Pergaulan sehari-hari yang kita jalani tentunya melibatkan sejumlah orang dengan bermacam-macam karakter. Dalam hubungan yang kita jalin dengan mereka, adakalanya kita mengalami kejadian menyenangkan dan menyebalkan. Satu dari beberapa kejadian menyebalkan yang pernah kita alami adalah di-judge buruk oleh orang lain. Judgement tersebut ada yang memang benar sesuai dengan watak dan sikap kita ada pula yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.

Tidak hanya di-judge buruk, kita juga pasti pernah dan bahkan mungkin sering men-judge buruk kepada orang lain baik itu dilakukan dengan sadar ataupun tidak. Hayo, ngaku!

Banyak faktor yang menyebabkan kita sampai melakukan hal demikian. Dari mulai alasan sebal sampai ngiri. Namun dibalik judgement buruk yang kita berikan kepada orang lain, tersimpan banyak sekali alasan yang bakalan membuat kita malu sendiri karena sudah bersikap demikian. Apa saja alasan-alasan tersebut? Yuk simak!

1. Bisa Saja Dia Lebih Baik Daripada Kita

Kita kali ya yang jahat? via http://www.pinterest.com

Ohohoooo! Ketika kita menilai buruk kepada orang lain dan beranggapan bahwa kita lebih baik daripada dia, harusnya kita sadar bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Termasuk diri kita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sang Mahakuasa. Setiap orang punya sisi baik dan buruknya masing-masing. Kita menilai orang lain buruk mungkin saja kita lupa pada sejumlah hal baik yang dia punya dan tidak sadar pada setumpuk keburukan yang kita miliki. Bisa saja kan dia lebih baik segala-galanya daripada kita?

2. Bisa Saja Dia Lebih Taat Daripada Kita

Dia taat, kita taat juga nggak ya? via http://bersamadakwah.net

Yup! Kita mungkin bisa seenaknya saja menilai orang lain sebagai anak badung, berandalan, pecicilan, ganjen dan membawa pengaruh buruk. Namun, apa kita tahu isi hati dan pikiran orang tersebut? Apa kita tahu bahwa dia benar-benar selalu berniat buruk? Tidak, teman! Kita manusia biasa dengan kemampuan yang terbatas, ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ketahui. Siapa tahu orang yang kita judge tersebut lebih taat daripada kita, ibadahnya lebih rajin daripada kita dan lebih dekat dengan sang Pencipta daripada kita. Karena kita disibukkan dengan penilaian ini-itu tentangnya, sedangkan dia sibuk memperbaiki diri sendiri.

3. Bisa Saja Ibadahnya Lebih Ikhlas Daripada Kita

Advertisement

Dia aja ikhlas, masa kita nggak? via http://www.peace-matters.com

Holaaa! Hari gini orang-orang berlomba menanam kebaikan melalui beribadah, lha kita so' sibuk amat dengan menilai orang lain buruk. Apa ibadah kita sudah sempurna? Apa amal kita sudah ikhlas, sehingga kita sampai hati menilai dan bahkan berucap buruk kepada orang lain? Kita harusnya lebih hati-hati, karena apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan kepada orang lain akan berpengaruh juga terhadap diri dan kehidupan kita. Jangan-jangan karena sibuk mengurusi keburukan orang lain, ibadah kita terbengkalai. Mungkin saja kan orang yang kita nilai buruk malah ibadahnya lebih ikhlas daripada kita?

4. Bisa Saja Dia Lebih Berprestasi Daripada Kita

Barangkali dia mengejar prestasi, sedangkan kita mengejar prestise. via http://www.peace-matters.com

Yes! Kita bisa dengan bebas menilai buruk kepada orang lain: dia mah boros, tukang tidur di kelas, suka nyontek, materialistis, nggak beretika dan berbagai hal-hal buruk lainnya. Tapi kita punya apa untuk menilai demikian? Kita bisa apa? Kita sudah menghasilkan karya berapa? Kita sudah berjuang sampai mana? Judgement kita terhadap orang tersebut akan luruh begitu saja ketika kita ditanya pertanyaan-pertanyaan serupa demikian. Setiap orang punya bakat, ada yang memang sudah terasah dan ada juga yang masih tersembunyi. Mungkin saja orang yang kita nilai buruk memiliki banyak bakat tersembunyi yang menjadikannya lebih berprestasi dan unggul daripada kita. Masih mau men-judge?

5. Bisa Saja Dia Lebih Disenangi Orang Lain Daripada Kita

Mungkin kita lupa meningkatkan kualitas diri. via http://contractingbusiness.com

Sip! Karena mungkin saja hari-hari kita disibukkan dengan menilai orang lain terutama menilai buruk, kita lupa untuk meningkatkan kualitas diri kita. Bukankah salah satu faktor kita diterima dalam pergaulan adalah dengan kualitas diri yang kita miliki? Orang-orang sekitar mungkin segan dan hormat pada kita, tetapi dibalik keseganan itu bisa saja karena mereka takut kepada kita. Takut apabila kita dengan teganya mengucapkan kata-kata yang menilai dirinya buruk atau takut terlibat adu mulut yang panjang. Kita sama-sama tahu kan pepatah "mulutmu, harimaumu"?

Tanpa kita tahu, mungkin saja orang yang selama ini dinilai tidak pernah ada baiknya ternyata adalah orang yang disenangi oleh teman-teman kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki orang tersebut, malah itu tampak memukau di mata teman-teman kita karena dia tampil apa adanya dengan tidak menilai buruk kepada orang lain.

6. Bisa Saja Dia Lebih Kuat Dari Kita

Kitanya kebanyakan baper, jadi yang kuat cuma fisiknya aja. via http://myfaithradio.com

Uwoooo uwooo! Kita mungkin tanpa sengaja berucap kepada seseorang yang intinya menunjukkan penilaian buruk kita terhadap orang tersebut. Sakitlah hatinya, remuklah jantungnya! Apalagi kalau keseringan, bisa berubah menjadi bullying loh! Tapi habis itu bisa saja orang yang kita judge mentalnya lebih kuat sehingga bisa lebih kebal dan sabar menghadapi cercaan atau hinaan yang menimpanya. Kita apa kabar? Mungkin saja karena kebanyakan baper terhadap orang tersebut dan berada di zona aman tenteram, mental kita jadi ciut kalau mengalami hal yang sama sepertinya.

7. Bisa Saja Nasibnya di Masa Depan Lebih Beruntung Daripada Kita

Karena selain sang Pencipta, tidak ada yang tahu nasib manusia akan seperti apa. via http://wallpaperinhd.org

Ulala! Kita sering menilai buruk kepada seseorang: pemalas lah, nggak disiplin lah, lelet lah, tidak bisa diandalkan lah. Tapi harusnya kita sadar bahwa manusia itu selalu berubah, entah kapan dan bagaimana. Sejauh-jauhnya manusia kesasar dalam keburukan, toh kembalinya pasti kepada kebenaran kan? Siapa tahu suatu saat nanti, karena penilaian buruk yang sudah kita ucapkan ke seseorang, dia malu dan mengintrospeksi diri sendiri sehingga melahirkan dirinya yang baru dan siap dengan perubahan. Alhasil, kehidupan dia lebih baik dan beruntung daripada kita. Akan lebih malu lagi kalo kelak kita selalu membutuhkannya bahkan bergantung kepadanya.

Gimana? Masih nggak malu menilai buruk kepada orang lain? Yuk, nilai dan perbaiki diri sendiri! Inget loh, di atas langit masih ada langit.