Sejak tahun 2005 saya mulai merantau, pindah-pindah ke beberapa daerah di Indonesia sehingga perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang menjadi hal yang sering saya lakukan. Penerbangan yang saya lakukan tidak jarang ke daerah yang belum memiliki bandara besar, yang jadwal penerbangannya bisa jadi tidak tersedia setiap hari.

Memang belum sesering orang-orang lain yang sampai mempunyai kartu member dari maskapai tertentu, tetapi saya rasa cukup valid untuk bisa membagikan pengalaman saya yang berhubungan dengan maskapai penerbangan domestik. Ini nih salah satu di antaranya:

1. Delay lagi, delay lagi. ‘Kan syedih 🙁

Ini mungkin bisa disebut sebagai permasalahan paling klise dari maskapai domestik kita.

Dulu saat saya kuliah sepanjang tahun 2005-2010, frekuensi delay para maskapai masih sangat sering terjadi, sampai ada 1 maskapai yang saya hindari karena hampir selalu delay (saya menyebutnya "Delay Airlines"). Delay-nya pun tidak tanggung-tanggung, bahkan bisa sampai 3 jam lebih!

Berkat adanya UU Penerbangan no. 1 Tahun 2009 dan tambahan dari Permenhub 89 tahun 2015, permasalahan delay sudah semakin berkurang. Maskapai "Delay Airlines" pun sudah banyak berbenah setelah diprotes sana-sini. Kalaupun masih delay, ada kompensasi yang diterima oleh penumpang. Hanya saja terkadang alasan yang disampaikan tidak memuaskan, pramugari biasanya hanya mengatakan, "Penumpang yang terhormat, atas nama segenap crew kami memohon maaf atas keterlambatan yang terjadi dikarenakan alasan operasional."

Advertisement

Hmm. Ada yang tahu "alasan operasional" itu apa?

2. Mending deh kalau cuma delay; tapi kalau sampai cancel? Duh!

maskapai burung hantu via http://destinasian.co.id

Penerbangan yang dibatalkan ini lebih menjengkelkan daripada delay karena kita sebagai penumpang tentunya harus mengatur ulang jadwal acara tertentu.

Pembatalan penerbangan dari pihak maskapai tentunya mengacaukan semua susunan jadwal tersebut. Belum lagi biaya tambahan yang harus kita keluarkan untuk membeli tiket alternatif atau harus menginap bila tempat tinggal kita jauh dari bandara dan tidak ada penerbangan alternatif di hari itu. Meskipun saat ini proses refund sudah jauh lebih mudah dan tidak bertele-tele seperti dulu, tetapi cukup merepotkan juga.

Untuk menghadapi permasalahan seperti ini saya membiasakan diri untuk tetap tenang, tidak terpancing emosi mencari solusi permasalahan ini. Berdasarkan pengalaman saya, tidak ada gunanya marah-marah kepada pegawai counter karena keputusan cancel bukan berasal dari mereka. Sikap emosional kita justru bisa membuat mereka tidak simpatik dan tidak mempermudah kita mencari solusi alternatif.

3. Ganti jadwal penerbangan tanpa pemberitahuan. Fix nyebelin!

ganti jadwal via https://m.tempo.co

Percaya tidak percaya, hal ini sungguh terjadi dan saya alami sendiri

Penerbangan pagi Jakarta-Balikpapan oleh maskapai "Burung Hantu" pada hari itu ada 2 yaitu pada pukul 5.40 dan pukul 6.00 WIB. Saya membeli tiket untuk penerbangan pukul 6.00. Saya tiba di bandara kira-kira pukul 4.20 dan pada saat saya check-in, saya lihat kode penerbangan saya berbeda dengan tiket yang saya booking.

Saat saya konfirmasi dengan pegawai di counter, beliau mengatakan bahwa boarding pass saya sudah benar, pesawat tidak delay dan akan boarding pukul 5.10. Jawaban yang sama juga saya dapatkan dari pegawai di ruang tunggu. Saya tidak memperpanjang masalah ini karena bagi saya yang penting saya tiba tepat waktu karena saya harus bekerja. Tetapi cukup membuat saya bingung kenapa penerbangan saya dari jam 6.00 berubah jadi 5.40, menggunakan pesawat untuk jadwal penerbangan jam 5.40. Saya tidak tahu apakah penerbangan jam 6.00 masih tetap terbang atau dibatalkan. Pengalaman ini hanya terjadi sekali dalam hidup saya dan tidak berharap diulangi lagi oleh maskapai yang sama maupun yang lainnya.

4. Ganti gate begitu saja tanpa memperhitungkan kekecewaan yang akan dialami penumpang

ganti gate via http://gloopic.net

Kalau yang ini harus saya akui sudah terjadi berkali-kali. Entah permasalahan komunikasi atau teknis, tetapi seringkali keterangan gate di boarding pass kadang berbeda dengan informasi di layar monitor atau berbeda dengan kenyataan di lapangan. Oleh karena itu, biasanya bila ragu saya konfirmasi ulang dengan pegawai yang berjaga di gate tersebut; apalagi bila saya sudah mendapat perasaan tidak enak karena gate begitu sepi padahal sudah mendekati jam boarding. Huh!

5. Boarding lebih dulu sebelum pegumuman lewat speaker. Maunya apa coba?

boarding dulu via http://pexels.com

Saya yakin cukup banyak yang pernah mengalami hal seperti ini karena saya sendiri mengalaminya berkali-kali beberapa tahun lalu, Akhir-akhir ini frekuensinya sudah berkurang, sih.

Pegawai di gate akan berteriak-teriak seperti di terminal bus "Burung Hantu Air, Jakarta, boarding! Burung Hantu Air, Jakarta, boarding!" dan semua akan berbondong-bondong segera boarding. Saat antrian mulai sepi barulah pengumuman terdengar dari speaker.

Ya, sebenarnya tidak ada yang menjengkelkan seandainya tidak ada kejadian berikutnya, yaitu banyaknya yang penumpang yang ditinggal karena mereka tidak mendengar teriakan pegawai yang mengajak boarding. Biasanya terjadi pada penumpang yang menunggu di luar ruang tunggu sehingga hanya mendengar pengumuman dari speaker yang cukup terlambat. Terpaksa penumpang tersebut harus membeli tiket baru lagi karena dianggap terlambat.

Beberapa kali mengetahui kejadian seperti ini, saya mengambil pelajaran untuk lebih baik menunggu di ruang tunggu meskipun membosankan dan tidak membiarkan diri saya terlena dengan lagu dari headset agar bisa mendengar teriakan pegawai yang seperti kernet Metromini di Jakarta.

6. Ganti tempat duduk begitu saja. Ini nih yang bikin rugi dan kecewa!

ganti bangku via http://www.lastminute.com

Cukup banyak alasan mendasari perpindahan tempat duduk ini, tetapi untuk alasan-alasan yang valid atau didasari atas kesepakatan bersama antar penumpang biasanya saya tidak keberatan. Tetapi lain ceritanya bila pramugari yang memindah bangku saya tanpa alasan yang jelas.

"Mbak, saya harusnya duduk di bangku 7A, kok sudah ada yang menempati ya?"

"Mbaknya duduk sebelah sini aja kalau begitu." (sambil menunjuk posisi bangku 7F)

"Lho boleh bebas ganti tempat duduk to? Kalau begitu saya mau duduk di agak depan aja Mbak. Saya nggmau di 7F."

(bicara dengan ibu di bangku 7A) "Bu, boleh saya lihat tiket ibu? Oh, ibu di 6A, Bu. Salah baris, di sebelah sini ya."

Saya tidak tahu apa konsekuensinya pindah-pindah tempat duduk tetapi buat apa ditentukan posisi duduknya dari awal kalau pada akhirnya boleh dipindah-pindah tanpa alasan yang jelas? Menyebalkan, bukan?

7. Posisi duduk tidak nyaman dan pelayanannya nggak ramah sama sekali

Saya tidak paham bagaimana pertimbangan dari petugas maskapai menentukan posisi duduk penumpang. Seringkali saya request tempat duduk yang saya inginkan, misalnya dekat jendela atau dekat jalan, tapi tidak jarang juga saya pasrah saja ditempatkan di mana saja. Nah, masalahnya beberapa kali bila saya pasrah, saya diposisikan di tempat yang menurut saya kurang nyaman, yaitu di tengah.

Saya ini perempuan berbadan kecil, duduk di tengah di antara 2 bapak-bapak berbadan besar berkumis tebal; sangat tidak nyaman bagi saya! Apakah tidak ada pertimbangan jenis kelamin dalam mengatur posisi tempat duduk penumpang? Mungkin enak juga bila diatur seperti bus Trans Jakarta, posisi depan untuk perempuan, posisi belakang untuk laki-laki. Hehehe.

8. Kelebihan muatan bagasi itu… rasanya sesuatu

Kalau permasalahan yang ini harus saya akui adalah murni kesalahan penumpang karena sejak membeli tiket berat maksimal bagasi sudah diberitahu. Tetapi terkadang batas maksimal bagasi tersebut sangat menyulitkan bagi saya yang sering pindah-pindah tempat tinggal dengan barang bawaan layaknya orang yang mau minggat.

Untuk tujuan ke daerah kecil tentu bandaranya lebih kecil dan hanya pesawat kecil yang bisa masuk, jadi batas maksimal bagasi juga pasti lebih kecil. Alhasil saya hampir selalu membayar untuk kelebihan bagasi yang biasanya tidak murah karena bagasi kabin juga kecil dan tidak memungkinkan untuk mengoper barang bagasi jadi barang kabin.

9. Bagasi tidak sampai tujuan dan ada beberapa barang yang hilang

bagasi hilang via http://travel.usnews.com

Terus terang saja hal ini yang membuat saya paling sulit menahan emosi, terutama apabila saya sedang bepergian untuk wisata. Bisa jadi sebagian besar kebutuhan saya ada di dalam tas yang saya taruh di bagasi. Butuh waktu untuk melacak di mana keberadaan bagasi saya dan mencari cara untuk mengirimnya sampai ke tangan saya.

Agak lebih repot bila saya berada di area dengan jadwal penerbangan terbatas, misalkan seminggu hanya 2-3 kali, artinya saya harus menunggu penerbangan berikutnya yang bisa mengantar bagasi saya. Coba bayangkan saat ingin bersenang-senang malah tidak bisa ngapa-ngapain karena perlengkapan tidak ada di tempat. Inilah mengapa sebaiknya membawa baju cadangan di tas kabin atau lebih baik lagi usahakan tidak perlu membawa bagasi. Hahaha.

10. Pesawat turun di terminal yang berbeda. Lha, gimana coba?

beda terminal via http://evan.reisha.net

Ini pengalaman yang cukup unik menurut saya. Menurut tiket yang saya beli, saya akan turun di terminal kedatangan 1A Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Setelah landing, kami diantar naik bus menuju terminal kedatangan. Perjalanan naik bus tersebut ternyata cukup lama sehingga membuat para penumpang mulai saling berpandangan kebingungan; sebenarnya akan dibawa kemanakah kami semua.

Setelah melewati terowongan bawah jalan layang, barulah kami menaydari bahwa sebelumnya pesawat kami landing di terminal 3 dan saat ini kami diantar ke terminal 1A sesuai keterangan di tiket. Tidak menjengkelkan memang, hanya terasa aneh dan tidak efisien. Kok bisa, sih?