Assalamualaikum Pagi. Assalamualaikum Kamu, Priaku...

Semoga disetiap pagi harinya akan banyak kebaikan - kebaikan yang kamu, aku, dan kita lakukan. Semoga disetiap pagi harinya akan banyak orang - orang yang merasakan kebaikan yang kamu, aku dan kita berikan. Dan Semoga Tuhan akan selalu membuka jalan-Nya, untuk kita yang sanggup membahagiakan.

 

1. Tidak terkecuali kamu, Priaku. Aku yakin banyak kebaikan yang kamu punya. Apapun itu...

Aku yakin banyak kebaikan yang kamu punya.

Aku yakin banyak kebaikan yang kamu punya. via https://id.pinterest.com

Aku tidak mengatakan dia adalah sosok pria sempurna. Karena aku tahu, apa apa yang sudah Tuhan ciptakan tidak ada yang sempurna, apapun itu. Aku juga tidak mengatakan dia adalah sosok pria yang selalu bersikap manis didepanku.

Mengapa ? Karena dia adalah pria sederhana yang selau bersikap apa adanya. Pria yang tidak pernah ingin menjadi orang lain untuk terlihat baik dimata orang. Pria yang bisa mengeluarkan amarah dan emosinya kapan saja. Itu lumrah menurutku, selama dia memiliki alasan yang tepat. Priaku, dia juga bukan pria yang pandai dalam berkata - kata.

Dia tidak lihai membuat pasangannya merasa menjadi wanita spesial. Dia jauh dari sosok pria romantis yang selalu bersikap manis. Tapi diluar itu semua, aku melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Aku melihatnya sebagai sosok sederhana yang menyimpan banyak kebaikan.

2. Siapa yang bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak, jika bukan kita yang mempercayainya.

Siapa yang bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak, jika bukan kita yang mempercayainya.

Siapa yang bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak, jika bukan kita yang mempercayainya. via https://id.pinterest.com

Kita tidak akan pernah bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak, tapi kita bisa mempercayainya. Aku meyakini priaku memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari pemikiranku, aku meyakini dia memiliki batas sabar yang luar biasa dari batas sabar yang aku punya, aku meyakini dia akan tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukannya, apa yang pantas dan tidak pantas dilakukannya.

Aku meyakini dia akan melalukan apa yang seharusnya dia lakukan tanpa menyakiti hati manapun, dan aku meyakini bahwa Tuhan akan selalu mendampingi pria ku disetiap langkahnya. Ya.. seyakin itu aku padanya. Karen aketika tanganku tidak mampu merengkuh setiap lelahnya, aku yakin tangan Tuhan yang akan bekerja.

3. Bukankah lebih baik berupaya melakukan yang terbaik, daripada hanya duduk diam dan berharap.

Lebih baik berupaya melakukan yang terbaik.

Lebih baik berupaya melakukan yang terbaik. via https://www.flickr.com

Sometimes, kita pasti pernah berpikir sudah melakukan yang terbaik,

Sudah mengupayakan yang terbaik.

Tapi apa itu juga yang terbaik menurut versi-Nya ? 

4. You need more than that, but he does not realized.

You need more than that, but he dosn't ralized.

You need more than that, but he dosn't ralized. via https://id.pinterest.com

Pernah berpikir bahwa apa yang sudah kamu lakukan adalah perbuatan yang sia - sia? Tidak akan ada yang sia - sia selama kamu ikhlas melakukannya. Setidaknya kamu sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik menurut versi mu, walau tidak ada pengakuan untuk itu.

5. Pada akhirnya setiap orang akan menemukan kebahagiaan dengan caranya masing – masing. Semua orang berhak dan pantas untuk bahagia, tidak terkecuali kamu, Priaku.

Pada akhirnya setiap orang akan menemukan kebahagiaan dengan caranya.

Pada akhirnya setiap orang akan menemukan kebahagiaan dengan caranya. via https://id.pinterest.com

Saat mereka bertanya, “Apa pria mu sering bersama dengan wanita lain yang tidak kamu kenal ?”, “Ya”, seyakin itu aku menjawabnya. “Apa kamu tidak mencemburuinya ?”, “Aku juga wanita normal yang memiliki rasa cemburu, tapi apa aku memiliki hak melebihi hak nya untuk mendapat kebahagiaan ?”, Tanya ku kembali. “Jika dia bisa menemukan kebahagiaan lain yang tidak selalu bisa aku berikan setiap waktu, lantas apa aku berhak membatasi kebahagiannya ?”.

Semua orang berhak dan pantas untuk bahagia, meski kebahagian tidak selalu berasal dari orang yang kita harapkan untuk membahagiakan. Karena itu aku memberikan kebebasan kepadanya, membiarkan dia melakukan apapun itu yang bisa membuat dia bahagia.

Bukan berarti aku tidak lagi memiliki kepedulian terhadapnya, hanya memberinya hak untuk mendapatkan kebahagiannya. Karena aku juga sadar seberapa besar kesanggupanku untuk membahagiakannya.