Kamu dan aku hanya akan membuang banyak waktu untuk hubungan yang jauh dari kata pantas untuk dilanjutkan. Bagai berjalan di atas serpihan kaca, semua langkah yang kita ambil sesungguhnya hanya akan menuai luka. Kamu dan aku bagai sedang berusaha membirukan senja yang selalu merah. Sia-sia. Senja masih saja merah dan hatiku masih berkata tidak untukmu yang tak lagi sama.

Lantas, mengapa kita tidak menyerah saja? Bukankah semuanya dari awal memang sudah jelas? Akhir bahagia itu tak berpihak pada kita.

 

1. Pertemuan manis yang mengawali kisah kita.

Aku tidak tahu pasti, kapan pertama kali aku mengenalmu. Juga kapan pertama kali kamu menyapaku. Yang selalu kuingat hanyalah setiap saat bersamamu adalah hal terindah dalam hidupku. Kamu berhasil membuatku tersenyum setiap pagi hari dengan sapaanmu, membuat setiap hariku menjadi menyenangkan, dan menciptakan berjuta alasan hanya untuk bertemu dan melihat senyummu, dan mengakhiri hariku dengan ucapanmu yang selalu membuat senyumku mengembang hingga aku terlelap dalam tidurku.

2. Tumpuan untuk segala harapanku.

you and i

you and i via http://serifin.net

Kamulah tumpuan dari segala harapku. Menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk bisa menjalani setiap keraguan dalam hidupku. Kamu orang yang cukup tangguh untuk selalu kuandalkan dan selalu meyakinkan di saat aku bimbang. Tak ada ragu bila bersamamu. Kamu genggam tanganku erat saat aku sedang lemah dan membisikkan kata yang membuatku kuat untuk bangkit. Kamu hapuskan segala sesalku dan berjanji akan terus berada di sisiku.

3. Ikatan yang tak ingin kulepaskan.

Seiring berjalannya waktu, kamu menjadi pribadi yang egois. Kamu mengatasnamakan cemburu untuk mengekangku agar tak bersosialisasi dengan lelaki lain. Entah sebagai sahabat, teman, atau apapun. Kamu mengetahui segala aktivitasku. Kamu berkata bahwa saat ini aku hanya milikmu dan bukan orang lain. Tetapi lucunya, hal ini tidak berlaku sebaliknya.

Aku tak pernah membatasi pertemananmu. Aku selalu berusaha mempercayaimu meskipun itu sulit. Yang perlu kamu tahu, aku melakukannya karena aku menyayangimu dan hanya ingin menyediakan kenyamanan untuk hatimu. Tak bisakah kamu berfikir sepertiku?

4. Perubahan sifatmu yang tak pernah kuharapkan sebelumnya.

Ada yang tak biasa denganmu. Perhatian yang tak lagi kudapatkan darimu, usaha untuk mempertahankanku tetap di sisimu, kurasa memang tidak lagi kamu lakukan. Setiap hari, aku berusaha menjagamu agar tetap bersamaku, memperhatikanmu, menahan sakit saat kamu benar-benar tak peduli lagi denganku. Kamu sangat berbeda dengan yang dulu.

Saat ini aku mulai mempertanyakan hubungan kita. Terkadang timbul rasa takut dalam hati, bila kenyataan buruk terjadi pada hubungan kita. Aku hanya takut kamu menemukan kenyamanan pada perempuan lain, yang menyebabkanmu berubah seperti ini. Komitmen yang kita jalin bersama kini tak berarti apa-apa. Ada kalanya aku lelah bertahan. Lelah mempertahankan seseorang yang bahkan menghargaiku pun tak lagi.

5. Akhiri yang sudah tak pantas untuk dipertahankan. Ini bukan cinta. Karena kutahu, cinta tak sejahat itu.

Ketahuilah aku tidak baik-baik saja setelah keputusan untuk mengakhiri hubungan ini terlontar dari mulutku. Bukan menyesal, hanya saja aku masih belum siap melihat kebahagiaanmu dengan perempuan baru. Yang akan sangat menyakitkan bila kutahu ia lebih baik dariku. Aku bukan orang munafik, yang berkata bahwa aku bahagia bila kau bahagia meski dengan perempuan lain. Aku tak siap.

Tetapi aku lelah memperjuangkanmu. Lelah mencintaimu yang tak lagi menghargaiku seperti dulu.