Kita dulu mungkin pernah bersama, berada pada ruang yang sama dalam waktu yang sama, dalam ritme detak jantung yang sama. Dalam irama tawa yang sama. Tapi tahukah kamu?

Saat semua harus terhenti karena jarak, aku tetap di sini terdiam, di posisi yang sama.

 

1. Kamu yang memilih datang dengan tawa.

Aku tidak akan pernah lupa jika setiap hari kamu menyapaku dengan tawa. Suara tawamu seperti bait-bait lagu yang indah terdengar di telingaku.

Saat kau ucap rindu yang membuat hatiku berdesir tak karuan.

2. Hari-hari seperti melodi indah.

bersamamu

bersamamu via http://google.com

Kita biasa menghabiskan banyak waktu bersama dan bekerja di lingkungan yang sama. Mendengarkan musik bersama walaupun kadang kamu sibuk memainkan game di Ipad-mu, tapi bagiku kamu berada di sampingku saja, aku sudah cukup bahagia.

Saling mengejek bersama dan menertawakan kebodohan masing-masing, bahkan berkata apapun tanpa kita takut ada yang tersinggung. Karena kita tahu kadang sayang tidak harus dikatakan dengan bahasa yang halus. Kadang kepedulian harus lantang dikatakan dengan bahasa yang tidak begitu ramah di telinga. Kita saling mengerti itu tanpa saling tersinggung .

3. Sampai pada waktu yang mengakhirinya.

Aku ingat saat kau menghampiriku dan memperlihatkan bahwa kau harus kembali ke negara itu. Aku hanya bisa diam tanpa kata dan kamu juga memilih diam dengan banyak kata yang kamu sembunyikan.
 

4. Akhirnya aku yang hanya bisa mengulang-ulang kenangan di dalam otakku.

Aku hanya ingat pélukan perpisahan itu atau saat kamu memeluk bahuku saat kita berjalan bersama. Saat kamu memegang tanganku mengelus manja rambutku atau saat kamu tertawa tulus di depanku. Aku ingat pesanmu bahwa jika aku merindukanmu, aku harus ménghitung setiap detik waktu yang berlalu saat kmu meninggalkanku. Dan sekarang, saat jarak sudah begitu nyata, kita masih memilih diam. Aku yang berusaha mengikhlaskan.

Karena aku tahu jarak, negara kita sudah sangat berbeda. Bahkan tawanya tidak lagi terdengar. Senyumnya tidak lagi terlihat.

Aku yang berusaha mengikhlaskanmu tanpa berhenti mencintaimu. Aku yang berusaha tersenyum tanpa hadirmu atau sekedar tertawa palsu untuk membuktikan bahwa tanpamu aku baik-baik saja. Untukmu yang ada di sana, aku masih di sini dengan posisi yang sama. Masih bersama dengan hitungan detik yang kamu tinggalkan.

Memilih berdamai dengan hatiku yang tetap memilih untuk mencintaimu.

5. Aku yang sekarang memilih sendiri.

terdiam

terdiam via http://google.com

Dan sekarang aku hanya memilih sendiri, hanyut dalam lamunanku, aku yang berharap setiap malam kau bisa hadir dalam mimpiku.

Kamu tetaplah menjadi kamu,mungkin kita sekarang hanya bisa membagi rasa lewat doa, walaupun Tuhan kita berbeda aku harap mereka bekerja sama untuk menyampaikan rasa ini .