Ramadhan telah tiba. Sebagai Muslim, kewajiban kita untuk menahan segala hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga tenggelam matahari. Kamu tetap merasa berat menjalankan perintah Tuhan ini? Ayolah, kamu kan sudah bukan anak kecil lagi yang kerjaannya mantengin jam dinding detik demi detik! Mending tetap aktif ke sana-kemari, dan tahu-tahu sudah waktunya buka! Asyikk!

Apalagi bagi kalian yang sedang berada di Jogja, tujuh spot menarik berikut ini rasanya terlalu sayang untuk tidak dikunjungi. Lumayan untuk menghabiskan waktu berbuka. Kamu bisa ngabuburit dan siapa tahu enteng dapat jodoh (cieeee, cengar-cengir deh…). Jangan tiap Ramadhan tiba selalu pasang gambar rukyatul hilal dan status: “Jodoh belum terlihat. Lebaran kali ini dipastikan masih sendiri.” Hehehe…

Inilah tujuh spot menarik yang membuat buka puasamu di Jogja semakin asyik. Ada yang mainstream hingga berada di pelosok. Semuanya patut kamu coba, deh!

 

1. Kampung Ramadhan Jogokariyan

Pintu gerbang masuk Kampung Ramadhan Jogokariyan

Pintu gerbang masuk Kampung Ramadhan Jogokariyan via http://life.viva.co.id

Tempat ini sudah terkenal dan sering diliput media cetak maupun elektronik. Jangankan Ramadhan! Pas bulan biasa aja, yang sholat di Masjid Jogokariyan bisa meluap bin meluber. Pokoknya dahsyat abis!

Tahun ini adalah tahun kesebelas Kampung Ramadhan Jogokariyan di-launching. Lokasinya dari Alun-alun Selatan (Alkid) Jogja, ke selatan kurang lebih 1 km, dan belok timur. Atau dari Jokteng Wetan ke selatan kurang lebih 1 km. Pas POM bensin Menukan, tinggal ke barat. Maka terlihatlah pintu gerbang gagah Kampung Ramadhan Jogokariyan.

Di sepanjang jalan hampir 1 km yang membentang barat ke timur, ada ratusan pedagang yang menawarkan aneka rupa jajanan dan penganan. Semuanya laris manis diserbu pembeli. Berjejal tapi nikmat. Saran: lebih baik parkir kendaraan dan mulai menyusuri jalan biar tambah nikmat!

2. Pasar Sore Kauman

Yuk dipilih-dipilih monggo...

Yuk dipilih-dipilih monggo... via http://alfiansyafril.blogspot.com

Yang ini lebih berjejal lagi karena para pedagang memanfaatkan lahan relatif sempit sekitar 2-3 meter di sepanjang lorong Gang Kampung Kauman. Lokasinya berada di dekat titik nol kilometer Jogja. Dari simpang empat Kantor Pos Besar Jogja, anda tinggal ke barat kurang lebih 1 km, dan silahkan parkir. Lalu berjalanlah masuki lorong-lorong kehidupan masa lalu. Apa? Masa lalu? Iya bener, memasuki lorong-lorong gang di Kauman. Serasa diri kita terlempar ke awal abad 19. Semua bangunan masih kuno dan otentik.

Di sanalah kita berjuang untuk mencari apa yang kita inginkan. Silahkan beli sepuasnya jajanan pasar dan aneka lauk. Mulai dari pepes ikan, ayam bakar, mangut lele (duh, kok malah bayangin lauk-pauk nih), pokoknya komplit. Semuanya relatif murah, lho! Oya, jangan lupa beli jajan pasar khas Kauman: kicak, carang gesing, dan jadah manten. Masing-masing dibanderol mulai Rp 2 ribu-Rp 3 ribu. Murah bingitz!

3. Buka Puasa aja di Masjid Gede Kauman

Nikmatnya berbuka di Masjid Gede Kauman

Nikmatnya berbuka di Masjid Gede Kauman via http://photo.liputan6.com

Berjejal di lorong gang Kampung Kauman pasti akan menyita waktumu. Apalagi kamu semua dijamin bingung milih yang ini apa yang itu. Terlebih kalau kamu yang dari luar kota, pasti asyik selfie melihat eksotisme Kampung Kauman di sore hari. Resikonya, kamu tak jarang kehabisan waktu untuk segera berbuka. Eits, santai aja! 

Kamu tinggal terus ke selatan dan tibalah kamu di Masjid Gede Kauman. Buka saja di sana bersama ribuan masyarakat Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, tiap hari panitia menyiapkan minimal 1.300 piring. Menu yang dihidangkan tak kalah nikmat dengan restoran bintang lima. Mulai dari gulai kambing (glek!) tiap Kamis, dan menu lainnya yang bervariasi.

Saat kamu datang ke Masjid, lalu wudhu membasuh kaki, dan langsung dikasih jatah makan dan teh manis yang siap disantap saat adzan Maghrib berkumandang. [Duh, adzan Maghrib emang suara paling romantis selama Ramadhan ini!]

4. Pasar Sore UGM

Wah, ramai nian ni! Seger-seger lagi.

Wah, ramai nian ni! Seger-seger lagi. via http://citizen.liputan6.com

Kalau yang ini agak modern. Pasalnya banyak penjual adalah mahasiswa-mahasiswi unyu kampus biru. Semuanya cantik-cantik dan ganteng-jelek (eh, ganteng-ganteng ding). Yup, mereka berjualan bukan karena kekurangan modal untuk bayar kuliah. Tapi mengasah kemampuan entrepreneurship saja. Bahwa inflasi tinggi di negara ini tiap jelang Idul Fitri takkan mengurangi semangat mereka berorganisasi (duh, ngomong apa ini…).

Lokasi Pasar Sore UGM tepatnya berada di timur Masjid Kampus UGM. Di sepanjang Jalan Nusantara itulah, banyak penjual aneka makanan dan jajanan. Bahkan ada bule Belanda yang turut menjual roti dan kue khas negeri Kincir Angin. Harganya murah. Mulai Rp 8.000,00 - Rp 14.000,00. Duh, jadi pengen segera sore deh!

5. Pasar Ramadhan Kotagede

Klasik, melempar kita ke masa lalu.

Klasik, melempar kita ke masa lalu. via http://catatannobi.com

Wah, ini asyik lagi! Kamu tinggal gas motor 5 km ke arah tenggara dari pusat kota Yogya. Di sana ada perkampungan kuno. Hampir mirip dengan Kauman, tapi dengan lorong yang lebih lebar. Sugeng rawuh di Kotagede. Wilayah sudut kota Yogya yang sungguh eksotis, menarik, dan selalu ada setangkup haru di sana.

Inilah sentra kerajinan perak berkualitas seantero Indonesia Raya. Saat kamu milih-milih makanan untuk berbuka, sekalian kamu berburu emban akik yang pas untuk batumu. Di Kotagede inilah, Kerajaan Mataram memiliki sejarah panjang. Di sana terdapat Masjid Kuno Kotagede dengan arsitektur lawas gaya Mataram. Niscaya kamu seperti berada di tengah-tengah setting lokasi sinetron Empu Tantular.

Bagaimana dengan jajanannya? Hmmm yuummy! Ada kipo khas Kotagede, camilan yang terbuat dari parutan kelapa, manis gula jawa, dan dibalut tepung terigu yang rasanya maknyus. Apalagi karena dibakar, maka sensasi rasanya ahhh! Porsinya cukup mungil dan ini malah menjadi kelebihan menjadi santapan iftar kita.

6. Nitikan, Jalur Gaza

Kampung Nitikan asyik juga, nih!

Kampung Nitikan asyik juga, nih! via http://eatjogja.com

Weits, ini bukan ngajak kalian ke Jalur Gaza, Palestina! Tapi di Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta. Dari Kotagede, kamu tinggal ke barat kurang lebih 2 km. Sampailah kamu di sepanjang Jalan Nitikan yang embentang hampir 1,5 km panjangnya dari timur ke barat. Lalu apa hubungannya dengan Jalur Gaza? Ini sebutan bro and sist! Tepatnya kepanjangan dari Jajanan Lauk dan Sayur, Gubuk Ashar Zerba Ada. Maklum orang Yogya, paling ahli soal akronim dan plesetan.

Mau cari tempe mendoan khas Banyumas? Di sini ada. Es buah segar paling maknyus? Di sini ada. Bakso goreng, mie ayam, bakwan kawi, dan aneka rupa lainnya? Segera saja capcuz ke Jalur Gaza! Yang ini gak perlu persiapan memanggul senjata, cukup bawa uang dan jajan sepuasnya.

 

7. Berbuka di Pandak, Bantul

Nikmatnya nasi bubur dan sayur lodeh

Nikmatnya nasi bubur dan sayur lodeh via http://metrotvnews.com

Bosan dengan rutinitas kota? Segera saja menyingikir ke alam pedesaan. Dari Nitikan, kamu tinggal cari pusat kota Bantul (sekitar 15 km dari Nitikan). Lalu ke selatan lagi. Sampai perempatan Palbapang, Jalan Bantul, kamu tinggal ke barat. Nah, di sana ada Masjid Sabiulrosyad yang berada di Desa Kauman, Kecamatan Pandak, Bantul.

Di sana, berbuka puasa bersama dengan nasi bubur dan sayur lodeh. Apa yang istimewa? Tradisi ini sudah turun-menurun berlangsung lebih dari lima abad dengan menu tetap sama. Wow! Berarti dengan mencicipinya, kamu akan menjadi salah satu saksi kehidupan langgengnya tradisi tadi.

Menariknya, proses pembuatan dilakukan gotong royong dengan semua warga. Mereka suka rela mengeluarkan apapun yang dimilikinya. Dipilihnya nasi bubur dan sayur lodeh tentu punya makna filosofi yang mendalam. Yang pasti, suasana keakraban warga terlihat kental dan inilah yang membuat makanan bersahaja itu menjadi nikmat luar biasa.