1. Ini Lho Penyebab Generasi Sandwich

http://polki.pl via http://polki.pl

Generasi sandwich didefinisikan sebagai generasi yang harus mendukung (mengurus) secara finansial dua generasi sekaligus yaitu anak-anak dan orangtua (Eko P. Pratomo: 50 Financial Wisdom). Apa sih enaknya menanggung beban finansial dua generasi sekaligus. Memang akan menjadi kebahagiaan tersendiri bisa menanggung finansial untuk dua generasi: anak-anak sekaligus orang tua kita, kalau finansial kita bagus. Kalau keuangan kagak bagus, yang ada malah Perang Dunia II setiap harinya. Kamu pasti sudah menduga kenapa generasi sandwich ini bisa muncul. Tepat sekali: pengelolaan uang yang amburadul generasi orangtua di kala masih bisa mencari nafkah. Saat masih muda mereka tidak mengelola keuangan mereka dengan bijaksana sesuai prioritas sehingga di hari tuanya justru menjadi beban untuk generasi sandwich. Padahal, generasi sandwich juga harus memenuhi kebutuhan keluarga beserta anak-anaknya.

2. “Habisi” Generasi Sandwich

http://www.parenting.com via http://www.parenting.com

Panggilan anak-anak muda saat ini adalah “menghabisi” alias memutus generasi sandwich ini. Langkah ini jangan Loe mengerti dengan makna negatif, sob. Kita semua tentu berharap saat berkeluarga tidak menjadi generasi pengganti bukan. Dihabisi di sini bukan berarti meminta ortu kita menghentikan dukungan finansial pada kakek-nenek kita yang tidak produktif. Kalau yang ini mah sadis! Yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan hari tua dengan cerdas dan bijaksana. Memutus generasi sandwich memang tidak mudah di tengah situasi ekonomi yang makin kompleks, kebutuhan dan biaya hidup juga terus meningkat. Setiap generasi memang memiliki tantangannya masing-masing.

3. Awas, Terjangkiti Sindrom FoMO

http://quaserico.com via http://quaserico.com

Advertisement

Tawaran hal-hal duniawi makin beragam dan menggiurkan seiring dengan perkembangan teknologi. Kalau tidak waspada, kita malah bakal terjangkiti sindrome FoMO (Fear of Missing Out). Sindrom FoMO ini semacam ketakutan yang dirasakan oleh kite-kita bahwa orang lain mungkin sedang mengalami suatu hal atau kejadian menyenangkan, namun orang tersebut tidak ikut merasakan hal tersebut ( “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out, Peneliti University of Essex, University of California, dan University of Rochester).