1. Percakapan 1 buku bisa disingkat menjadi 1 bab loh!

Konsultasi serba-serbi kesehatan ibu dan anak bersama bidan Tri Puji Astuti via http://www.instagram.com

Awal-awal masa penugasan sempat dibuat bingung ketika berkomunikasi dengan orang lokal disana. Bisa dibilang, kalimat singkat yang mereka ucapkan membuat otakku bekerja lebih keras dari biasanya haha. But, thats the unique. Jadi bangga juga kalau ternyata Indonesia benar-benar kaya akan budaya. Misal:

“sa pu kambing su makan kah ti?”

Artinya: kambing saya udah makan apa belum?

“ah tra usah. Ko pi su”

Advertisement

Artinya: ah nggak usah. Kamu pergi saja

Singkat bukan? Lumayan lah menghemat karakter kalau saling mengirim teks hihihi

2. Akrab dengan kata pele , baku tipu , abunawas dan kasih tinggal

Foto bersama antara warga setempat dengan farmasis Eli Laila Azizah via http://www.instagram.com

“ah peleee da pu matahari panas apa”

“ko diam sudah. Baku tipu saja”

“da hambak-hambak kah lagi? Ah.. kasih tinggal dia sudah”

“itu sudah.. abunawas juga mo”.

Yang awalnya dibuat pening karena tidak paham, akhirnya tanpa sadar mulai ikut-ikutan. FYI, kata “pele” digunakan hanya sebagai ungkapan saja. Kalau kamu mengeluh, heran, atau kaget biasanya kata “pele” diselipkan diawal atau diakhir kalimat. “pele! Blablabla..” atau bisa “(kalimat menggerutu, dkk), ah pele!”.

Selain kata “pele”, “baku tipu” juga bakalan menjadi kalimat dewa yang sering kamu dengar. Untuk penggunaan “baku tipu” biasanya diungkapkan kepada seseorang yang merasa dibohongi, atau biasanya juga hanya sebagai kalimat candaan untuk mencairkan suasana. Dan biasanya, gelar “abunawas” tidak jauh-jauh dari sebutan “baku tipu”.

Sedangkan “kasih tinggal” digunakan untuk menyatakan bahwa kita menyerah terhadap sesuatu. Entah terhadap situasi, omongan orang lain, atau apapun yang kita tidak mau ambil pusing terhadapnya.

So, su pahamkah ti? Oke, next ke pembahasan selanjutnya aja yah. Pele!

3. Artis lokal mengalahkan segalanya

Penyanyi muda papua via http://google.com

Awesome! Kata pertama yang keluar dari mulut ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah papua. Jangan harap Raisa dan Isyana dapat bersaing di sini (sempat dibuat kecewa juga sih, 2 artis favo saya tidak begitu famous disini). Di sepanjang jalan, jarang sekali terdengar lagu-lagu dari artis-artis ibukota. Yang terdengar hanyalah lagu-lagu dari hasil kreativitas anak lokal. Salute! Salut dengan cara mereka menghargai produk kreativitas dari tanah mereka sendiri. Dan alhasil, setahun di tanah rantau papua, playlist di smartphone pun penuh dengan lagu-lagu anak muda papua. Bersaing ketat dengan Raisa dan Isyana. Salute! Prookk.. prookk.. prookk..

4. Kaya di adat, kental di budaya, ramah di senyum

Foto bersama saat acara adat di Anyumka via http://www.instagram.com

“selamat pagi ibu”

“ibu! Siaaaaaaang..”

“soreee ibuuuu”

Yang tidak akan pernah terlupakan saat berada di tanah indah papua adalah orangnya yang ramah. Mereka senantiasa merasa “wajib” menyapamu jika berpapasan denganmu. Terlepas mereka mengenalmu dengan baik atau tidak, saling sapa adalah ritual wajib yang akan mereka lakukan jika berpapasan satu sama lainnya. Tak lupa, salam yang dilontarkan pun dibumbui dengan senyuman dari para nona manise. Ini akan menjadi salah satu yang kamu rindukan jika sudah kembali ke kampung halaman. Trust me. You never find people like them. Their smile, your warm. Trust me.

5. Untukmu TENAGA KESEHATAN, mereka membutuhkan kita!

Foto bersama setelah kegiatan posyandu via http://www.instagram.com

Alasan kami menginjakkan kaki ke tanah papua adalah untuk mengabdikan diri, membantu mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan di tempat yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan yang optimal. Sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan pratama, sudah tentu menjadikan kami jauh lebih dekat mengenal masyarakat di sekitar tempat penugasan kami. Miris. Jauhnya jarak untuk menjangkau mereka menjadi salah satu alasan kami harus bekerja lebih keras untuk menarik tangan mereka. Kita peduli. Kita peduli terhadap mereka. Namun, kebutuhkan akan pelayanan kesehatan tidak sebanding dengan jumlah tenaga kesehatan yang dibutuhkan.

Tidak hanya bersifat kuratif (pengobatan), namun yang terpenting adalah preventif (pencegahan). Mengedukasi masyarakat adalah poin penting yang harus dilakukan agar masyarakat bisa berubah. Dan perubahan tidaklah instan. Bukankah sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil dulu?

Oke. Kembali ke topik. Di tengah segala keterbatasan, mereka pun menginginkan pelayanan kesehatan yang sama dengan di daerah maju lainnya. Namun, hanya sedikit saja tenaga kesehatan yang mau mengabdikan dirinya hingga ke pelosok. Melalui Nusantara Sehat, jangan takut untuk mengabdikan diri. Akan banyak pengalaman, cerita dan keseruan yang akan kamu dapatkan. Dan yang terpenting, akan ada saudara-saudari yang akan selalu mendampingimu, menemani langkah perjuanganmu. Cerita yang tidak akan kamu dapatkan jika kamu tidak melebih lebih luas betapa indah Indonesia.

Salam sehat, salam Nusantara Sehat.

6. Salam dari kami, Tim Nusantara Sehat PKM Ambatkuy

dari kiri ke kanan ( Eli Laila Azizah – Farmasis, Tri Puji Astuti – Bidan, M. Aris – Dokter, Maisyah Fitri – ATLM, Joss – Ners ) via http://www.instagram.com

Salam Sehat, Salam Nusantara Sehat!