Usia buat seseorang memiliki arti yang berbeda-beda. Apabila usia pada umumnya dianggap sebagai penentu kedewasaan dan pengalaman seseorang  yang beranggapan bahwa usia yang sudah memiliki angka tinggi berarti memiliki pengalaman hidup, yang ditandai kebijaksanaan, dan kematanga. Anggapan tersebut bertolak belakang dari usia belia identik dengan kelabilan, dan kemudzaratan. Namun ada pepatah tua yang mengatakan seseorang dengan usia tua belum tentu memiliki pengalaman yang banyak dibanding dengan orang yang sepuluh tahun lebih muda di bawah nya ketika orang tua tersebut selama hidup nya hanya berpangku tangan dan tidak pernah “melakukan apa-apa.”

            Hari ini saya melihat usia telah menyepuh orang tua itu memiliki pemahaman hidup yang baik.

            Sore itu bermendung, awan hitam menutupi langit biru Pekanbaru ketika sore hari yang seharus nya masih cerah –membiru.

            Kami seusai mengajar dari pagi dimulai pukul 08.00 hingga 05.00 sore selalu letih. Rata-rata usia kami adalah 20 sampai 30 an. Di depan rumah yang disewakan sekolah untuk tempat tinggal selalu dilewati oleh penjual siomay Bandung. Seorang Bapak yang kira-kira usianya sekitar lima puluh tahun mendorong gerobak yang di atas nya ditutupi seng dengan payung besar. jaga-jaga terhadap cuaca saat terik di siang hari maupun hujan.

            Saya dan teman-teman biasanya selalu berlangganan siomay Bandung ini untuk mengobati rasa rindu terhadap kampung halaman –jawa. Kebetulan, Bapak bertopi ini pun juga asli Jawa tetapi memiliki anak yang tinggal di Riau. Seorang Guru dengan suami dosen. Setiap hari, Bapak menjajakan siomay dengan rute yang sama, dari rumah nya berhenti di Masjid Al-Ikram yang menjadi tempat nongkrong anak-anak komplek perumahan pemerintah daerah. Setelah pukul setengah enam sore, dengan sabar dan telaten ia mendorong gerobaknya menuju rumah kami. Di sana ia menunggu lama, dengan membunyikan kayu.

            Adakah yang memiliki pemikiran bahwa Bapak ini berasal dari keluarga yang miskin ilmu? Hari ini terjawab sudah bagaimana umur telah menyepuhnya menjadi manusia yang sederhana dalam kepasrahan hidup.

            Tangan nya yang keriput mendorong gerobak dengan sabar. Ketika pembeli satu persatu menyebutkan nominal ia dengan telaten, sabar, dan ulet melayani dengan pelan. Tidak cepat-cepat. Ada jeda nafas di sana, nafas kepasrahan terhadap hidup. Sudah tujuh bulan yang lalu istrinya meninggal. Rasa nya Bapak kehilangan separuh semangat hidup nya. Mendorong gerobak siomay adalah alasan dia menafkahi istri dan menghabiskan waktu tua dengan sederhana.

            Bagi orang-orang yang duduk di gedung bercakar, akan sangat sedikit sekali peluang mereka melihat Bapak siomay Bandung dengan lebih dekat dari sisi lain.

            Tetapi hidup harus berjalan. Ia masih melakukan kegiatan mendorong gerobak siomay. Dia tidak membuat nya sendiri tetapi mendapat supply dari seorang mandor. Bapak tidak ingin enak-enak saja menghabiskan hari tua dengan menerima jatah bulanan dari anak-anak nya. Ia memilih menjajakan siomay.

            Fakta unik dari nya hari ini ketika kami selesai membeli siomay dan tiba-tiba hujan lebat turun. Menetes deras, melepas dedaunan kering yang masih menempel pada dahan-dahan pohonnya.

1. Usia Telah Membuat nya Pasrah

Hidup memang begini adanya. Satu hari dua puluh empat jam. Tetapi kualitas seseorang dalam sehari berbeda-beda. Bapak penjual siomay ini ternyata sarjana. Dan memilih menghabiskan hidup yang sederhana di hari tua. Waktu membuatnya bertemu dengan banyak orang dan tidak menghilangkan keramahannya. Tinggal waktu nya pasrah, menasihati yang muda agar selalu berpikir positif dan selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

2. Usia Membuat nya Sederhana dalam Meniti Waktu

Manusia dan Kesederhanaan via https://kingkinkinamu.wordpress.com

Terlihat jelas rasa sakit itu. ketika hujan deras Bapak hanya bernaung di bawah tidak mencoba berteduh. Ketika ditanya, nanti kalau hujan bagaimana Pak? Dengan nafas yang teratur, tanpa beban. Ke Masjid. Setelah itu hujan lebat turun. Bapak tidak pergi ke mana-mana berdiri di samping gerobak di bawah payung. Menikmati anugrah Tuhan; hujan.

Advertisement

Seorang di antara kami membawa payung dan memaksanya berteduh di emper rumah. Ia duduk. Merenung.

Bagi nya sepertinya waktu hanya lah hal yang sama setiap hari, rasa nya dari cara nya berbicara Bapak sudah tidak takut lagi menyongsong hidup sesudah di dunia. Sangat sederhana, dan tidak tergesa-gesa.

3. Usia Membuat Hidup Masa Tua nya Timpang

dok pribadi; langit bermendung via https://kingkinkinamu.wordpress.com

Dibalik ketegaran yang luar biasa, sosok Bapak ini ternyata rapuh karena ditinggal istrinya dahulu menghadap Khalik. Rasa nya ia tinggal menikmati menghirup oksigen. Meski masih juga menjajakan gerobak siomay nya.

4. Usia Membuat nya Mandiri

manusia dan ketabahan via https://kingkinkinamu.wordpress.com

Sejak usia muda Bapak telah menjalani hidup dengan produktif kerja dibidangnya. Tetapi usia telah menyepuhnya pension dini dan ia akhirnya memilih menjadi pengasong siomay di komplek pemerintah daerah Pekanbaru.

Sungguh tak ada alasan usia tua membuatnya menjadi orang yang berpangku tangan.

5. Usia Membuat nya Mengalir

Baginya sekarang hidup adalah seperti air, mengikuti arus saja, meski ia sadar itu tidak bagus jika dilakukan di masa muda. Tapi karena sekarang dia telah berumur, merasa itu tak akan mempengaruhi masa depannya.

Hujan telah reda setelah satu jam. Ia sempatkan membuat teh hangat untuk bekal menuju masjid. Dari beliau manusia bisa bercermin, bagaimana usia menjadikannya tabah dan pasrah dalam kesederhanaan hidup. Saya jadi malu sendiri, ketika usia saya belum terlalu tua masih sering mengeluh ketika diberi kesempatan mengajar dengan berbagai alasan terutama; capek. Ketika saya belum berusia lima puluh tahun saya tertampar sendiri ternyata saya masih kurang bersyukur menerima curahan Rahmat dan Rizky. Di sana, di balik kehidupan ini semua masih banyak orang-orang yang memiliki keterbatasan gerak. Sedang kita yang memiliki indra lengkap dengan semua fungsinya malah menjadi pandir ketika mulai menggunakan pikiran untuk berkata-kata yang kosong, dan tidak lagi menumbuhkan inspirasi. Seperti jalan umur yang sia-sia ketika semua tujuan hidup bisa tercapai tetapi merugikan orang lain. Saya malu dengan cerminan hidup yang demikian.

Bapak siomay Bandung ini merupakan contoh kecil masyarakat yang memiliki pandangan kepasrahan hidup karena benar-benar telah memakan asam-manis kehidupan. Tidak dilebih-lebih kan. Saya heran dengan beberapa oknum yang masih segar bugar dan menjadi pimpinan tetapi saling memicingkan mata dan memandang curiga. Jelas tak ada orang yang akan berkembang di dalamnya, yang ada malah menghanguskan impian.

Meski usia Bapak itu sudah tidak muda lagi, ia ingin mandiri. Sedang sekarang, banyak manusia yang ingin enak-enak saja tanpa bersusah payah. Maaf kawan, hidup ini adalah perjuangan!

Saya berterima kasih telah dipertemukan dengan beberapa orang yang menginspirasi dalam perjalanan saya selama dua tahun terakhir di tanah rantau. Di sini saya bisa mencambuk diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi daripada diri saya dua tahun yang lalu awal di mana semua kisah perantauan dimulai.

Rintik-rintik hujan akhirnya mengantarkan Bapak siomay ke Masjid. Adzan telah berkumandang. Betapa hidup ini seharusnya tentang syukur dan ikhtiar.

Salam hangat, Kingkin.

Credit to:

Erna