Selfie, bersifat ingin menunjukan pesona diri. beberapa orang mungkin menyebutnya narsisme: sebuah perbuatan yang menganggap dirinya indah sehingga rindu akan pujian, sampai ada metode khusus yang akan mengundang pujian, karena hanya dengan pujian itu dia merasa dirinya eksist. Selfie-isme bergerak pesat pada akhir abad 20, walaupun konsep tentang pemujaan pesona diri sudah ada sejak dulu.

"Aku Selfie maka aku eksist".

Mengingatkan pada perkataan monumental Almarhum Descartes (baca: dekart) ,Bapak rasionalisme barat.

1. pujian Orang Lain Bagaikan Oksigen yang akan Terus Dihirup

Karna pujian orang lain itu memberikan kebahagiaan diri serta untuk mengkofirmasi kehadirannya sebagai manusia yang spesial, maka dia menjadikan pujian itu sebagai oksigen yang harus terus dihirup demi bernafas, tanpa pengakuan itu berarti oksigennya habis, yang artinya menjadi kurang spesial.

hilangnya pesona diri merupakan momok yang paling dikhawatirkan kaum selfie-isme . Mereka juga bisa disebut "konsumen pujian".

2. Menggunakan “status” untuk mencuri perhatian

Advertisement

Gairah untuk memuliakan diri ini bermula dari kata yang dimuat dalam kolom, lazim disebut ‘status’, di fesbuk maupun di sosial media lainnya, sebagai ruang untuk mengespresikan diri, untuk mewartakan:

'plissss sukai aku'

'mohon cintai aku'

'pliss akui aku'

'plisss beri aku like'

'apa arti hidup ini tanpa like?'

'bayangkan hidup anda tanpa like?'

Pesan itu tertulis tersirat, biasanya dengan kalimat mutiara atau ucapan-ucapan manja.

3. Mengutip kata kata mutiara Orang Lain Agar Dianggap Cantik dan Smart

autis gadget via http://blog.prediss.com

Bila belum memiliki inspirasi, maka quote tulisan orang yang kadang tanpa dikutip nama pemiliknya dijadikan sebagai jejaring untuk mendapat perhatian dan pengakuan. Cara ini biasa dilakukan oleh orang-orang cantik yang kurang beruntung secara pendidikan atau biasanya, dilakukan oleh orang-orang yang baru aktif di sosmed. diharapkan dengan posting kata-kata mutiara, ia bukan hanya terlihat cantik tapi juga smart.

4. Ingin berbagi persoalan hidup

Sebagian orang mewartakan masalahnya dengan keluarga, ada yang dengan sahabatnya, ada juga yang dengan pacarnya, bahkan tidak jarang kita temukan persoalan pribadi seseorang yang dimulai dari konflik dengan hewan kesayangannya.

Hal-hal semacam itu dianggap biasa karna itu satu-satunya cara untuk menunjukkan dirinya, mendeklarasikan pribadi tangguhnya di ruangan kecil bernama ‘status’, dengan harapan sahabat sahabat memperhatikannya merasa iba dan menyanjungnya.

5. Mengekspose penampilan untuk mendapatkan popularitas

Tapi cara yang lebih mudah dari itu adalah mengekspos penampilan, wajah, aksesoris dan pernak-pernik lainnya. Cara ini adalah bentuk lain untuk mengenalkan dirinya di hadapan publik. Meski bukan model, ia berpenampilan seperti model, walaupun sering kali kualitas make-up yang rendah membuatnya tampak justru kurang menarik. Meski tak seseksi Monicca Belluci, tak masalah yang penting bisa berlagak seperti idolanya, tujuanya hanya untuk diperhatikan serta mendapat pujian dan popularitas.

6. Nilai Positif Menjadi Negatif, Nilai Negatif Menjadi Positif

positif negatif via http://3.bp.blogspot.com

Sampailah semua orang pada sebuah sistem nilai baru, berada dalam fase transformasi gaya hidup dan etika. Yang dulu dianggap tak senonoh, kini dianggap baik dan wajar, sombong yang pasti buruk, kini netral, pamer yang dulu dianggap tak patut, sekarang justru menjadi simbol kekinian atau gaya hidup par-excelence.

Selfie sebutannya.

Tak peduli kaya atau miskin, asli cantik atau vermak-an, semua mensyukuri karunia bernama potoshop. Wajah yang kurang cantik bisa berubah menjadi sangat cantik. Penampilan desa bisa seperti orang kota.