Straight To The Point (STTP) bukan kata yang tabu dan tergolong sering terdengar. Tak jarang juga terpakai dalam keseharian. Bukan hanya maksudnya langsung kepada inti atau pokok permasalahan atau ceplas-ceplos, tapi juga mengungkap secara langsung tanpa memendam apalagi kiasan.

Dalam beberapa kasus, hal ini dianggap tak layak, kurang diperkenankan, dan bahkan akan membuat sakit hati. Agaknya memang sedikit banyaknya perlu dihindari, tapi tak menutup kemungkinan diperlukan. Misalnya pada waktu, kondisi, atau pun keadaan tertentu. 

 

1. Diperlukan untuk teman dekat maupun sahabat.

Ada cabe tuh!

Ada cabe tuh! via http://www.oorcheck.nl

Kita ambil contoh kasus yang sering dialami dalam keseharian. Kebetulan kamu baru sampai ke tongkrongan. Dalam tongkrongan itu, ada sahabatmu dan beberapa wajah baru yang belum sempat kenalan. Sebagai orang yang datangnya paling akhir, pasti bakal nyapa atau buka perbincangan dengan sahabatmu. Bahkan duduk di dekat dia.

Kamu: "Eh, sorry gua telat."

Sahabat: "Nyantai aja. Baru dari warung nasi padang lu, ya?"

Kamu: "Ah, bisa aja."

Sahabat: "Tuh cabe di gigi lu yang nunjukin jati dirinya!"

Kebanyakan orang yang belum mengenal bahkan belum punya kedekatan personal dengan kita, segan atau malah enggan untuk sekedar memberi tahu hal kecil yang merusak ke-kece-an ini. Di sinilah letak perlunya STTP ini. Tapi untuk kasus seperti ini, alangkah baiknya diutarakan dalam bentuk bisikan langsung pada temanmu.

2. Pada saat jamuan penting.

Dijaga omongannya, gan!

Dijaga omongannya, gan! via http://nasional.news.viva.co.id

Agak terdengar aneh memang. Tapi dalam hal ini, memang sangat perlu karena terhitung pentingnya. Semua kesalahan mulai yang terkecil apalagi yang terbesar, harus diungkapkan secara STTP tanpa perlu dipuitiskan apalagi diibaratkan. Misalnya, akan diadakan rapat dengan atasan. Setiap detil perlu diperhatikan mulai dari tampilan hingga tutur kata. Sesama rekan kerja amat perlu untuk mengungkapkan secara STTP. 

3. Untuk mereka yang telat mikir.

Loading...

Loading... via http://aiendyu.com

Tuhan menciptakan makhluk dengan berbagai keragaman. Salah satunya, orang yang telat mikir. Bukan maksud untuk hal yang tidak baik. Tapi dengan adanya mereka, variasi sikap manusia bertambah. Dengan keadaan mereka yang suka tertawa terlambat jika dilontarkan lelucon maupun ikut tertawa saat yang lain juga tertawa dan diakhir terucap kata, "Eh si Budi tadi ngelucu apaan?", maka STTP lebih baik dipakai.

Agak susah untuk dibayangkan bila memakai kata kiasan. Apalagi memperluas pembicaraan dengan mereka.

4. Pada saat menjawab soal eksakta a.k.a ilmu pasti.

Dari judulnya, bisa dibayangkan bagaimana kalau untuk menjawab soal matematika tapi diawali dengan paragraf pembuka dan penjelasan arti dari setiap angka yang tertulis.

5. Untuk temanmu yang indera pendengarannya agak sedikit kurang baik.

Maksudnya, sedikit mirip dengan mereka yang telat mikir. Tapi ini lebih kepada tipikal orang di setiap dialog yang pernah terjalin, pasti diawali oleh kata "Apa?". Dan lebih parahnya, ketika pengulangan yang pertama, kata yang muncul selanjutnya "Eh gimana, gimana?". Kebayang kan betapa dongkolnya?

6. Dan point yang terpenting adalah untuk PUJAAN HATI yang kurang peka!

You know what I mean!

 

 

Pada dasarnya semua hal punya dua sisi yang berbeda, positif dan negatif. Dibutuhkan penempatan yang paling tepat agar tercipta keselarasan dan dapat diterima, baik itu penempatan waktu, tempat, situasi, kondisi, dan toleransi.