Bukan main rasanya mengagumimu lewat kepalan jari. Terpaksa harus kukepal, sebagai penguat sakit yang kadang tiba-tiba menohok dari berbagai arah. Hanya dengan begitu, sesak di sini dan pekak di telingaku bisa sedikit berdamai. Aku kuat.

1. Rasanya kamu tak terlalu egois pergi begitu saja, kamu baik: membiarkan kumbang-kumbang baru menghinggapi bungaku yang semenit lagi layu.

Aku berusaha membangun lingkaran positif dalam kepalaku, dengan begitu kuharap lingkaran negatif tak menjamahku lagi; seperti saat bersamamu.

Kalaupun perpisahan, ah salah. Kalaupun pertemuan kita harus diskorsing. Ah, bukan. Kalaupun akhirnya pertemuan kita berujung pahit, setidaknya aku sudah terbiasa. Lama tak mencicipi madu membuatku lidahku akan lebih peka, hingga mungkin masa depan yang lain akan kujemput dengan perasaan yang lebih manis.

Entah dengan orang lain atau jika Tuhan berkehendak: kamu akan berubah menjadi semanis Superman, dengan sayapmu kau ajak lagi aku berkelana—di dunia yang bagitu fiktif. Kesimpulannya, aku terlalu mengada-ngada. Kukepalkan lagi tanganku… I'm strong!

2. Seperti cinta, kamu selalu datang tanpa permisi. Dengan permisi, ia terkesan terlalu sopan, sayangnya cinta tak bereaksi sesopan itu. Kurang ajar! Begitu kan?

Advertisement

Senyum menawan via http://www.pjmagazine.net

Kalau dulu kamu datang pakai permisi, mungkin saat ini aku bisa menghentikan kenanganku beranak padamu. Karena sungguh, kini kenangan yang kau bilang nano-nano itu beranak bukan satu-dua-tiga melainkan menuju kesebelasan; seperti jumlah pemain sepakbola tontonan favoritmu.

Lalu anak-anak kenangan itu meratap tangis dan susah untuk kukecup satu-satu. Jadi jika kemarin kau saksikan aku menangis, itu bukan tangisanku lagi. Tapi, tangisan kenangan yang berkejaran dengan rintik hujan di sela-sela kepergianmu.

3. Tahun-tahun yang lama itu bagai sekedip mata. Tahun-tahun itu bercerita lewat mata-mata kita, yang kusayangkan mereka sekejap, sekedip matamu.

wanita kedua via http://www.wattpad.com

Tahun-tahun yang lama itu bagai sekedip mata. Tahun-tahun itu bercerita lewat mata-mata kita, yang kusayangkan mereka sekejap, sekedip matamu.

Mataku yang awas melihatmu sedang asyik nge-gym dengan gadis SMA. Lalu pada waktu yang lain, kalimat “Take care, ayah” menghiasi obrolanmu. Andai bisa sekedip mata, kuharap pemandangan menyeramkan itu tertimbun dalam tanah, terkubur bersama kotoran hasil makan malammu bersama beberapa wanita di sekitaran café malam itu.

4. Kamu, yang sekarang mungkin sedang mengobral cinta; aku tak lagi minat membelinya.

Mengenali playboy via http://www.elnuevodiario.com.ni

Kamu, yang sekarang mungkin sedang mengobral cinta; berlandaskan standar umum bagimu yang cukup menjanjikan; dengan kekayaan yang juga tak akan membuat mata perempuan-perempuan lain memicing; serta dengan wajah yang cukup menjual: Kamu berhasil. Hanya saja, untuk sekarang hobiku bukan untuk disakiti lagi, aku sedang tak berselera untuk itu.

Barangkali di lain kesempatan, ketika selera pribumiku kembali aku akan memintamu datang mencintaiku dengan cara seperti hewan di hutan sana: memacari semuanya. Hanya saja pertemuan kita yang lalu setidaknya mengajarkanku untuk tidak terlalu larut dalam asmara. Aku masih ingin berjuang menggapai mimpi yang hampir tak terselamatkan: ditemukan oleh seseorang yang ingin kutemukan.

5. Jangan sampai hatimu juga keriput karena terlalu sering berpura-pura cinta pada orang lain.

Terimakasih atas usahamu untuk berpura-pura cinta selama ini. Kasihan juga ya, tersenyum yang dipaksakan itu justru akan membuat wajahmu dipenuhi lebih banyak keriput. Jangan sampai hatimu juga ikut keriput karena terlalu sering berpura-pura cinta pada orang lain.

Aku masih senang mengepalkan tangan, jika saatnya tiba seseorang akan melepas kepalan itu dan menggenggamnya erat, memasangkan benda lucu di sini, di jari manisku.

Salam hangat dari kepalan tanganku. Aku kuat tanpamu.