtua pun jangan terlalu sering menggunakan gadget didepan pandangan anak.


Luangkan waktu sesering mungkin dengan anak, entah untuk bermain balok, lego, puzzle, menggambar, menyanyi, ataupun mengaji. Hal ini selain menjadikan anak lebih aktif, melatih motorik anak, juga mendekatkan hubungan tranferesial (kelekatan) anak dengan orangtua.

4. Tak perlu membentak, berteriak, atau bahkan berperilaku kasar pada anak, bersabarlah sebagai orangtua yang bijak

Be Calm, mama… papa… via https://goo.gl

Bukan melarang untuk tegas dalam mendidik anak, namun tak perlu membentak, berteriak, atau bahkan berperilaku kasar pada anak, jika anak melakukan kesalahan. Jika bisa diminimalisir, sebaiknya lakukan. Perbanyak edukasi tentang parenting modern.

Perilaku kasar baik secara verbal maupun nonverbal yang dialami anak akan turut berpengaruh pada kehidupan anak dimasa mendatang. Teriakan, bentakan dan perilaku kasar adalah salah satu penyebab anak mengalami depresi. Hal ini juga berpengaruh pada kecenderungan anak menjadi pelaku ataupun korban bullying. Oleh karena itu, cobalah untuk menghindari hal ini sejak dini, jangan sampai terlambat dan menyesali.


Perasaan anak begitu bening seperti kaca, akan kau biarkan pecah dan berbahaya akan tajamnya, atau kau jadikan anak sebagai cerminan penuh kebahagiaan yang bermanfaat bagi sesama?


5. Setidaknya sebulan sekali, berliburlah bersama keluarga kecil, menguatkan hubungan tranferensial anggota keluarga dijamin berhasil

libur kecil keluarga cemara via https://goo.gl

Bukan hanya orang dewasa saja yang bisa merasakan jenuh, penat, suntuk, dan bosan. Anak-anak pun juga bisa mengalami hal yang sama. Maka dari itu, sesekali ajaklah anak kalian untuk bermain ke taman kota, jalan-jalan penuh edukasi ke kebun binatang atau museum, memancing di danau terdekat, ataupun berenang dan bersenang-senang.


Selain agar anak senang dan kembali riang, bukankah kalian sebagai orangtua juga turut bisa nostalgia merasakan "feel" pacaran yang sempat terlupakan, bukan? :-D


6. Berdiskusilah dengan buah hati, atau luangkan waktu untuk ikut menggambar dan bermain

Family time via https://goo.gl

Bangun kebersamaan dengan buah hati dengan turut bermain dengan anak tak pernah ada ruginya. Jika sama-sama sibuk, bergantianlah untuk menemani anak. Jangan hanya fokus bekerja saja, buah hati pun butuh cinta yang nyata.


Memang masa depan anak penting, namun masa "saat ini" bukankah jauh lebih penting untuk dibenahi? Toh, ini juga demi masa depan anak dan keharmonisan keluarga kalian juga.


 

7. Sering-seringlah peluk anakmu, belai kepalanya dengan lebut, beri rasa aman dan tunjukkan kasih sayang walau waktu untuknya begitu jarang

peluk anakmu penuh kasih sayang via https://goo.gl


Ikatan batin anak dengan orangtua dapat dijalin dengan pelukan penuh kasih sayang. Bagi anak, mendapat pelukan berarti mendapat dukungan, dan bagi yang memeluknya berarti akan menimbulkan rasa percaya diri.


Kehadiran hormon endomorfin yang muncul saat berpelukan dapat mengurangi ketegangan saraf dan serta tekanan darah. Bahkan penelitian di University of Italy menunjukkan data, bahwa anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Hal ini ada baiknya diterapkan secara konsisten sejak dini, bahkan tidak peduli sesibuk apapun kalian sebagai orangtua, hal ini adalah salah satu prioritas yang wajib dilakukan.

 

8. Terakhir, jangan sesekali menunjukkan konflik keluarga didepan anak, PENTING!

hindari konflik keluarga didepan pandangan anak via https://goo.gl

Terakhir, jangan sesekali menunjukkan konflik keluarga didepan anak. Anak-anak yang menjadi saksi peristiwa kekerasan dalam lingkup keluarga atau korban KDRT secara tidak langsung juga dapat mengalami gangguan serius dalam baik perkembangan, mental, emosional, perilaku, kesehatan, maupun kemampuan akademisnya di sekolah (Bair-Merritt, Blackstone & Feudtner, 2006; Emery, 2011; Ramsay dkk., 2002).

Bukankah sudah sering kita melihat dimedia atapun secara langsung dilingkungan sekitar kita? Dimana dampak KDRT salah satunya membuat anak menjadi cenderung agresif (externalizing problem behavior) atau menarik diri dari lingkungan sosialnya (internalizing problem behavior).

Penting untuk dipahami bahwa mengekspos kekerasan dalam rumah tangga pada anak cenderung menimbulkan berbagai persoalan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya saja, seperti ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur dan keharmonisan keluarga, munculnya berbagai gangguan mental (sering terjadi), atau kemungkinan lain dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan di masa depan, baik sebagai pelaku maupun korbannya. Sungguh akan sangat disayangkan jika nantinya sebagai orangtua hanya bisa "menyesali" karena keegoisan dan amarah sesaat tanpa mempedulikan buah hati.

Last, paparan tips parenting sederhana diatas mungkin tidak sepenuhnya cocok digunakan dan diterapkan oleh keluarga tertentu atau pada anak tertentu. Jadi, gunakanlah jika baik, dan abaikan jika tidak bermanfaat. Sebagai orangtua sebaiknya menerapkannya dengan bijak sesuai situasi dan kondisi. Bijaklah dalam pengambilan keputusan sebagi orangtua. Bukankah kalian sudah pernah menjadi anak-anak?


Jadi, mari bangun keluarga kecil bahagia penuh canda tawa dan senyum nyata.