Sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagiku. Ketika kita sedang tertawa bersama, lalu tiba-tiba kamu murung sambil menundukkan kepala. Kemudian, kamu bertanya, “Apakah kita bisa terus bahagia seperti ini?” Aku tau, kamu khawatir akan perbedaan yang sedang membatasi kita.

Aku tidak akan menyalahkan pengotak-ngotakan suku bangsa. Aku hanya ingin agar semua orang belajar untuk bijaksana. Bijaksana terhadap segala perbedaan yang kita punya. Memilih kelayakan adat istiadat yang sesuai dengan masanya. Agar hilang semua kebencian dan anggapan yang salah terhadap suku tertentu.

Bukankah kita dianjurkan untuk bersikap sesuai dengan zamannya? Ada adat yang masih layak untuk dipakai, dan ada pula yang sudah pantas untuk ditinggalkan. Lalu, di zaman sekarang ini, masih pantaskah dua manusia yang saling mencintai dipisahkan karena berasal dari suku yang berbeda?

 

1. Hati bisa jatuh pada hati mana saja, termasuk pada hati dari etnik yang berbeda

Cinta antar etnik

Cinta antar etnik via http://profesi-unm.com

Cinta merupakan anugerah dari Tuhan. Sudah menjadi hal yang lazim bagi seorang manusia untuk jatuh cinta pada manusia lain. Tak memandang berbagai perbedaan yang ada. Seperti perbedaan status sosial, suku bangsa, ras, bahkan perbedaan agama.

Teman kamu: "Kenapa lho bisa suka sama dia? Udah jelas kalian itu beda suku, masih aja dilanjutin"

Jujur saja, aku tak punya alasan, mengapa hatiku bisa jatuh padamu? Mengapa harus pada kamu? Bagiku, cinta yang tulus tak selalu harus punya alasan. Karena jika aku punya alasan, maka tak ada lagi alasanmu untuk mempertahankanku. 

2. Bukankah Tuhan menciptakan perbedaan agar kita saling melengkapi kekurangan?

Kita bagai sepasang sepatu

Kita bagai sepasang sepatu via http://bubbleagum.tumblr.com

Banyak orang yang mengatakan bahwa perbedaan diciptakan agar manusia bisa saling melengkapi. Aku setuju! Dengan begitu aku bisa memberi apa yang kamu tidak punya, begitu juga sebaliknya. Kita akan mengamalkan adat yang kamu pakai ketika berada di keluargamu, lalu kita juga akan mengamalkan adat yang aku pakai ketika berada di keluargaku. Bukankah itu akan membuat budaya kita semakin kaya?

3. Kamu tau, aku sedang berusaha mempelajari budaya yang kamu punya

Belajar membatik

Belajar membatik via http://www.kabarmagelang.com

Kamu: "Eh, Ndre. Lho sesuku sama Yuni, kan? Ajarin gue dong bahasa daerah kalian."

Teman kamu: "Oke."

Awalnya aku hanya berusaha agar bisa mengenal keluargamu. Namun, itu saja takkan cukup. Dengan adanya perbedaan ini, aku harus bisa menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang kamu punya. Aku mempelajari bahasa daerahmu dan sudah mulai bisa melafalkannya. Aku juga mulai mempelajari kearifan lokal masyarakatmu, agar aku tidak terlalu canggung ketika nanti aku bersama mereka. Aku sudah mulai tau, bagaimana sopan santun di lingkunganmu, bagaimana upacara-upacara adat di daerahmu, dan apa saja pantang larang yang ada pada masyarakatmu. Aku sudah mulai tau.

4. Kita sulit untuk berimpian terlalu tinggi, karena ada batas yang menghalangi

Takut punya impian

Takut punya impian via http://yangmuda.com

Semakin lama kita menjalani kisah ini, semakin membuat kita takut pada hasil akhir yang mungkin tidak kita harapkan. Kita tidak pernah berencana akan membangun istana yang seperti apa, tinggal di daerah mana, punya anak berapa. Kita tidak pernah berangan-angan ketika nanti kita sudah tua, masihkah tetap akan saling menjaga. Kita tidak terlalu berani untuk merencanakan masa depan. Takut apabila semuanya sudah direncanakan, namun sirna karena perbedaan yang menghalang.

Kadang, aku berniat untuk mengakhiri semua ini. Ketika nanti rasa semakin dalam, tiba-tiba dipatahkan oleh keluarga kita yang terlalu berprinsip tentang perbedaan etnik. Namun, semangat itu kembali muncul saat kamu masih bisa tersenyum menghadapi masalah yang kita miliki. Saat masih ada orang-orang yang mendukung, bahwa setiap cinta harus diperjuangkan.

5. Sebisa-bisanya aku meyakinkanmu, orang tua kembali membuatmu ragu

Semua akan baik-baik saja

Semua akan baik-baik saja via http://www.gulalives.com

Aku sudah terbiasa menghadapi semua keluhanmu tentang masalah perbedaan ini. Aku paham jika ada kekhawatiran yang kamu rasakan. Semakin lama, semakin bisa aku untuk membuatmu yakin bahwa semua akan baik-baik saja dan kita pasti bisa menghadapi semua ini. Namun, sebisa-bisanya aku untuk meyakinkanmu, kamu selalu kembali ragu. Kamu takut menjadi anak durhaka, karena menentang kehendak orang tua.

Aku rasa bila kita bicara baik-baik pada orang tua, tak ada salahnya. Jelaskan secara baik-baik pada mereka tentang kebijaksanaan. Bukan maksud kita untuk mengajari dan durhaka pada mereka. Bukan! Kita hanya ingin menyampaikan kebaikan, bahwa bukan masanya lagi untuk mengotak-ngotakan segala perbedaan. Apabila apa yang kita jelaskan pada mereka adalah hal yang benar, Why Not?

6. Padahal, kita punya Tuhan yang sama. Dan tak ada larangan pernikahan beda suku dalam ajaran agama kita

Tuhan kita saja tak melarang pernikahan dari suku yang berbeda

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"

(QS al-Hujurat [49]: 13).

7. Berdoa! Jika memang kita ditakdirkan untuk hidup bersama, takkan sulit bagi Tuhan untuk mengabulkan amin-amin kita. Percayalah!

Kamu percaya keajaiban doa? Tak ada yang tidak mungkin jika kita sudah berusaha dan berdoa. Kita sudah berusaha semampu kita untuk meyakinkan orang tua, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan bila kita menyatukan perbedaan ini. Kalaupun nanti akan menimbulkan beberapa masalah, pasti ada penyelesaiannya. Itu sudah menjadi resiko kita karena berasal dari etnik yang berbeda.

Sebaiknya kita terus berdoa. Kalau memang takdir kita untuk hidup bersama sudah ditentukan, mintalah supaya semuanya dipermudah dan orang tua merestui niat kita untuk menyatukan perbedaan ini. Tuhan berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia. Maka takkan sulit bagi-Nya untuk meluluhkan hati orang tua kita. Dan kalau memang takdir yang sudah dituliskan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, mintalah agar Tuhan menghilangkan rasa cinta di hati kita.

8. Apapun hasilnya, ikhlaskan!

Cinta adalah perihal mengikhlaskan.

Jika kita bisa bersama, kita ikhlas menerima semua kelebihan dan kekurangan yang kita punya. Dan jika memang kita tidak bisa untuk bersama, kita juga harus ikhlas melepas semua rasa dan kenangan yang pernah kita miliki. Ambil saja hikmahnya. Tuhan lebih tau apa dan siapa yang terbaik untuk kita. Karena itu Ia memberi apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan apa yang hanya sekedar keinginan.