Klaten sebagai kabupaten kecil yang diapit dua kota besar di antara Yogyakarta dan Solo ini, sebenarnya memiliki berbagai cerita sukses dari masyarakatnya. Kesuksesan dari seseorang maupun kelompok masyarakatnya, telah lama menyertai daerah yang terkenal akan kesuburannya itu. Lika-liku kehidupan dalam perjuangan menggapai impian juga telah menyertai anak-anak Klabers untuk menapaki tangga-tangga keberhasilan.

Mungkin beberapa anak-anak Klabers ini, kisahnya bisa memberikan inspirasi bahwa kesuksesan tidak bisa diraih dalam sekejap mata melainkan melalui perjuangan yang diiringi doa. Berikut beberapa anak-anak Klabers yang kini telah merasakan kesuksesannya dan masih terus berjuang.

 

1. Vocalista Angels, paduan suara dari Klaten yang mengharumkan merah putih di kancah dunia.

Aksi Vocalista Angels

Aksi Vocalista Angels via http://www.kidnesia.com

Vocalista Angels merupakan kelompok paduan suara yang telah berkali-kali menyabet penghargaan kelas dunia. Anak-anak Klabers yang memiliki suara merdu ini, dibentuk oleh Yason Christy Pranowo yang berperan sebagai pelatih sekaligus konduktor paduan suara ini. Walaupun berasal dari kabupaten kecil tapi mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Kelebihan utama dari Vocalista Angels terletak pada mereka dalam membawakan sebuah lagu dengan aksi teatrikal dan penuh ekspresi yang menawan pastinya. Tak heran jika mereka berulang kali meraih prestasi melalui berbagai perlombaan paduan suara kelas dunia. Prestasinya antara lain pernah meraih 2 medali emas dan 1 perak pada gelaran 8th World Choir Games di Riga, Latvia (2014).

Hal yang sama juga pernah diraih ketika di Chincinnati,Ohio, Amerika Serikat (2012) dengan 3 medali emas dan menjuarai World Choir Championship di Korea Selatan (2009). Tapi sayang dari berbagai prestasi yang diraihnya, paduan suara ini kurang mendapatkan perhatian secara maksimal di kampung halamannya sendiri.

Salah satunya mereka harus mencari dukungan dana dengan usaha sendiri saat akan berangkat mengikuti ajang World Choir Games ke-8 di Riga, Latvia. Meskipun begitu, mereka tetap semangat untuk membuat jaya merah putih di berbagai ajang perlombaan paduan suara dunia.

Akhirnya jerih payah dan usaha mereka terbayar ketika mampu mengharumkan nama Indonesia di ajang 8th World Choir Games yang dipersembahkan oleh anak-anak Klabers.

2. Sukiyat, penggagas mobil Kiat Esemka yang digadang-gadang jadi mobil nasional.

Siapa sangka mobil Kiat Esemka yang pernah diperkenalkan Presiden Joko Widodo saat menjabat wali kota Solo, digagas oleh orang Klabers yakni Sukiyat? Pada awalnya, Sukiyat hanya ingin membantu para siswa jurusan otomotif Sekolah Menengah Kejuruan 1 Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Dia menginginkan siswa di sekolah itu mampu melakukan pratik membuat bodi mobil.

Berawal dari situlah Sukiyat lantas mengajarkan berbagai komponen mobil kepada siswa didiknya. Keahlian Sukiyat ini yang mengantarkan dia dipertemuakan dengan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hingga akhirnya berbuah kerja sama yang membuat bengkelnya menjadi mitra perusahaan dalam program perakitan mobil oleh siswa SMK.

Namun dalam perjalanannya, mobil Kiat Esemka yang digadang-gadang menjadi mobil nasional ini mengalami berbagai hambatan seperti teknologi dan kebijakan pemerintah. Berita terbarunya, akan ada pembicaraan mengenai mobil Esemka untuk diwujudkan sebagai program mobil kebanggan nasional. Hal itu terungkap di sela-sela kunjungan Jokowi pada bulan mei lalu di Bengkel Kiat Motor milik Sukiyat.

Semoga mobil Esemka yang digagas anak Klabers ini bisa benar-benar terwujud menjadi mobil nasional.

3. Sriyono, pengusaha siomay pink dalam perjalanan menemukan cintanya.

Siomay Pink

Siomay Pink via http://baltyra.com

Sebuah kisah sukses pengusaha siomay pink asal Klaten yang telah lama merantau di Jakarta. Sebelumnya, ia telah mengalami keterpurukan yang membuatnya merugi dan merambat ke permasalahan keluarganya. Dari situlah, Sriyono memantapkan diri untuk memulai usaha siomay sebagai makanan kesukaannya.

Keahlian membuat siomay itu didapatkan dari seorang Tionghoa yang pernah ditemuinya di daerah Pademangan, Jakarta Utara. Tanpa punya modal yang besar, Sriyono memutuskan untuk mengutang Rp.225.000,00 untuk membeli sepeda di Pasar Kebayoran Lama. Sriyono lantas mengecat warna pink termasuk menambak aseksoris yang dikenakan seperti kaos dan bando serba pink.

Kerinduan yang begitu mendalam kepada putri sulungnya, Peksi, yang mengingatkan warna kesukaannya yakni pink menjadi alasan utamanya. Tapi siapa sangka dengan penampilannya yang begitu unik, membuat banyak konsumen ingin potret bersamanya? Hingga akhirnya, ada konsumen yang memberitahunya jika siomay pink Sriyono terkenal di internet.

Keterkenalan siomay pink Sriyono, membuat dirinya kebanjiran pesanan ribuan siomay dan terpaksa merekrut pegawai. Puncaknya, Sriyono diundang di salah satu  acara stasiun TV swasta dan menjadi hari yang tidak pernah dilupakannya. Di mana pada acara tersebut, dihadirkan tamu spesial yang ternyata kedua anaknya yang lama tak bertemu.

Memang Sriyono dalam memulai usaha siomay pink ini, tak sekadar mencari keuntungan semata namun juga untuk menemukan cintanya yakni anak-anaknya.

4. Risma, siswi tuna netra juara 1 OSN 2015 bidang matematika tingkat nasional.

Risma Anggraini (sebelah kanan)

Risma Anggraini (sebelah kanan) via http://berita.suaramerdeka.com

Di balik keterbatasannya, ada seorang anak Klabers yang mampu meraih prestasi di bidang matematika tingkat nasional. Dia adalah Risma Anggraini, siswa SLB YAAT Klaten penyandang tuna netra yang telah berhasil meraih juara 1 dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK).

Anak Klabers yang merupakan siswa kelas 6 ini, awalnya kurang percaya diri dan mendapatkan kesulitan dalam mengerjakan soal uraian. Namun berkat kegigihannya yang begitu luar biasa, dia mampu melewati rintangan tersebut. 

Sebelum berlaga di tingkat nasional hingga meraih juara 1 seperti ini, dia harus mengikuti beberapa tahapan seleksi mulai dari tingkat Kabupaten hingga Provinsi Jawa Tengah. Setelah lolos tingkat provinsi, Risma di karantina di Wisma PGRI Semarang. Di sana Risma di timpa berbagai soal yang memang dipersiapkan untuk menghadapi perlombaan tersebut.

Berkat jerih payahnya, Risma akhirnya dapat menjuarai OSN 2015 bidang matematika. Risma telah membuktikan dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya dan tidak menyurutkannya untuk tetap berprestasi. Salut anak Klabers!

5. Ikhsan, anak pembuat serbet yang diterima di UGM

Ikhsan membantu ibunya

Ikhsan membantu ibunya via http://news.detik.com

Satu lagi seorang anak Klabers yang bisa menginspirasi hidupmu dengan keadaanmu sekarang ini. Anak Klabers itu bernama Ikhsan Tanoto Mulyo yang merupakan seorang siswa tidak mampu dari Dusun Bocoran Desa Baran, Kecamatan Cawas. Baru-baru ini, dia telah berhasil diterima masuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Dia memperoleh beasiswa Bidikmisi hingga kuliah selesai.

Hebatnya, kondisi keluarga Ikhsan yang tidak mampu itu tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Ternyata anak Klabers ini selalu berprestasi di sekolahnya. Dari SD hingga SMP selalu masuk tiga besar. Sehari-harinya saat masih menimba ilmu di SMA N 1 Cawas, Ikhsan selalu menggunakan sepeda untuk menumpuh  jarak  sekitar 4 km ke sekolahnya.

Perjuangannya patut diacungi jempol karena hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan, namun tetap mampu berprestasi. Ibu Ikhsan sendiri sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Namun jika tidak musim bercocok tanam, ibunya hanya membuat kain serbet dengan alat tenun tradisional bukan mesin. Tentunya dia sangat bahagia karena anaknya mendapatkan beasiswa hingga kuliah selesai.

Sekali lagi, sukses ya buat Ikhsan! Semoga impian yang dicita-citakan selama ini dapat tercapai. Tunjukkan kepada dunia kalau anak Klabers juga mampu berprestasi di tengah-tengah kekurangan yang dihadapinya.

 

 

Kredit Gambar Andalan:  http://photopresse.photoshelter.com/image/I0000xZQx8MOdshE