Ketika aku beranjak dewasa, aku semakin menyadari bahwa banyak yang telah ayah lakukan untukku. Untuk itu aku sangat berterima kasih padamu. Tanpamu, aku tak akan pernah sedekat ini dengan mimpiku. Akupun sadar, aku tak akan pernah bisa menggenapkan baktiku padamu. Tapi aku tahu, aku akan selalu menjadi gadis kecil kebanggaanmu.

 

1. Ayah, lelaki pertama yang mengenggam tanganku.

genggaman hangat ayah untuk pertama kali

genggaman hangat ayah untuk pertama kali via https://www.psychologytoday.com

Ketika pertama kali menyapa dunia, ayah adalah orang yang pertama kali menggenggam, memeluk dan menciumku. Tak lupa dia mengumandangkan azdan di telinga. Penuh harapan dan doa agar kelak hidupku diliputi bahagia. Dia juga berjanji akan memenuhi hari dengan kasih dan cinta.

2. Seiring berjalannya waktu, ayah mengajarkan banyak hal padaku.

playing with father

playing with father via https://fbexternal-a.akamaihd.net

Ayah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di rumah adalah tanggung jawabnya. Begitu juga urusan mengasuh dan mendidik anak itu bukan tugas ibu saja, tapi menjadi tanggung jawab bersama.

Untuk bisa menjalani hidup dengan baik, anak tidak hanya butuh pelajaran dunia semata, namun ada yang harus diutamakan juga yaitu pelajaran akhirat. Pendidikan formal dan agama harus bisa dijalankan bersama-sama.

3. Tak banyak yang tahu bahwa ayah juga bisa menguncir ekor kuda.

ayah piawai menguncir rambut

ayah piawai menguncir rambut via http://ngonoo.com

Ketika ibu menyiapkan sarapan, ayah bisa jadi sosok yang sangat bisa diandalkan. Menyisir dan menguncir rambut di pagi hari jadi tugas tambahan. Bahkan terkadang tangan ayah lebih piawai dan cekatan mendandaniku agar terlihat mengesankan.

Gadis kecilnya sudah siap diantar ke tempat belajar, tak lupa dia mengecup kening tanda perpisahan bersama doa dan harapan yang tak lupa dipanjatkan.

4. Meski sibuk bekerja, ayah selalu punya waktu untuk dihabiskan bersama.

aku, ayah, dan pantai

aku, ayah, dan pantai via http://cbmw.org

Lima hari dalam seminggu ayah habiskan untuk bekerja. Tapi dia selalu punya satu hari untuk dihabiskan bersama. Bermanja-manja pada ayah tercinta, hanya kami berdua. Seringkali pantai menjadi pilihan.

Debur ombak dan semilir angin membuatku betah berlama-lama. Terkadang hanya keluar untuk membeli makanan kesukaan. Ayah juga punya panggilan kesayangan yang kelak akan selalu aku rindukan dan membuatku ingin pulang

5. Waktu berlalu tanpa terasa, ayah harus merelakanku pergi demi menggapai cita-cita.

perpisahan sementara untuk menggapai cita-cita

perpisahan sementara untuk menggapai cita-cita via http://www.loveandlobster.com

Sungguh berat ketika kami harus berpisah sementara agar aku bisa menggapai cita-cita. Meski hatinya tidak rela, ayah mengantarku tanpa airmata agar aku bisa pergi dengan perasaan lega. Meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat hari-hari di awal kuliah aku jatuh sakit. Tak bisa pulang karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan sehingga ayah dan ibu yang harus datang. Beberapa hari merawatku dengan sabar. Ketika kondisiku membaik mereka memutuskan untuk pulang. Baru beberapa jam mereka sampai di rumah, kondisiku ternyata semakin parah. Ayah dan ibu kembali datang, mereka pulang ketika kesembuhanku sudah bisa dipastikan.

6. Ketika tugas menggila, waktu untuk pulang menjadi sangat mahal.

tugas menumpuk

tugas menumpuk via http://i.telegraph.co.uk

Ketika tugas menggila aku tidak punya banyak waktu luang. Waktu tidur berantakan dan jadwal pulang perlu ditata ulang. Berkirim kabar hanya sebentar, bahkan terkadang terlewatkan. Telepon dan sms terabaikan. Rumah menjadi salah satu hal yang sangat dirindukan.

7. Kesibukan membuatku tak tahu bahwa ayah sudah tak sekuat dulu.

ayah terbaring lemah di rumah sakit

ayah terbaring lemah di rumah sakit via http://wwwdelivery.superstock.com

Setiap aku pulang ayah selalu tersenyum dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tak pernah mau menunjukkan kondisi yang sebenarnya. Tidak ingin membuatku khawatir dan mengatakan bahwa pendidikan adalah yang utama.

Beberapa kali terbaring lemah di rumah sakit, tapi aku hanya bisa sekali mendampinginya. Padahal dia selalu ada ketika aku membutuhkan. Dia selalu berusaha sekuat dan setegar yang diharapkan. Di usianya yang semakin renta, dia tak pernah lelah berjuang demi gadis kecilnya.

8. Saat kelulusan, aku berharap bisa memberikan sedikit kebanggaan untuknya.

sedikit kebanggaan untukmu

sedikit kebanggaan untukmu via http://www.shutterstock.com

Saat wisuda, ayah adalah orang yang paling merasa bangga, Membawa kabar gembira bahwa gadis kecilnya sudah menyandang gelar sarjana. Membuktikan bahwa perjuangan dan pengorbannya selama ini tidak sia-sia. Sepanjang acara, senyum tersungging di bibirnya. 

Ayah, kupersembahkan kelulusan ini untukmu, karena tanpamu aku tak pernah sedekat ini dengan mimpiku. Terima kasih untuk menjadi pendukung dan penyemangatku. 

9. Jangan anggap aku tak berbakti, aku hanya ingin merangkai mimpi sekali lagi.

Ayah, lihatlah aku sekarang! Berkat dirimu aku bisa menggapai mimpi. Tapi ini semua hanya permulaan, karena hidup yang sebenarnya baru saja dimulai. Jangan pernah lelah untuk memanjatkan doa di lima waktu dan sepertiga malam untukku. Aku masih gadis kecilmu yang selalu rindu belaian dan kasih sayang.

Maaf jika sekali lagi aku harus pergi, jangan anggap aku tidak berbakti, aku ingin merangkai mimpi sekali lagi. Terima kasih karena selalu berusaha mengerti dan mengamini. Semoga ayah selalu diberi kesehatan agar kelak ketika aku kembali aku bisa melihatmu tersenyum setiap hari.